IV. Yesus Kristus – Pola Hidup Injili

Dilihat: 410 kali

Terobsesi oleh Yesus Kristus

S. Paulus menulis kepada jemaat di Filipi antara lain sebagai berikut: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus… Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu… supaya aku memperoleh Kristus… Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitannya dan persekutuan dalam penderitaannya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku a­khirnya beroleh kebangkitan dari antara otang mati” (Flp 3:7.8b.10-11). Jelaslah bagaimana diri Yesus Kristus menjadi semacam “obsesi” bagi Paulus yang mengubah dan menentukan segala sesuatu. Dan pendekatan itu tidak dinilai sebagai perkara pribadi Paulus atau seorang rasul, tetapi dianggap sebagai sesuatu yang (seharusnya) ada pada semua orang Kristen. Sebab Paulus meneruskan: “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (ib. 3:17).

Dengan demikian jelaslah bahwa – menurutS. Paulusdan boleh dikatakan seluruh Perjanjian Baru – Yesus Kristus (tidak dikatakan: Yesus!) tidak hanya menjadi sasaran iman-kepercayaan Kristen, tetapi juga “model” (typos) orang percaya semua, suatu pola hidup. Model/pola bukan “teladan”, “contoh” yang perlu ditiru, dijiplak. Maksudnya: Yesus Kristus secara menyeluruh menjadi pedoman, pengarah, pegangan yang terus perlu diperhatikan untuk menempuh jalan hidupnya sendiri, bukan jalan hidup Yesus Kristus. “Model” itu berarti: garis dasar, struktur dasariah keberadaan Yesus Kristus, mestinya menjadi struktur dasar, garis-garis inti kehidupan orang percaya. Paulus dalam kitipan tersebut menyebut sebagai struktur dasar itu ialah: persekutuan dalam penderitaan, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian dan menjadi peserta dalam kebangkitan-Nya. Dan motivasi semuanya itu ialah: Diri Yesus Kristus sendiri, berada dalam Dia.

Kesamaan eksistensial dan perbedaan individual

Jadi antara orang percaya dan Yesus Kristus ada suatu kesamaan eksistensial dasariah sedangkan perbedaan individual tetaplah ada. Orang beriman, diri orang, bukan diri Yesus Kristus dan keberadaannya, tidak sama dengan seluruh keberadaan Yesus Kristus (historis dan pascahistoris). Situasi yang berbeda menentukan caranya pola dasar yang sama menjadi terwujud.

Boleh dikatakan pula – dengan mendekati halnya dari segi lain sendikit lebih aktif, dinamis – orang percaya dalam eksistensinya (sejauh dibawah kuasannya sendiri) dipimpin oleh prinsip yang juga memimpin Yesus Kristus selagi hidup di dunia. Jadi halnya bukan: mengulang apa yang dibuat Yesus, melainkan berpegang pada prinsip yang sama dalam situasi yang berbeda. Bapa kita Fransiskus kadang kala tampak sebagai semacam “fundamentalis” yang secara harafiah mau “meniru”, “menjiplak” Yesus, seperti tampil dalam kitab Injil. Tetapi Fransiskus pun menyadari bahwa “huruf” memang mematikan dan roh yang menghidupkan. Dari itu dapat dijelaskan misalnya bahwa kemiskinan Fransiskus (secara ekonomis) jauh melebihi kemiskinan Yesus; askese Fransikus tidak ada contohnya dalam kehidupan Yesus dan sebagainya. dan sebagainya.

Manusia menjadi setia pada Allah: Yesus à orang percaya

Yesus sebagai pola hidup orang beriman, sebagai “model” boleh dirumuskan sebagai berikut: Dalam Yesus menjadi nyata bagaimana Allah menjadi setia pada diri-Nya dan manusia sampai dan kendati ditolak. Begitulah orang percaya mesti menjadi setia pada dirinya sebagai orang percaya dan kepada Allah serta manusia, meskipun ditolak.

Dalam Yesus menjadi nyata bagaimana manusia (dapat) menjadi setia/taat kepada Allah sampai jatuh “binasa”.

Dalam Yesus menjadi nyata bagaimana kesetiaan timbal balik antara Allah dan manusia mengubah manusia, memberi suatu keberadaan baru.

Memang Yesus dalam hidup-Nya di dunia dijiwai, dikuasai oleh Kerajaan Allah yang Ia beritakan, Allah menjadi satu-satunya penentu hidup-Nya, peri-laku-Nya, perasaan dan doa-Nya. Seperti Yesus Kristus menjadi suatu “obsesi” bagi Paulus, demikian Allah yang meraja demi keselamatan manusia, menjadi suatu “obsesi” bagi Yesus. Yesus melihat dan menghayati segala sesuatu dari sudut Allah melulu, Allah yang mau menciptakan kembali, berhak mengatur dan mau mengatur segala-galanya. Kelakuan, pikiran, keinginan, perasaan Yesus ditentukan oleh Allah yang meraja, Kerajaan Allah. Semuanya itu tidak terjadi tanpa resistensi. Resistensi dari luar membawa Yesus ke Salib. Tetapi juga ada resistensi dari dalam, sebagaimana menjadi terungkap dalan ceritera (Luk 4:1-13; Mat 4:1-11) tentang percobaan Yesus di gurun. Yesus akhirnya mengutamakan firman (=kehendak) dan Allah dari segala nilai ekonomis (roti), religius (didukung oleh malaikat) dan politik (kerajaan dunia serta kemuliaan-Nya), yang ditawarkan oleh Iblis.

