V. Tiga Pola Dasar Hidup Injili

Dilihat: 339 kali

Yesus mewujudkan Kerajaan Allah di dunia

Yesus Kristus menjadi model bagi semua pengikutnya, semua orang beriman Kristen. Selagi hidup di dunia Yesus seutuh-utuhnya dijiwai dan ditentukan oleh Kerajaan Allah, seperti sudah direnungkan sedikit. Yesus Kristus mewujudkan semua segi Kerajaan Allah sekaligus. Kerajaan Allah di satu pihak sudah ada di dunia, dalam sejarah, di lain pihak masih masa mendatang, waktu seluruhnya menjadi terwujud dan sudah terwujud dalam Yesus Kristus (yang bangkit). Selagi hidup di dunia Yesus mewujudkan Kerajaan Allah yang sudah ada dari semua seginya. Melalui diri-Nya serta hidup Yesus, Kerajaan sudah masuk dan menguasai dunia manusia. Keberadaan Yesus selagi hidup mewujudkan awal keseluruhan Kerajaan Allah yang akan menyusul. Parapengikut Yesus Kristus pun (dapat dan wajib) mewujudkan Kerajaan itu di dunia, tetapi hanya sebagai awal keseluruhan yang bagi mereka pun menyusul dan yang sudah menjadi nyata dalam Yesus. Suratkepada orang Ibrani menjelaskan halnya sebagai berikut: “Pengharapan (orang beriman) itu adalah sauh kuat dan aman bagi jiwa (= jati diri manusia) yang telah dilabuhkan di belakang tabir (Tempat Kudus surgawi), dimana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita ketika Ia menurut peraturan Melkisedek menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya” (Ibr 6: 19-20).

Para pengikut Yesus

Parapengikut Yesus, termasuk mereka yang sudah bergabung dengan Yesus di dunia lain, bersama-sama mewujudkan Kerajaan Allah di segala dimensinya. Tetapi dalam mewujudkan Kerajaan Allah dalam bentuk sementara di dunia ini ada pembagian tugas antara para pengikut Yesus, seperti ditegaskan dalam Ef 4: 11-16; lKor 12: , 20-28.

Jaman Yesus

Menurut Injil (Luk 6: 17; 8: 1-3; 10: 38) Yesus selagi hidup mempunyai tiga macam pengikut, laki-laki dan perempuan. Ada yang percaya kepadanya, tetapi tetap tinggal di rumah dalam situasinya sendiri. Contoh ekstrim ialah Zakheus, kepala pemungut cukai, yang bertobat tetapi tidak meninggalkan kerjanya, hanya menanganinya secara lain (Luk 19: 1 dst). Ada juga yang secara harafiah “mengikuti Yesus”, menyesuaikan hidup konkretnya dengan cara Hidup Yesus, menjadi senasib dengan Dia (Luk 9: 57-60; 14: 25-27). Tuntutan-tuntutan terhadap orang-orang itu radikal sekali: Memutuskan hubungan dengan seluruh hidupnya dahulu: Keluarga, famili, kampung-halaman, mata pencarian, jaminan sosio-ekonomis. Akhirnya juga ada yang menjadi semacam “pembantu” pribadi Yesus (Mk 3: 13; Luk 10: 1) yang dapat diutusnya untuk memberitakan Injil Kerajaan dan pertobatan, baik waktu Yesus masih hidup maupun sesudahnya (Mat 281: 1, 9-20 dsj). Dan lagi diantara murid-murid itu masih terbentuk kelompok khusus “Keduabelas” yang nyatanya tidak semua menjadi “rasul” dengan arti: Utusan untuk memberitakan Injil. Kelompok itu tidak ada lanjutannya.

