III. Menurut Injil

Dilihat: 285 kali

Perintah Injil dan Nasehat Injil

Apa yang diistilahkan sebagai “hidup bakti” merupakan suatu perwujudan hidup Kristen yang sepanjang sejarah berkembang. Konsili Vatikan II (PC 2) menjelaskan bahwa, “asas tunggal” hidup bakti ialah: mengikut Yesus (sequela) seperti diperkenalkan oleh Injil. Hanya serta merta mesti dikatakan: mengikuti Yesus Kristus sesuai dengan Injil menjadi asas tunggal seluruh hidup Kristen, bukan menopoli kalangan tertentu. Membedakan antara “perintah” dan “nasehat”, lalu mengatakan: umat Kristen pada umumnya hanya mengikuti “perintah” yang wajib, sehingga bisa menjadi selamat, pada hal para penganut hidup bakti mengikuti “nasehat-nasehat” yang tidak wajib dan mengejar “kesempurnaan”, tidak lagi dapat dipertahankan setelah Vatikan II menyatakan bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk mengusahakan (dan mencapai) kesempurnaan (kasih), entah jalan mana yang ditempuh. Moral berganda untuk membenarkan hidup bakti sungguh-sunguh ketingalan zaman. Injil tidak hanya asas tunggal hidup bakti, melainkan asas tunggal hidup Kristen. Paulus (Gal 1: 6) menegaskan bahwa Injil menjadi hanya satu untuk semua orang beriman dan terkutuklah orang yang memberitakan Injil lain. Maka masalahnya: mana kekhasan hidup bakti dalam rangka hidup Injili Kristen? Perlulah kiranya terlebih dahulu kita merenungkan sedikit apa itu “Injil”.

Makna istilah “injil”

Kitab rangkap empat yang kerap disebut “injil”, sebenarnya bukan Injil, tetapi “memuat Injil” atau “memberikan kesaksian tentang Injil”. Aselinya “injil” ialah pemberitaan Yesus mengenai “Kerajaan Allah” (bdk Mrk 1: 1.15). Kerajaan Allah (sebuah metafor, kiasan) ialah Allah yang “meraja”, artinya: menjadi menentukan keberadaan manusia dan dunianya. Allah yang de iure dan de facto akan datang, sedang datang dan sudah datang sebagai “raja”, pengatur keberadaan manusia demi keselamatan, keutuhan manusia serta dunianya. Kemudian “Injil” menjadi pemberitaan tentang Yesus Kristus (atau pun: isi pemberitaan itu), yang sudah wafat dan bangkit, sedang berkuasa (meraja) demi penyelamatan manusia dan yang, nanti datang menyelesaikan segala sesuatu sebagai Hakim (secara positip: menyelamatkan, dan secara negatif: menghukum). Kerajaan Allah yang diberitakan Yesus sudah menjadi terwujud, mempribadi dalam Yesus Kristus (bdk Rm 1:16-17; Kis 5:42).

Kitab Injil ialah empat kesaksian tentang Yesus Kristus oleh umat perdana. Di­sajikan empat visi berbeda tentang Yesus Kristus (bukan: tentang Yesus “historis”) yang satu dan sama. Bagi umat selanjutnya keempat kesaksian itu menjadi jalan dan sarana dasar untuk berkenalan dengan Yesus Kristus sebagaimana diimani umat Kristen perdana. Dan hanya Yesus Kristus itulah yang relevan bagi umat beriman, kendati tendensi kuat dewasa ini untuk menjadikan Yesus, orang Nazaret, relevan bagi umat, pada hal Yesus itu kurang dapat dikenal. Yang relevan ialah Yesus Kristus sekarang, yang kini hidup dan berkuasa (juga di dunia). Tetapi Yesus Kristus itu sama de­ngan Yesus yang dahulu dalam keadaan yang pada dasarnya sama dengan keadaan kita, menghayati dan mewujudkan apa yang diberitakan-Nya.

Begitulah Kitab Injil menjadi jalan untuk melihat Injil, kabar Yesus Kristus, mengenai Allah yang menyelamatkan dan dengan demikian membahagiakan manusia sambil secara dasariah mengubah manusia serta eksistensinya. Injil itu telah mempribadi, menjadi orang dalam Yesus Kristus yang lahir, berkarya, mati, bangkit dan datang nanti.

Maka sasaran iman-kepercayaan umat Kristen, kita, ialah Yesus Kristus seperti diperkenalkan melalui keempat Injil, yang bagi orang beriman menjadi firman Allah yang hidup dan menghidupkan. Ada empat jalan – injil – tetapi semua mengantar kepada Yesus Kristus yang sama. Dengan cara berbeda keempat injil itu mengantar kepada Yesus, tetapi dalam hal itu saling melengkapi. Karangan-karangan lain yang tercantum dalam Perjanjian Baru lebih lanjut menjelaskan “Injil” (=Yesus Kristus), khususnya Yesus Kristus yang bangkit. 1Kor 15: 3-5 memuat semacam “syahadat” Kristen, yang hanya mengenai akhir hidup Yesus di dunia serta kebangkitan-Nya, yang mendapat tekanan khusus: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan Ki-tab Suci, Ia telah dikuburkan, Ia telah dibangkitkan pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, Ia telah menampakkan diri kepada …” (diberi daftar panjang). Karangan-karangan Perjanjian Baru yang lain itu hampir saja tidak mengatakan apa-apa mengenai Yesus selagi hidup. Perhatian tertuju kepada Yesus Kristus yang kini hidup dan berkarya berdasarkan wafat dan kebangkitannya.