Konsekwensi sikap dasar itu dalam hidup pribadi: radikal

Konsekwensi sikap dasar itu dalam hidup pribadi Yesus radikal sekali. Radikalisme itu bersangkutan dengan tugas panggilan pribadi Yesus dan (tidak?) secara langsung dapat diturunkan dari prinsip yang menjiwai Yesus atau dari Allah yang meraja. Berdasarkan prinsip dan demi tugas panggilan pribadi, Yesus memutuskan hubungan dengan seluruh hidupnya dahulu: dengan famili dan lingkungannya di Nazaret, dengan matapencariannya sebagai tukang (kayu) dan dengan ambisi pribadi-Nya. Diri-Nya dan seluruh hidup-Nya didarmabaktikan kepada pemberitaan Kerajaah Allah melulu, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, mana pun juga akibat dan implikasinya. Sebab justru oleh karena mendarmabaktikan diri kepada pemberitaan Kerajaan Allah Yesus memancing banyak konflik dan bentrokan dengan lingkungan-Nya. Ia menurut Mat 10:34 menyadari bahwa Ia tidak datang untuk membawa damai (eirene) di bumi, melainkan pedang; memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari mertuannya sehingga musuh orang ialah orang seisi rumah. Nyatanya Yesus tidak pernah mundur terhadap tantangan yang dicetuskan-Nya sendiri, sampai menjadi terhancur. Itu tidak berarti bahwa kesetiaan itu gampang. Injil Mrk (14: 36) mementaskan Yesus sebagai berdoa: Ja Abba, Bapa, tidak ada yang mustahil bagimu ambillah cawan ini dari padaKu. Tetapi janganlah apa yang Kukehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki terjadilah”.

Dua segi Kerajaan Allah: sudah ada dan masih harus dinantikan

Pada Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus dan yang menjadi penentu seluruh hidupnya ada dua segi. Di satu pihak Kerajaan Allah itu sudah ada, terwujud tetapi di lain pihak serentak masih juga dinantikan. Luk 11:20 berkata: “Jika Aku (Yesus) mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesunguhnya Kerajaan Allah (yang aku beritakan) sudah datang kepadamu”. Tetapi dalam perjamuan malam (Luk 22:16) Yesus menegaskan: “Aku tidak akan mamakannya (=perjamuan paskah) lagi sampai ia beroleh penggenapannya dalam Kerajaan Allah”. Jadi Yesus sendiri masih juga menantikan Kerajaan itu. Kerajaan Allah, baik sekarang maupun nanti diwujudkan oleh Allah, bukan oleh Yesus. Dengan berbuat baik, melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan mengusir Roh jahat dengan kauasa Allah hidup Yesus sendiri menjadi wujud Kerajaan Allah di dunia ini. Serentak Yesus mengajak orang menantikan dan memohonkan terwujudnya Kerajaan Allah nanti. Dengan lain perkataan ada segi “duniawi” dan segi “adi-dunia­wi” pada kerajaan Allah. Perbuatan baik Yesus, mukjizatnya dan sebagainya sebenarnya mewujudkan nilai duniawi yang dengan demikian terintegrasi kedalam Kerajaan Allah. Di lain pihak semua nilai itu tidak mungkin mewujudkan Kerajaan Allah sepenuh-penuhnya. Hasil pemerintahan Allah melampaui dunia yang menurut perkataan Paulus, sedang berlalu ini.

Perubahan total dan mendasar pandangan terhadap Allah, manusia dan dunia: pertobatan

Dalam rangka pemberitaan-Nya tentang Kerajaan Allah Yesus pun berseru: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga/Allah sudah dekat” (Mat 4:17). Itu ber­arti: orang mesti mengubah seluruh pandangannya dahulu terhadap Allah, manusia dan dunia. Orang mesti keluar dari jalur hidup yang sampai saat itu ditempuhnya. Seluruh tata nilainya perlu berubah. Itulah dampak Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus dan dengan iman diterima para pengikutnya. Pertobatan itu memang bukan pra-syarat bagi Kerajaan Allah, tetapi terlebih akibatnya, hasil sementara yang meletakkan dasar. Kemudian Yesus dalam khotbah di bukit lebih lanjut menggambarkan dunia yang tercipta bila Allah benar-benar meraja. Semuanya terbalik: Berbahagia1ah mereka yang miskin, menangis, lemah, lapar dan haus, yang ikhlas hatinya, membawa damai dan dianiaya. Hati lebih penting dari pada tindakan; kekerasan yang menelorkan kekerasan hilang; orang tidak bersumpah, tidak berzinah dan sebagainya. Suatu dunia baru, dunia yang menggambarkan segala apa yang dapat diharapkan dari Allah yang meraja.