Jemaat Perdana

Dan begitulah selanjutnya pada umat Kristen. Jemaat perdana di Yerusalem, bahkan sebelum Yesus naik ke surga, terdiri atas beberapa lapis menurut Kis 1: 12-15: keduabelas yang diberi gelar “rasul”, ada sejumlah perempuan, termasuk ibu Yesus, dan ada saudara-saudara Yesus serta lain-lain orang. Jumlahnya kira-kira seratus duapuluh. Begitu pula dalam 1Tim 2: 8 dst; 5: 1-3; 6: 1. 17; Tit 2: 1 jemaat terbentuk oleh beberapa golongan yang jelas tidak semua sama kedudukan dan peranannya. Mereka semua mengikuti Yesus Kristus, sehingga dalam Kis mereka semua disebut “murid” Yesus. Yesus Kristuslah pola hidup mereka bersama. Tetapi dengan cara yang berbeda. Ada yang tetap tinggal pada tempatnya dalam masyarakat, sebagai bapak-ibu keluarga, budak dan majikan, kaya atau miskin: katakan saja awam. Ada juga yang memegang peranan khusus dalam jemaat untuk membina sesama umat beriman, gelarnya “episkopos”, “presbyteros”, “diakonos”. Dan ada yang boleh disebut “janda profesional”, entahlah mereka pernah kawin tetapi suaminya meninggal atau menceraikan mereka entahlah mereka tidak pernah kawin, sehingga sebenarnya “perawan”. Janda profesional itu menangani macam-macam karya amal kasih bagi jemaat maupun bagi orang luar. Adapun mereka yang boleh disebut “awam” itu sebagai pengikut Yesus tentu saja ditentukan oleh Kerajaan Allah, Allah sebagai penentu dasar hidupnya, tetapi dalam situasi nyata di “dunia”, dalam masyarakat yang memang bukan masyarakat Kristen. Dengan demikian mereka memperlihatkan Kerajaan Allah itu di dunia dalam bentuk sementaranya, sehingga benar-benar masuk kedalam dunia (dan tidak hanya dalam jemaat Kristen sebagai jemaat Kristen). Nilai-nilai “keduniaan” (ekonomis, sosial, politis, kebudayaan dan sebagainya) secara tak langsung diikutsertakan dalam Kerajaan Allah, meskipun tetap “duniawi”, sekular dan dengan arti itu “profan”. Adapun para petugas jemaat, petugas paripurna, mereka secara ekplisit dalam seluruh eksistensinya yang ditentukan oleh tugasnya, memperlihatkan ciri Kristen seluruh jemaat. Sedangkan para janda profesional dalam dunia ini memperlihatkan Kerajaan Allah, Kerajaan Kasih. Sebab mereka tidak melibatkan diri dalam urusan ekonomis dan sebagainya demi nilai ekonomis dan seterusnya, melainkan hanya sebagai sarana untuk memberi wujud nyata kepada kasih.

Tiga model mengikuti Yesus

Dengan demikian kiranya sudah jelas bahwa Perjanjian Baru, umat kristen pertama, Injil Yesus Kristus menawarkan tiga model, tiga pola, tiga kemungkinan untuk mewujudkan kekristenannya. Dan ketiga model sepanjang sejarah nyatanya dapat mempertahankah diri. Dalam pedekatan Perjanjian Baru ketiga model itu sebagai bentuk kekristenan senilai seharga dan sama perlunya agar Injil menjadi terwujud dalam segala dimensinya. Tentu saja sepanjang sejarah penilaian praktis tidak selalu seimbang. Lama sekali ada praksis (dan teori) bahwa para petugas jemaat dan para “janda profesional” sebenarnya secara moral dan secara kristen lebih baik dan para awam kelas kedua atau ketiga. Syukurlah bahwa Konsili Vatikan II akhirnya menemukan kembali keseimbangan.