Bagaimana Fransiskus membaca Injil

Cukup menarik pula caranya Fransiskus membaca Perjanjian Baru (artinya: mendengarkan Perjanjian Baru dibacakan dalam liturgi; buku mahal, barang luks di masa itu dan tidak banyak tersedia; “lectionaria” lebih penting. Yang paling banyak dikutip (atau diacu) dalam tulisan-tulisan Fransiskus ialah keempat Injil. Karangan-karangan Perjanjian Baru lain relatif jarang diangkat. Bila Fransiskus merenungkan diri Yesus, Tuhannya dan Anak Allah, maka yang paling banyak dipakai ialah Injil keempat. Kristologi Fransiskus adalah Kristologi Yohanes, yang oleh Fransiskus juga diproyeksikan kedalam injil-injil lain. Sebaliknya, manakala Fransiskus berkata tentang “mengikuti jejak-jejak Yesus Kristus”, maka ia mengutip ketiga Injil sinoptik, khususnya Mat dan Luk. Dengan demikian Fransiskus mempunyai suatu pendekatan yang secara teologis paling tepat: Karangan-karangan Perjanjian Baru saling melengkapi; bersama-sama mengantar kepada Yesus Kristus, sasaran kepercayaan Kristen, dan mutu bagi perilaku yang benar-benar Kristen dan sesuai dengan iman-kepercayaan. Justru dan hanya oleh karena Fransiskus percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah yang menjadi manusia, Tuhan yang sehakekat dengan Bapa, ia merasa dirinya didorong untuk mengikuti jejak-jejaknya di bumi. Fransiskus pasti tidak menyetujui tendensi moderen yang menyingkirkan Kristus kepercayaan (seperti yang diwartakan injil keempat) untuk “mengikuti Yesus orang Nasaret”, sabagaimana direkonstruksikan oleh para ahli. Yesus semacam itu bagi Fransiskus tidak menjadi dorongan untuk mengikuti jejak-jejak-Nya.

Motivasi mengikuti Yesus

Memang sasaran khusus dan terakhir iman-kepercayaan Kristen justru Yesus Kristus, tegasnya Allah yang berwajah Yesus Kristus. Dialah satu-satunya andalan bagi manusia. Diyakini bahwa “Keselamatan tidak ada dalam siapa pun juga selain dalam Dia, sebab di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat di­selamatkan” (Kis 4:12). Orang boleh saja menempatkan Yesus disamping tokoh-tokoh religius besar lainnya: Musa, Yeremia, Elia, Buddha, Muhammad, Zarathustra, Kon-fu-tse dan sebagainya. Tetapi jika Yesus Kristus ditempatkan pada tingkat sama dengan tokoh-tokoh itu, identitas Kristen sudah hilang dan tidak ada alasan lagi untuk mengikuti Yesus Kristus dan, bukan misalnya Muhammad. “Nama” Yesus yang disebut dalam Kis 4:12 ialah Kekuatan, daya Yesus (yang bangkit), diri Yesus yang nyata tetap kuat-kuasa untuk menyelamatkan orang yang entah bagaimana sampai menyerukan “nama-Nya”. Dan kekuatan Yesus Kristus itu tidak lain kecuali Roh Kudus yang menjadi prinsip aktip dalam hidup orang yang percaya, entahlah ia menganut “hidup bakti” atau tidak, asal percaya dan benar-benar Kristen. Sebagaimana ditegaskan oleh S. Paulus (Rm 8: 9-11): Kamu (kita) tidak hidup dalam daging (= eksistensi yang ditentukan oleh “dosa”, yang membuat manusia menjadi egoistis, berpusatkan dirinya), melainkan dalam Roh (= sebagai prinsip yang menentukan dan mengatur), jika memang Roh Allah diam (jadi secara mantap, sebagai prinsip tetap) di dalam kamu (kita). Tetapi jika orang tidak memiliki (sekali lagi: secara mantap) Roh Kristus (sama dengan Roh Allah) ia bukan milik Kristus …Dan jika Roh Dia (=Allah) yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu (kita), maka Ia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu (tubuh kita) (= kamu/kita yang bertubuh, menempuh hidup di dunia sementara ini) yang fana itu oleh Roh-Nya yang diam di dalam kamu (kita).

Penutup

Begitulah Injil yang mempribadi dalam Yesus Kristus, menjadi asas-tunggal segenap hidup Kristen, termasuk hidup Kristen mereka yang menganut hidup bakti sebagai salah satu bentuk hidup kristen. Dan dengan arti demikian setiap hidup orang Kristen memang “injili”, kata sifat mana tidak boleh dikhususkan bagi salah satu golongan atau kelompok, biar kelompok fransiskan sekali pun.