VI. Panggilan Umum dan Panggilan Khusus

Dilihat: 1.310 kali

Semua orang beriman: “Orang Yang Terpanggil”

Dalam Perjanjian Baru semua orang beriman disebut “orang yang terpanggil” (Rm 1: 6-7; lKor 1: 2. 24; Yud l, dll). Apa yang dimaksudkan ialah panggilan dasar yang meliputi semua orang beriman, yaitu panggilan untuk menjadi percaya. Panggilan umum itu, yang mencakup juga menjadi terpilih oleh Allah (bdk Rom 8: 28-30) sudah dilambangkan oleh panggilan dan kepilihan umat Israel dahulu, seperti jelas terungkap dalam lPtr 2: 9: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (bdk. Kel 19: 5-6; Ul 4: 20; 7: 6; 14: 2). Panggilan itu diterima dengan iman dan diratifikasikan, baik oleh orang yang bersangkutan maupun oleh jemaat dalam baptisan. Dan dengan demikian orang secara publik menjadi dikuduskan. Seperti ditegaskan 1Ptr 1: 15-16 dalam rangka wejangan mengenai baptisan: “Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: ‘Kuduslah kamu, sebab Aku kudus’. Maka semua orang beriman disebutkan sebagai “orang kudus” (Rm 1: 7; lKor 1: 2 dll). Berarti mereka menjadi milik khusus Allah peserta dalam kekudusan, sifat khusus dan dasariah Allah.

Jadi semua orang beriman dipanggil untuk mengikuti Yesus Kristus sebagaimana ditampilkan dalam injil-injil. Dialah yang menjadi pola dasar, pengarah dan penggerak semua orang beriman. Semua menghayati dan mewujudkan iman yang sama terjiwai oleh kasih yang sama. Semua mencoba hidup menurut Injil, Injil yang mempribadi dalam Yesus Kristus. Semuanya itu sudah direnungkan sedikit.

Tiga model atau pola dasar mengikuti Yesus dan Injil-Nya

Tetapi ada implikasinya yang perlu diingat terus oleh karena bertendensi dilupakan. Apa yang dihayati sama untuk semua. Demikian pun tujuannya, yaitu kesepurnaan kasih yang sama untuk semua. Tetapi sudah dikatakan juga, caranya tidaklah sama untuk semua. Sudah dilihat bahwa pada dasarnya tersedia tiga model atau pola dasar. Sebab Yesus dan Injil, sebagai peng­antara dan jalan kesempurnaan terlalu majemuk.

Kalau tersedia berbagai kemungkinan, yang pada dasarnya senilai dan seharga untuk menjadi Kristen, pengikut Yesus dan menghayati Injil-Nya, maka orang beriman boleh dan bahkan harus memilih kemungkinan mana mau diwujudkan: Sebagai awam, petugas paripurna Gereja atau dalam rangka hidup bakti (berbentuk hidup religius, eremit, virgo publik). Orang mesti memilih oleh karena tidak dapat mewujudkan ketiga-tiganya serentak. Memang menjadi masalah khusus bagaimana orang dapat serentak menjadi pejabat paripurna Gereja, (yang mengimplikasikan suatugayahidup “sekular-religius”) dan religius (dengangayahidup religius-eskatolo­gis). Kombinasi itu rasa-rasanya semacam hibride, bastard, yang tidak seluruhnya sehat. Tapi, masalah itu kini dibiarkan saja terbuka.

Pilihan Panggilan: suatu yang serius

Masalahnya: Bagimana orang sampai secara bertangung jawab sebagai orang kristen memilih antara ketiga kemungkinan (dengan varian-varian­nya) yang ditawarkan. Injil sendiri tidak mementukan apa-apa, panggilan menjadi orang percaya dan baptisan serta pengudusan dasar tidak mengatakan apa-apa. Kasih (yang mestinya menjiwai semua orang kristen) tidak menentukan apa-apa. Jadi bagaimana orang sampai memilih?

Orang sudah biasa berkata tentang “panggilan” dan apa yang biasanya dimaksud ialah: Panggilan menjadi rohaniwan atau religius. Jarang orang berkata atau bahkan menjadari bahwa juga ada panggilan khusus untuk menjadi “awam”. Orang mesti menanyakan apa itu “panggilan” khusus yang menempatkan orang di jalan kepsempurnaan kristen tertentu. Sekitar “panggilan” (untuk menjadi imam, religius) sudah berkembang semacam mistisisme yang menjadikannya suatu keajaiban; turun tangan Allah yang dialami sebagai turun tangan Allah. Rasanya ada semacam “bisikan batin­iah” sebuah “wahyu atau wangsit” yang diturunkan Allah, misalnya dalam mimpi. Mesti dikatakan tidak sedikit pemuda/pemudi berkhayal-khayal secara demikian tentang “panggilan”, hasil pewartaan dan katekese yang memupuk mistisisme macam itu.

