II. Hidup Bakti – Hidup Religius

Dilihat: 1.640 kali

Vita Consecrata = Hidup Bakti

Selama pekan ini kita, sebagai pengikut Fransiskus, dalam suasana semadi dan doa mau merenungkan sedikit “hidup bakti” yang kita ikuti juga. Sinode uskup di Roma pun tahun ini memikirkan “hidup bakti”, yang menerjemahkan istilah latin “vita consecrata”. Boleh diduga bahwa para uskup dan sebagian besar peserta retret ini tidak mempunyai gambaran cukup jelas mengenai “hidup bakti” itu sehingga juga tidak bisa menempatkan diri dalam rangka “hidup bakti”, “vita consecrata” itu. Sebab sejak konsili Vatikan II hidup bakti menjadi kembali suatu gejala yang serba majemuk, seperti dahulu, misalnya di masa Fransiskus Asisi. Kitab Hukum Kanonik Gereja Latin yang terbit pada th 1917 menyeragamkan segala sesuatu, sehingga dalam Gereja (kebatrikan) Latin hidup bakti/vita consecrata menjadi sama dengan hidup religius, hidup membiara. Hidup religius lalu ada dua cabangnya yakni hidup religius kontemplatip (monastik, kerahiban) yang dinilai sebagai “vita consecrata” yang paling utuh, dan hidup membiara aktip, yang sebenarnya – bagi putri dan awam – dianggap kurang memadai gagasan “vita consecrata”. Menurut Kitab Hukum Kanonik itu pun Gereja terdiri atas dua lapisan, yaitu: rohaniwan yang nyatanya menjadi sama dengan imam, dan awam. Rohaniwan dapat menjadi religius (muncullah tarekat-tarekat klerikal) dan awam juga bisa menjadi religius (tarekat awami, putri dan putra).Para pengikut Fransiskus dalam Ordo I dimasukkan kedalam tarekat-tarekat klerikal (sebab de facto, meskipun tidak de iure, mereka memang menjadi klerikal), meskipun kualifikasi itu berlawanan dengan ciri-corak dasariah Ordo I Fransiskkus itu.

Tetapi sejak Konsili Vatikan II, yang menelorkan juga Kitab Hukum Kanonik yang baru (1983) situasi menjadi lain dan serba majemuk. Secara fungsional pembagian tradisional atas “rohaniwan” dan “awam” dipertahankan. Tetapi pembagian tegak-lurus itu disilangi oleh sebuah pembagian mendatar yang ditentukan oleh caranya kekristenan diwujudkan, yaitu: awam, ialah orang beriman yang melibatkan diri dalam urusan dunia ini guna “menguduskannya” (entahlah apa artinya), rohaniwan, ialah para petugas paripurna Gereja (hanya: diakon, imam, uskup) dan mereka yang menganut “vita consecrata”, hidup bakti. Dan golongan itu bisa saja mencakup baik (sebagian) awam (menurut pembagian tegak-lurus) maupun rohaniwan (menurut pembagian tegak lurus tersebut). Hidup bakti (vita consecrata) kembali menjadi sebuah gejala serba majemuk.

Kecuali “hidup membiara”, dengan cabang kontempatif dan aktif, diakui kembali secara resmi cara hidup “pertapa” (eremit), yang dalam kekristen­an timur tidak pernah hilang. Artinya: Dengan kaul (selibat) Publik orang di luar suatu organisi resmi (meskipun dapat saja membentuk sebuah kelompok, paguyuban), wajib dengan persetujuan uskup setempat dibawah peng­awasannya, menganut sebuah aturan hidup khusus untuk dalam kesepian “vacare Deo”, bersemadi dan hidup bagi Allah semata-mata (hanya secara tak langsung menyangkut orang lain). Eremita itu dapat saja laki-laki (entah awam entah rohaniwan) dan perempuan. Kembali muncul “virgines”, perawan yang secara publik mengikrarkan kaul keprawanan (hanya mungkin bagi putri yang masih perawan), tetapi tinggal ditengah umat dan disana menangani macam-macam kerja gerejani atau amal-kasih. Laki-laki dan janda pun bisa saja menempuh gaya hidup macam itu, tetapi tidak disebut “perawan” (yang mengandaikan keutuhan seksual), tetapi “continentes” (bertarak). Gaya hidup itu sebenarnya di zaman Perjanjian Baru sudah mulai tampil dan bisa terus mempertahankan diri sampai abad XX. Augustinus misalnya sering berkhotbah bagi “para perawan” dan para “continentes” pada umatnya. Kembali gaya hidup itu diakui sebagai suatu kemungkinan untuk secara resmi mewujudkan kekristenan. Fransiskus berkenalan baik dengangaya hidup para pertapa maupun dengan “perawan” dan “continentes” (berupa: reclusae/reclusi, oblati pada gereja atau biara, conversi pada biara rahib/rubiah, atau terlepas sama sekali (ingat Angela Foligno, Margaretha Cortona dan sebagainya).

