VII. Kerangka Dasar : “Ketiga Nasehat Injil”

Dilihat: 565 kali

Pendahuluan

Dewasa ini – dan sudah lama – pola dasar hidup religius pada umumnya digariskan oleh apa yang diistilahkan sebagai “ketiga nasehat Injil”: Kataatan, kemurnian selibater dan kemiskinan. “Nasehat-mashat injil sebagai pola dasar hidup religius, pada umumnya, juga sebuah abstraksi hukum. Sebab juga “ketiga nasehat Injil” itu dapat diwujudkan dengan cara yang sangat berbeda. Dalam profesi yang secara resmi diperteguh oleh umat orang mewjibkan diri melaksanakan keputusan pribadinya yang dasariah melalui jalan umum yang digariskan oleh ketiga nasehat Injil itu. Sudah dikatakan bahwa isi pokok profesi religius ialah diri orang yang secara total mendharma-batikan dirinya kepada Allah semata-mata, Allah yang meraja, menentukan segala sesuatu. Nasehat-nashat Injil bukan isi pokok profesi, namun turut diprofesikan sebagai sarana dasar untuk mewujudkan keputusan pribadi yang terungkap dalam profesi.

Profesi dan kaul

Dewasa ini menurut hukum ketiga nasehat Injil tersebut menjadi “isi ketiga kaul”, yang juga turut diprofesikan sebagai sarana perwujudan profesi religius. Ketiga nasehat Injil itu tidak harus berupa kaul. Lama sekali hidup religius (kerahiban) tidak tahu akan “kaul-kaul” macam itu dan tidak berkata tentang “ketiga nasehat Injil”. Pada abad XIII barulah ketiga nasehat itu secara formal dirumuskan (oleh ahli hukum) dan untuk pertama kalinya tercantum dalam sebuah Anggaran Dasar, yakni anggaran dasar Fransiskus (1221/1223) dan hanya dengan sepintas lalu disebutkan. Orang berkesan bahwa ketiga nasehat injil dicantumkan Fransiskus atas desakan ahli hukum Roma. Fransiskus pun tidak tahu-menahu tentang “kaul”. Kaul tradisional (sekarang) juga baru muncul pada abad XIII dan – boleh disesalkan – pertikaian antara para pengikut Fransikus menghasilkan antara lain bahwa muncul ketiga kaul kebiaraan yang berisikan ketiga nasehat injil. Sampai abad XIII para rahib tentu saja berprofesi, tetapi apa yang mereka profesikan ialah: Keputusan melaksanakan anggaran dasar, Benediktus misalnya. Isi “ketiga nasehat Injil” tentu saja tercantum dalamgayahidup para rahib dan wajib dilaksanakan tetapi tidak dirumuskan apa lagi dikaulkan. Sekali lagi menjadi jelas betapa perlu orang membedakan antara “profesi” dan “kaul”. Dan istilah “pembaharuan kaul” yang kini menjadi lazim sebenarnya menyesatkan. Apa yang dibaharui? ialah profesi seluruhnya. Baiklah kita ingat akan rumus profesi OFM. Disana jelas dibedakan antara “profesi”, yang menyangkut Anggaran Dasar, dan kaul yang berisi: kemurnian, tanpa milik (bukan: kemiskinan!) dan dalam (!) ketaatan.

Lembaga Sekular dan Lembaga Religius

Jadi ketiga nasehat Injil yang kini wajib dikaulkan oleh para religius, hanya merupakan kerangka dasar yang isinya tidak menentu. Sejak selama abad XX lembaga-lembaga sekular (baik awam maupun rohaniwan) mendapat kedudukan resmi delam tata hukum Gereja Roma Katolik Latin, penghayat­an ketiga nasehat Injil oleh kaum religius dipertegas. Lembaga sekular menghayati ketiga nasehat Injil (yang boleh jadi dikaulkan tetapi juga bisa diwajibkan melalui jalan lain) secara tersembunyi. Pada hal kaum religius dengan kaul publik menghayati ketiga nasehat itu secara publik, di depan umum, secara kelihatan sebagai kesaksian. Kalau demikian duduknya perkaranya, orang boleh mempertanyakan praksis sementara religius yang menyembunyikan diri sebagai religius. Mereka sebaik-baiknya pindah ke salah satu lembaga sekular.

Adadalam Perjanjian Baru?

Apa yang lambat laun dalam tradisi dirumuskan sebagai “ketiga nasehat Injil”, tidak ditemukan dalam salah satu ayat atau nas Perjanjian Baru, yang memuat banyak “nasehat” kecuali ketiga nasehat tradisional itu. Ketiga nasehat injil diturunkan, disimpulkan dari seluruh Injil, khususnya seperti dihayati oleh umat perdana di Yerusalem berdasarkan caranya Yesus menghayati Injilnya. Yesus “miskin” (meskipun tidak melarat), oleh karena tidak merepotkan diri dengan nilai-nilai ekonomis, kedudukan sosial dan kuasa politis. Dan Ia berbuat demikian, bukan terpaksa, melainkan dengan sukarela demi Kerajaan yang diberitakan-Nya, kalau pun karena dirinya (sebagai Anak Allah) memang berhak menguasai dunia material pula (bdk Paulus: 2Kor 8: 9). Yesus pun tidak beristeri dan tidak berkeluarga menurut kesaksian Injil, kendati sementara “ahli” yang ingin memberi Yesus seorang isteri beserta sejumlah anak. Yesus seluruhnya taat kepada Bapa tanpa memperhitungkan dirinya sendiri. Dan karena taat kepada Bapa Yesus membiarkan dirinya “diatur” di dunia oleh orang lain (tanpa menjadi “taat” kepada mereka): oleh Maria dan Yusuf, oleh rakyat yang berkerumun, oleh para lawannyaoleh mahkamah agama Yahudi oleh penguasa politisPilatus. Itu menjadi tanda di dunia bahwa Yesus taat kepada Bapa melulu. Instansi manusiawi hanya sebuah sarana untuk memperlihatkan kesetiaan, ketaatan kepada Bapa, rencana dan kehendaknya.

