IX. Pertobatan Yang Kedua

Dilihat: 269 kali

Contoh dan artinya

Adalaporan pribadi mistika besar dan tertkenal, yakni S. Teresiadari Avilla. Lama sekali (k.l. 10 th) Teresia menjadi suster (karmelites) seperti sekian banyak suster lain di biaranya. Ia bukan seorang suster baik dan bukan seorang suster jahat. Dengan masuk biara sebenarnya tidak berubah apa-apa. Teresia tetap Kristen-katolik dan seorang religius sedang-sedang saja. Seorang putri biarawati yang mencari keamanan dan perlidungan di biara, seperti sekian banyak putri dari kalangan terkemuka yang dianggap tidak perlu dikawinkan. Tetapi sesudah sekian tahun terjadi sesuatu yang oleh Teresia diartikan sebagai turun tangan Tuhan yang mentobatkan dirinya. Karunia Tuhan itu secara radikal mengubah Teresia, yang menjadi awal dan pendiri Carmelyang dibaharui. Apa yang dialami Teresia ialah “pertobatan kedua” yang mesti terjadi pada setiap orang yang secara serius mau menjadi religius. Pertobatan kedua itu terjadi pada orang Kristen yang sebenarnya sudah “bertobat”, pertobatan dasar (seperti menjadi terungkap dalam baptisan) yang secara dasariah mengarahkan kehidupan orang kepada Tuhan seperti menyatukan diri dalam Kristus Yesus. Tetapi menurut keyakinan orang yang bersangkutan, mereka kurang konsekwen dalam pelaksanaan, penghayatan imannya yang dangkal; hidupnya dinilai buruk, sedang-sedang, biasa saja. Salah satu pengalaman membuat mereka menjadi insaf akan keadaannya itu yang dirasakan tidak sesuai dengan kehendak Allah tentang mereka, sehingga keadaannya itu menjadi membahayakan mereka. Tidak usah bahwa hidup kristennya sungguh-sungguh salah dan bagi lain orang barangkali sudah cukup, bahkan sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi bagi orang yang bersangkutan dirasakan tidak memadai, bahwa mesti berubah sesuatu dalam hidupnya sebagai orang beriman.

Alasan pemicu pertobatan kedua

Alasan pertobatan itu adalah bermacam-macam. Misalnya sebuah celaka yang menimpa orang atau salah satu musibah. Kita tahu misalnya bahwa penyakit yang menimpa Fransiskus membuatnya insaf akan situasinya yang dialaminya sebagai tidak sesuai. Fransiskus bukan seorang “berdosa” seperti Augustinus, ia seorang pemuda katolik di Asisi, seperti sekian banyak pemuda lain. Tetapi ia dijadikan insaf betapa dangkal hidupnya sampai kini. Sebuah contoh lain dari tradisi Fransiskan ialah pop-singer Yakopone da Todi. Isterinya secara mendadak meninggal akibat sebuah celaka. Waktu pakaian isterinya dibuka Yakopone melihat bahwa ia mengenakan baju pertapaan. Pengalamannya itu membuat dia mematiragakan dirinya. Lalu Jakopone bertobat dan akhirnya masuk fransiskan, aliran keras, menjadi mistikus yang kurang biasa dengan bakat seni yang mencolok. Demikian pun Margareta da Cortona, yang kumpul kebo dengan kekasihnya. Ia menjadi terbunuh (kebetulan waku dengan teman-teman berburu), dan musibah itu membuat Margareta insaf dan bertobat. Dan masih ada sekian banyak contoh lain yang dapat dikutip.

Perubahan radikal: penataan ulang

Hanya perlu diketahui bahwa pertobatan kedua semacam itu tidak usah menjadi secara mendadak dan dikarenakan salah satu pengalaman hebat. Pertobatan kedua dapat juga sebuah proses yang lambat-laun berkembang dan menjadi matang. Apa yang dalam kalangan karismatik (terpengaruh oleh pentakostalis) diusahakan dan disebut sebagai “baptisan dalam Roh Kudus”, pada pokoknya tidak lain dari pada “pertobatan kedua”. Hanya di kalang­an karismatik pertobatan kedua itu tidak jarang dipaksakan dan menjadi sangat emosional. Akibatnya ialah: ”Pertobatan kedua” itu sebenarnya bukan perubahan mandasar, tetapi dangkal dan hanya sementara, bahkan boleh jadi pura-pura dan penipuan belaka. Biasanya pertobatan kedua sebuah proses yang makan cukup banyak waktu dan yang menyakiti orang. Oleh karena pertobatan kedua selalu berarti bahwa orang mesti melepaskan cukup banyak hal yang disenangi, dihargai dan dijunjung tinggi. Seluruh kehidupan mesti ditata kembali, direkonstruksi dan diarahkan secara lain dari pada yang sudah kurang lebih berkarat dan berakar dalam diri orang sendiri.

Pertobatan kedua secara mendasar mengubah diri orang, visi dan penilaiannya. Orang menjadi lebih konsekwen dan lebih radikal dalam hidupnya sebagai orang beriman, tidak tahu menahu tentang tawar-menawar terhadap apa yang dirasakan sebagai tuntutan Tuhan. Orang ingin menghayati iman kepercayaannya sesuai dengan apa yang dilihat sebagai kehendak Allah bagi dirinya (bukan bagi orang lain!).