Panggilan itu sebenarnya tidak lain dari kehendak Allah. Dalam seluruh hidupnya orang mesti sebisa-bisanya menuruti kehendak Allah. Apa lagi dalam hal yang begitu penting seperti memilih salah satu cara untuk mengikuti Yesus dan menghayati Injil. Allah memang mesti mengatur dan membimbing orang dalam hidupnya. Masalahnya (dalam rangka apa yang diistilahkan “panggilan”) ialah: “Mana kehendak Allah mengenai saya?” “Mana – menurut Allah – cara paling baik untuk saya dalam menghayati iman kristen saya, Injil Yesus Kristus?” Apa yang paling baik bagi saya (dalam keseluruhan) tentu saja dikehendaki oleh Allah juga.

Maka soalnya: Bagaimana mengenal kehendak Allah mengenai saya, bagaimana memastikan “panggilan saya”. Memang tidak mau disangkal bah­wa adalah mungkin kejadian atau pengalaman kurang biasa meyakinkan orang tentang “panggilannya” dalam hal mewujudkan kekristenannya. Kita ingat akan ceritera Kitab Suci (entah sejauh mana benar-benar “laporan”) mengenai “panggilan” Musa, Yesaya, Yeremia, Samuel dan terutamna Paulus (yang dalam Gal 1 memang menyajikan semacam laporan mengenai panggilannya menjadi Kristen dan rasul). Tetapi yang luar biasa jangan dijadikan “biasa”. Ingat saja bagaimana Fransiskus beberapa tahun mesti bergumul untuk sampai mendapat kepastian tentang panggilannya, disertai banyak tekanan batin, keraguan dan coba-coba dahulu. Peristiwa yang menimpa dirinya (sakit, tidak berhasil mewujudkan cita-citanya; berjumpa dengan orang kusta), sifat dan kepribadianya turut menentukan pilihan Fransiskus yang diartikannya sebagai “kehendak” Allah, bahkan “wahyu” Tuhan. Tetapi semuanya bukan pengalaman gaib, melainkan tafsiran oleh Fransiskus sendiri. Mimpi dan penglihatan yang menyertai pergumulan Fransikus oleh seorang psikolog mudah dimengerti sebagai sebuah proyeksi dari kebatinan Fransiskus sendiri, bukan turun tangan ajaib dari pihak Allah.

Caranya orang mesti memastikan panggilan khususnya biasanya amat manusiawi. Orang sendiri sebagai orang percaya dan dengan sikap terbuka dan siap sedia mesti mencari-cari. Panggilan tidak secara mendadak muncul, tetapi biasanya hasil sebuah proses perkembangan yang kurang lebih lama berlangsung. Proses pematangan semacam itu digambarkan dalam injil Yoh (1: 35-51): Panggilan pengikut-pengikut pertama Yesus, lain sekali dari ceritera-ceritera dalam ketiga Injil lain.Ada macam-macam hal “manusiawi’ yang turut berperan: Situasi orang, bakat, sifat-sifat, pertemuan dengan orang lain. Muncul semacam keinginan samar-samar: Barangkali saya juga menjadi religius/imam? Orang mulai timbang-menimbang, memeriksa mana implikasi dari menjadi religius itu atau ini, imam disana atau di sini.

Setelah orang secukupnya tahu tentang apa itu hidup religius (Yesuit, Fransiskan, Kapusin, SVD dan sebagainya) orang mesti bertanya: Benar-benar mau itu? Dan karena apa mau itu? Ini menjadi soal motivasi dan barang kali paling sulit memastikan mana proses motivasi orang, apa yang mendorongnya. Sebab hidup religius dan sebagainya seharusnya dipilih demi nilainya sendiri dan tidak boleh difungsionalkan untuk sesuatu yang lain: Maju secara ekonomis dan sosial? Menjamin masa depan? Untuk menjadi “suci”, melarikan diri dari kesusahan hidup biasa? Takut untuk menggumuli hidup dalam dunia ramai yang serba kasar dan bengis? Karena patah hati, frustrasi dan sebagainya? Biasanya memang motivasi semacam campuran pada awalnya. Lalu bagaimana membersihkannya dari unsur yang tidak memadai? Setelah motivasi dipastikan secukupnya, belum juga perkara selesai. Masih tinggal apakah orang memenuhi syarat, benar-benar mampu memenuhi tuntutan dasar hidup religius itu atau ini, tidak ada halangan dan sebagainya. Dan oleh karena menurut hukum Gereja orang mesti bergabung dengan sebuah lembaga religius, tinggal soal apakah diterima atau tidak. Itu bersama-sama menyatakan kehendak Allah, menyingkapkan panggilan orang.

Maka perkara panggilan suatu perkara serius yang tidak dengan gampang saja dapat ditangani.Adabahaya bahwa orang memilih hidup religius, pada hal tidak “dipanggil” dan kalau begitu tidak terjamin bahwa hidupnya sebagai orang beriman akan berhasil baik. Mungkin pula orang dipanggil tetapi tidak tersedia menurutinya oleh karena implikasinya dianggap terlalu berat dan orang tidak tersedia menerimanya.

Panggilan jangan dijadikan mistifikasi, tetapi hendaknya ditangani secara serius sebagai orang beriman. Sebab orang yang benar-benar beriman mau juga dalam perwujudan imannya mengikuti kehendak Allah, ialah Kerajaan Surga.