VIII. Ketiga Nasehat Injil

Dilihat: 529 kali

Tiga nilai dasar keberadaan manusia

Jika orang memikirkan sedikit isi “ketiga nasehat Injil”. (yang dewasa ini mesti dikaulkan kaum religius) serta merta orang melihat bahwa itu persis menyentuh ketiga nilai dasar keberadaan manusia di dunia dan dalam sejarah. Tiga nilai dasar yang menentukan hidup bermasyarakat pada umumnya, tidak terkecuali masyarakat gerejani, umat Kristen. Dengan kata mahal saya sudah menyebutkan ketiga nilai dasar itu, yaitu: progeni (tersentuh oleh kemurnian), otonomi (tersentuh oleh ketaatan) dan ekonomi (tersentuh oleh kemiskinan). Semua nilai-nilai lain yang layak diusahakan dan dikejar manusia di dunia itu sebenarnya hanya perincian dari ketiga nilai dasar tersebut. Maka seluruh kehidupan kaum religius (mesti) berbeda dan tidak sama dengan gaya hidup orang beriman yang lain entahlah mereka “awam” entahlah mereka “rohaniwan” tok. Janganlah kaum religius (se­perti kadang kala didengar) omong tentang “mesti sama dengan orang-orang beriman lainnya”. Kalau demikian kaum religius kehilangan identitasnya sebagai kaum religius yang secara publik dan tidak tersembunyi menghayati ketiga nasehat injil.

Kemurnian <– progeni

Adapun nasehat (kaul) kemurnian selibater menyentuh nilai “progeni”, nilai yang terletak dalam kemampuan manusia untuk mengabadikan diri dalam keturunan melalui aktivasi seksualitasnya. Sebab dengan kemurnian selibater tersebut kaum religius memutuskan huhungan biologis dengan umat manusia. Orang beriman itu tidak mengabadikan diri melalui ketu­runan. Sebab hubungan manusia pribadi dengan umat manusia terjalin melalui seksualitas. Dua manusia yang jenis kelaminnya berbeda mesti saling melengkapi guna meneruskan keberadaaan mereka dalam umat manusia. Saling melengkapi dan saling memperkaya secara biologis jauh mengakarkan orang dalam umat manusia, meskipun barangkali tidak ada keturunan yang mengabadikan diri mereka. Seksualitas memang mempunyai dua segi tersebut, kolektip dan pribadi, yang tidak sama dan tidak terpisah. Tetapi bagaimana pun juga penghayatan seksualitas selalu mengakibatkan orang semakin terkait pada umat manusia dalam sejarah, di dunia. Injil (Mat 22: 30) menganggap seksualitas sebagai suatu nilai duniawi, sekular.

Dengan meninggalkan penghayatan seksualitasnya kaum religius menanggalkan dari dirinya sebuah nilai dan hak asasi manusia. Dan itu menjadi tanda di dunia bahwa hidup seperti sekarang ini ditempuh dan diteruskan dan diperkaya melalui seksualitas dalam kebersamaan bukan nilai yang tertinggi (Luk 20: 27-40). Dan itu pun mengandung dan mengakibatkan bah­wa hubungan biologis lain pun ditinggalkan dan diputuskan. Secara amat kasar tapi jelas Yesus dalam Injil Luk (14: 26): “Jikalau seorang datang kepadaku dan tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan, bahkan nyawanya sendiri (= eksistensi dalam masyarakat seperti sampai ini diusahakan dan tercapai), ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Artinya: murid yang menjadi senasib de­ngan Yesus dalam hidup-Nya yang ditentukan oleh Kerajaan Allah melulu. Bukan dengan arti umum: menjadi percaya.

Kemurnian menurut nasehat Injil itu tentu saja tidak berarti bahwa orang-menjadi a-seksual. Naluri alamiah yang turut menentukan seluruh kepribadian manusia tidak dimatikan, tetapi hanya diblokir. Maka akibatnya (yang bagi seorang humanis terlalu parah) ialah: Tinggal sebuah kekosong­an, sebuah lobang yang tidak diisi dan tidak dapat diisi dengan sesuatu yang lain, misalnya: Kerajaan Allah atau cintakasih Kristen. Tidak ada kompensasi “rohani” dan orang tidak boleh mengharapkan atau bahkan mencari kompensasi semacam. Ia hanya akan semakin kecewa.