Tingkat dan intensitas pertobatan kedua itu dapat bermacam-macam, kurang atau lebih mendalam dan radikal. Banyak orang sebenarnya pernah mengalaminya. Seringkali orang secara mendadak atau lambat laun menjadi insaf bahwa perlu ia mengubah cara hidupnya, memperbaiki dirinya sebagai orang beriman. Kalau ilham itu dituruti, maka proses pertobatan sudah dimulai.

Terjadi pada semua orang Kristen yang masuk biara

Sebenarnya setiap orang Kristen yang memilih jalur hidup religius sebagai bentuk kekristenan yang paling baik bagi dirinya (sehingga juga dikehendaki oleh Tuhan), mesti menempuh pertobatan kedua. Boleh jadi, bahkan biasanya terjadi demikian: Ia seorang kristen katolik yang cukup baik, rajin, saleh dan bersemangat. Sebagai awam ia barangkali boleh dikatakan benar-benar seorang awam Kristen-katolik yang memadai panggilan seorang awam. Tetapi bentuk hidup awami Kristen tidak sesuai dengan bentuk hidup sebagai religius. Secara legitim seorang awam tidak hanya boleh, tetapi malah harus melibatkan diri dalam urusan dunia, mengejar macam-macam nilai sekular. Tetapi gayahidup kristen itu tidak dapat diteruskan jika ia merasa dirinya “dipanggil” untuk memilih bentuk hidup religius sebagai wujud kekristenan pribadinya. Seluruh hidupnya mesti ditata kembali, tata nilainya mesti berubah. Nilai sekular, entah material, spiritual atau religius, tidak lagi dapat diusahakan demi dirinya sendiri. Ia mesti bertobat bukan dari dosa, bukan dari hidup kristen dangkal, tetapi ia mesti berubah membelokkan jalan hidupnya, memberi arah baru kepadanya.

Novisiat: masa pertobatan kedua

Baiklah kita menyadari bahwa lembaga yang disebut “novisiat” sebenarnya dimaksudkan sebagai suatu sarana untuk mempercepat proses pertobatan yang mesti dilalui seorang religius. Hidup kristennya seperti sampai ini ditempuh mesti berubah. Penilaian mesti ditata kembali, mesti ditentukan prioritas lain dari pada dahulu. Itulah sebabnya mengapa di masa novisiat ada suatu tata tertib khusus, orang k.l. mengundurkan diri, dikurung dalam “pertapaan”. Memang ada yang yang menilai “novisiat” yang dikatakan “gaya lama” sebagai sesuatu yang tidak sesuai lagi. Namun baiklah dipikirkan dahulu apa yang mau dicapai dengan novisiat, yaitu seuatu pertobatan kedua, yang dipermudah bila ada suasana khusus yang memusatkan diri orang pada dirinya, pada hidupnya sampai kini dengan maksud meng­arahkannya kembali. Tidak dapat tidak proses pertobatan, yang mau dipercepat dan dibantu selama novisiat, kalau sungguh-sugguh diusahakan, mengakibatkan tekanan batin bermacam-macam, kesulitan-kesulitan yang sebenarnya sepele saja, tetapi yang dalam situasi itu dialami sebagai berat sekali. Tekanan dan ketegangan, juga dengan lingkungan dan teman-te­man. Orang terombang-ambing antara: mau terus atau mau kembali; ragu-ragu apakah itu sungguh-sugguh jalan hidup yang mau dipilih atau tidak. Nilai-nilai yang dahulu menarik dan mengikat orang, tetap menarik dan mengikat dan agak sulit melepaskannya untuk nilai-nilai yang belum begitu real dan nyata dialami.

Nyatanya dewasa ini, (dan sudah lama) untuk banyak orang masa novisiat, entah satu entah dua tahun, belum juga menghasilkan pertobatan kedua yang perlu dan dimaksudkan. Karena itu sudah lama hukum kanonik menentukan bahwa habis novisiat belum boleh ada ikatan definitip, semuanya “sementara”. Boleh dipertanyakan apakah aturan itu seluruhnya bijaksana. Sebab akibatnya: Keraguan, keadaan terombang-ambing masih diteruskan selama sekian tahun dan oleh karena perhatian sudah diarahkan kepada hal-hal lain, boleh jadi bahwa pertobatan yang perlu dan dimaksudkan sebenarnya tidak pernah terjadi. Akhirnya orang tidak memilih bentuk hidup Kristen khusus, yaitu hidup religius, tetapi sedikit banyak meneruskan hidupnya sebagai “awam” yang berjubah, dengan visi, penilaian, perhatian dan minat yang sesuai dengan awam, tetapi tidak sesuai dengan seorang religius.

Fransiskus: “melakukan pertobatan”

Baiklah kita ingat bahwa Fransiskus menyebut cara hidup dirinya dan para pengikutnya sebagai “melakukan pertobatan”. Maka bagi para pengikutnya menjadi sangat penting bahwa pada awal, pertobatan ke dua terjadi secara mendalam dan real. Hidup selanjutnya hanya melanjutkan, memperdalam pertobatan awali, menghasilkan “buah pertobatan” yang semakin matang. Karena itu kita boleh saja bertanya kepada diri kita: Bagaimana novisiat yang sekian tahun yang lampu saya tempuh, berhasil? Adakah saya benar-benar bertobat, mengubah haluan hidup saya, tata-nilai, minat dan perhatian?