Pada umat Kristen tetap ada “awam” ialah mereka yang melibatkan diri dalam urusan dunia, mengusahakan sebagai orang beriman nilai-nilai sekular demi nilai sekular itu sendiri dan bukan misalnya untuk diabdikan kepada nilai-nilai religius. Dengan demikian mereka memberi wujud sekular kepada Kerajaan Allah. Pola dasar “awami” itu mengizinkan bermacam-macam varian, dari membina keluarga kristen sampai dengan “hidup bakti” dalam lembaga sekular (yang tetap awami; jangan dijadikan “religius”). Ada petugas paripurna jemaat, uskup, imam, diakon, katekis profesional dan sebagainya, yang cara hidupnya ditentukan oleh tugasnya, yaitu membina iman jemaat, mengusahakan nilai-nilai religius, yang juga nilai-nilai sekular. Dalam gaya hidup para petugas itu Kerajaan Allah lebih jelas tampil di dunia dan berwujud dunia, yaitu dunia religius Kristen. Gaya hidup itu pun mengizinkan macam-macam varian. Dan akhirnya tetap tinggal “janda profesional”, mereka yang tidak melibatkan diri dalam nilai-nilai sekular demi nilai-nilai sekular, entah profan entah religius. Dengangaya hidupnya mereka justru menekankan bahwa Kerajaan Allah akhirnya melampaui segala nilai duniawi.Gaya hidup mereka secara eksklusip (sepertigaya hidup Yesus di dunia) ditentukan oleh Kerajaan Allah semata-mata dan tidak turut ditentukan oleh nilai-nilai lain, yang dilampaui oleh nilai tertinggi Allah yang meraja.Gaya hidup itu pun mengizinkan pelbagai varian.

Gayahidup dan kelompok terakhir, “janda profesional” itu kini terwujud dalam hidup bakti kaum religius (bukan dalam hidup bakti serikat rasuli atau lembaga sekular).Para “pertapa” resmi, “continentes” dan “virgines” pu­blik tentu saja juga termasuk kedalam kelompok itu.

Tiga Pola Dasar Hidup Bakti (Religius)

Nanti barangkali ada kesempatan untuk lebih lanjut menguraikan varian hidup bakti (religius) tersebut. Untuk sementara waktu cukup ditunjuk varian dasar hidup bakti tersebut. Sebab varian dasar masih mengizinkan pelbagai varian lagi.

Pada dasarnya ada tiga pola dasar atau model hidup religius, yaitu:

  1. Mereka yang secara publik dalam Gereja meneruskan jemaat perdana seperti yang digambarkan dalam Kis 2: 41 dst; 4: 32 dst. Yaitu model para rahib/rubiah, senobit atau monastik. Kekristenan Timur hanya mengenal model itu di samping “pertapa, continentes, virgines”; pun pula “canonici” regulares.
  2. Model yang boleh disebutkan model Paulus, yang berkeliling untuk memberitakan Injil kemana-mana, terdukung oleh bentuk hidup Kristen yang tertuju kepada Kerajaan Allah di akhir zaman (Paulus memang selibater, tidak berusaha memajukan ekonomi atau kebudayaan Yahudi-Yunani). Itulah model yang dianut para tarekat religius klerikal (bukan “serikat rasuli”, yang bukan religius).
  3.  Akhirnya ada model “awami” yang seperti Yesus berkeliling untuk berbuat baik, menyembuhkan orang sakit, melawan roh-roh jahat (kejahatan dalam masyarakat) dan sebagainya. Tetapi selalu demi Kerajaan Allah di akhir zaman (dimana tidak ada penyakit dan sebagainya), terintegrasi kedalam seluruh hidupnya yang hanya ditentukan oleh Kerajaan Allah nanti itu.
  4. Masih tersedia model lain, model Fransiskus yang tidak sesuai dengan ketiga model tersebut, meskipun meminjam pelbagai unsur dari model itu. Yaitu model Yesus (bukan Paulus) serta rombongan murid-murid-Nya, nabi-nabi bekeliling yang meneruskangaya hidup Yesus serta rombongan-Nya itu dan dengangaya hidup religiusnya mewartakan Injil Kerajaan dan Pertobatan yang datang, terdukung oleh firman yang disampaikan. Berdekatan dengan model itu ialah model Karmelit: Nabi Elia yang setelah berjumpa dengan Allah di gunung Horeb dan Karmel dengan semangat berapi-api memberitakan akhir zaman.