Tanda Kerajaan Allah

Penghayatan ketiga nasehat Injil secara nyata bagi kaum religius menjadi sarana dasar untuk, secara perorangan dan dalam kebersamaan, dengan eksistensinya menjadi tanda Kerajaan Allah sejauh Kerajaan itu menurut inti hekekatnya melampaui dunia dan segala nilai keduniaan dan pada dasarnya hanya oleh Allah dapat dan akan diwujudkan, meskipun manusia boleh jadi turut berperan dalam perwujudan itu. Meskipun sudah memasuki dunia ini, namun Kerajaan Allah sebegai suatu situasi atau keadaan, pada dasarnya ciptaan Allah di dunia lain. Dengan demikian seluruh eksistensi kaum religius (bukan pertama-tama karyanya), yang mendharmabaktikan diri kepada Allah melulu, menjadi tanda nyata dalam rangka dunia sebagaimana adanya dan mengantisipasikan Kerajaan Allah di dunia lain, yang diciptakan Allah bila benar-benair meraja.

Sebab melalui penghayatan ketiga masehat Injil dinyatakan bahwa apa yang paling dasariah dan paling bernilai di dunia ini (ekonomi, progeni, otonomi) belum sama dengan Kerajaan Allah sebagai keadaan manusia yang terakhir yang utuh dan bulat, dimana apa yang bernilai hanyalah Allah sendiri; pada hal ekonomi, otonami dan progeni hilang lenyap untuk selama-lamanya.

Ketiga kaul: abstraksi Hukum Gereja

Sebelum secara terinci merenungkan ketiga nasehat Injil tersebut baiklah kita ingat bahwa ketiga nasehat itu hanya sebuah abstraksi hukum Gereja untuk membedakan golongan-golongan tertentu pada Umat Allah. Ketiga nasehat itu hanya sebuah kerangka umum yang dengan cara berbeda-beda diisi oleh kaum religius yang semua mengikrarkan “kaul publik berisikan ketiga nasehat Injil”. Memang ada sejumlah bapa konsili Vatikan II (uskup Amerika yang ingin meng-komputerkan segala sesuatu) yang mau memukulratakan semua religius yang dibagikan menjadi tiga kelompok: Kontemplatif, klerikal aktip dan awam aktip. Syukurlah Roh Kudus pada waktunya turun untuk menentang para bapa konsili.

Spiritualitas

Bagaimana kerangka umum dan dasariah itu diisi, ditentukan oleh sebuah spiritualitas. Suatu spiritulitas khusus dalam rangka spiritualitas Kristen umum ialah suatu cara khusus untuk melihat Allah dan Yesus Kristus, suatu cara khusus menghayati Injil Yesus Kristus, entah dengan menjadikan salah satu unsur material Injil menjadi pra-dominan dalam hidup kristen entah dengan menjadikan salah satu segi Yesus Kristus dan Injilnya menjadi pra-dominan. Spiritualitas dapat juga ditampung dalam kerangka ketiga nasehat Injil dan menentukan penghayatannya serta memberinya warna khusus. Tetapi spiritualisas tidak terikat pada kerangka itu, seperti jelas sehubungan dan spiritualisas fransiskan yang dihayati oleh Ordo fransiskan sekular tanpa kerangka itu.

Memang ada perbedaan besar kalau orang membaca dan menghayati Injil dengan bertitik tolak Yesus yang dimuliakan, yang dilantik sebagai Raja semesta dunia, bahkan semesta alam yang mesti takluk kepada-Nya (Igna­sius Loyola) atau dengan bertitik tolak Yesus yang tersembunyi sebagai tukang di Nazaret (Charles de Foucauld), atau bertitik tolak Yesus yang tak berdaya bergantung pada salib (Fransiskus) ataupun dengan berpangkal pada Yesus dalam relasinya dengan Bapa (kontemplatip) dan sebagai Imam Besar yang menyelenggarakan ibadat surgawi (kontemplatip-liturgis) atau dengan berpangkal kepada Yesus yang bangkit dan mengutus murid-murid-Nya untuk mebertitakan Injil kepada segala makluk atau pun Yesus, gembala baik yang menjaga dan membela kawanan-Nya (umat ) (Augustinus).

Spiritualitas sebenarnya paling penting dan menentukan penghayatan ketiga nasehat Injil. Fransiskus terpaksa mencantumkan ketiga nasehat itu dalam Anggaran Dasarnya dan pada waktu yang sama Karmelit kiranya juga terpaksa menambah ketiga nasehat Injil. Tetapi sebelumnya, para eremit di gunung Karmel sudah mempunyai spiritualitas yang selanjutnya turut disalurkan melalui ketiga nasehat Injil yang akhirnya wajib dikaulkan.

Maka yang perlu diutamakan justru spiritualitas yang terungkap dalam salah satu dokumen dasar, seperti untuk Ordo-ordo kuno dalam Anggaran dasar dan dalam dokumen serupa bagi kongregasi dan serikat moderen, yang tidak (seperti sekian banyak fransiskanes, dominikanes dan sebagainya) menganut salah satu anggaran dasar kuno, meski dalam revisi moderen sekalipun.