Kemiskinan <– ekonomi

Melalui kemiskinan kaum religius meninggalkan nilai yang terletak dalam “ekonomi”, hak asasi manusia dengan bebas (dalam batas tentunya) memakai (entahlah harus dikatakan “memiliki”) sebagian dari dunia material dan kekayaannya, yang dibutuhkan manusia yang jasmani. Secara demonstratif (di depan umum!) orang memutuskan hubungan pribadi dengan dunia material yang berupa barang ekonomis. Orang tidak lagi mengusahakan nilai-nilai ekonomis demi nilai itu sendiri (yang memang ada dan pantas diusahakan), tidak lagi mengusahakan kemajuan ekonomis pribadinya atau juga dalam kebersamaan demi nilai itu sendiri. Orang puas dengan apa yang perlu (dalam situasi nyata yang tidak selalu dan untuk semua orang dan dimana-mana sama) untuk penghidupan yang wajar dan layak bagi manusia. Dan kita tahu bahwa “ekonomi” menjadi dasar dan sumber pelbagai nilai-nilai manusiawi lain, baik sosial dan politis maupun kultural dan religius. Dan gaya hidup dalam “kemiskinan” itu menjadi tanda di dunia bahwa ekonomi serta kemajuannya bukan nilai tertinggi dan abadi. Boleh dibaca Luk 12: 13-14. 16-21. Yesus tidak merepotkan diri dengan ekonomi dan keadilan ekonomis, oleh karena ekonomi yang maju dan kesejahteraan ekonomis tidak menjamin apa-apa yang sungguh bernilai abadi.

Ketaatan <– otonomi

Dengan ketaatannya kepada sebuah instansi manusiawi, (entahlah bagaimana bentuk instansi itu: berupa abas, bapa keluarga, atau berupa Jenderal militer yang punya kuasa mutlak, atau pun kelompok para saudara), seorang religius secara demonstratif, meninggalkan otonomi relatifnya di dunia dan dengan demikian dasar segala macam kuasa atas manusia lain. Ia meninggalkan hak asasi untuk (dalam batas kemungkinan real) sendiri menentukan dan mengatur hidupnya dan mengusahakan sebuah kedudukan sosial yang memberinya wewenang untuk entah bagimana “mengatur” lain orang, meski demi kepentingan lain orang sekalipun. Maka seorang religius membiarkan orang lain (dalam batas jelas kehendak Allah) menentukan hidupnya, kerjanya, kedudukannya dan sebagainya. Dan cara hidup dalam ketaatan kepada instansi manusiawi menjadi tanda di dunia bahwa semua manusia pada dasarnya memang tidak otonom, sebagaimana menjadi pa­ling jelas di akhir zaman, bila Allah menjadi segala dalam segala. Segalanya ditentukan oleh Allah semata-mata dan itulah yang menjadi keadaan terakhir, definitip, selesai. Bahkan Yesus Kristus kehilangan otonominya seperti dikatakan Paulus 1Kor 15: 28: “Tetapi kalau segalanya sudah ditaklukan dibawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak (=Raja) akan menaklukkan diri dibawah Dia yang telah menaklukkan segalanya dibawah-Nya, agar Allah menjadi segala dalam segala”. Ia “menyerahkan Kerajaan kepada Bapa-Nya” (ay. 24).

Motivasi semua langkah itu: Allah

Dan motif, motivasi semuanya itu ialah Allah, Allah sebagai Raja yang menjadi nilai tertinggi yang memuat dan menyerap segala nilai lain dan yang tercapai melalui kasih bulat yang oleh kaum religius disalurkan melalui ketiga nasehat Injil yang dïkaulkan. Jadi tidak ada suatu motivasi lain yang membenarkangaya hidup religius entah motivasi sosial, atau ekonomis atau religius atau kultural.

Motivasi itulah yang memberi kepada penghayatan nasehat-nasehat injil nilai positipnya, sarana untuk dengan kasih memperlihatkan di dunia nilai tertinggi, Allah yang mengandung segala nilai dan melampaui semua. Tetapi justru karena motivasinya bukan nilai manusiawi, maka segi negatip yang nyatanya ada pada penghayatan nasehat injil itu tidak hilang atau dikurangi. Orang meninggalkan nilai-nilai dasar manusia yang sungguh bernilai dan berharga, nilai yang dapat memperkaya dan menyempurnakan manusia yang menernpuh kehidupannya di dunia ini. Nilai-nilai yang ditinggalkan secara langsung tidak diganti dengan sesuatu yang terletak pada tingkat yang sama. Tentunya nilai-nilai itu diganti dengan nilai lain yang malah jauh melampauinya tetapi terletak pada tingkat lain. Hanya dalam iman saja orang dapat melihat nilai-nilai lain itu. Tetapi sementara itu nilai-nilai duniawi, yang dapat diraba, disentuh, dinikmati dengan seluruh ke­beradaan manusia di dunia, tetap menarik, tetap terbayang didepan orang dan bisa menjadi godaan. Kalau pun orang tidak seluruhnya kalah, dengan mencari bentuk hidup (kristen) lain, namun ia dapat mencari semacam kompromis dan serentak menikmati nilai-nilai duniawi dan nilai ilahi, eskatologis yang hanya dengan iman tercapai. Godaan dan tantangan abadi bagi semua kaum religius. Semakin kuat iman orang dan semakin hangat kasihnya yang mau disalurkan melalui nasehat Injil, samakin orang kiranya berhasil menangkis tantangan dan mengatasi godaan, yang semakin menarik oleh karena tercetus oleh sesuatu yang baik dan bukan oleh sesuatu yang buruk.