Suatu bentuk “hidup bakti” yang selama abad XX tampil dan mendapat kedudukan resmi dalam (tata hukum) Gereja Latin ialah apa yang diistilahkan sebagai “lembaga sekular. Anggota-anggota lembaga semacam itu tetap awam, yang sepenuh-penuhnya melibatkan diri dalam urusan dunia (nilai-nilai sekular yang positip) dengan maksud memberi wujud “sekular” kepada Kerajaan Allah yang dalam bentuk sementara dan fragmentaris memang sudah hadir di dunia dan dalam sejarah. Guna melibatkan diri sepenuh-penuhnya dalam urusan sekular demi Allah anggota-anggota lembaga sekular mengikrarkan tiga kaul privat (isinya apa yang disebut “nasehat Injil”) dan membentuk suatu organisasi yang longgar sekali, tetapi tidak (harus) hidup berkomunitas.

Akhirnya termasuk kedalam hidup bakti apa yang diistilahkan sebagai “serikat apostolik”. Serikat-serikat macam itu sebenarnya lembaga sekular bagi rohaniwan, petugas paripurna Gereja. Mereka pun mengikrarkan kaul privat yang berisikan ketiga nasehat Injil, membentuk organisasi longgar untuk saling membantu. Maksudnya, supaya lebih radikal dapat melibatkan diri kedalam karya pastoral yang bermacam-macam. Mereka sebenarnya tetap “imam praja” (saeculares), meskipun bukan imam diosesan yang menangani “urusan dunia”, yaitu nilai-nilai religius (iman) manusia selama dalam sejarah di dunia. Dengan arti sedemikian nilai-nilai yang diusahakan serikat apostolik boleh disebut “duniawi”, saeculares, bukan nilai surgawi, eskatologis.

Hidup religius

Adapun hidup religius merupakan salah satu bentuk hidup bakti yang mesti memenuhi beberapa syarat baik syarat yang bercirikan hukum mau pun syarat yang terlebih bercirikan “rohani”, katakan saja “mistik”.

Menurut hukum kanonik Gereja Latin hidup bakti yang berupa hidup religius mesti ditempuh dalam rangka sebuah lembaga, societas, sebuah organisasi (berbeda dengan pertapa, continentes, perawan); mesti ada kaul publik, jadi: didepan umum dan secara publik diterima oleh (pejabat) Gereja dan jumlahnya mesti tiga dan berisikan apa yang disebutkan sebagai “ketiga nasehat Injil”. Selanjutnya masih harus ada hidup berkomunitas, jadi bukan seorang diri atau hanya dalam rangka suatu organisasi menyeluruh. Dari segi “rohani”, mistiknya, mesti ada sebuah “consecratio publica”, artinya: para anggota lembaga religius di depan umum (suatu upacara liturgis) dikhususkan, di­sendirikan, baik orangnya maupun hidupnya, bagi Allah semata-mata, seolah-olah dipindahkan ke pihak Allah yang kudus, menjadi milik Allah. Dari segi orang yang dengan cara demikian membiarkan dirinya dikuduskan, halnya boleh – secara analog – disebutkan sebagai “kurban”, yang berarti: melalui sebuah upacara simbolik orang meyerahkan sesuatu kepada Allah menjadi miliknya semata-mata. Oleh karena hidup kaum religius menjadi hidup publik, maka mereka dengan cara hidupnya memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah di akhir zaman, waktu Allah menjadi satu-satunya yang menentukan (memerintah). Dengan demikian gaya hidup kaum religius itu secara real mengantisipasikan nilai-nilai eskatologis. Oleh karena secara publik para religius mengikat diri secara eksklusip kepada Allah sebagaimana menjadi nyata dalam Yesus Kristus, mereka di dunia memperlihatkan ikatan (nikah) eksklusip antara Kristus dengan Gereja-Nya. Gaya hidup religius, justru oleh karena “publik” memberikan kesaksian tentang ikatan antara Kristus dan Gereja-Nya, yang di akhir zaman akan meliputi semua anggota Gereja-Nya. Akhirnya masih ada ciri lain yang disebutkan “fuga mundi” atau «seperatio mundi». Dengan seluruh gaya hidupnya, justru oleh karena publik, kelihatan, didepan umum, kaum religius menyatakan bahwa meski pun di dunîa, namun bukan “dari dunia”, tidak termasuk kedalam “dunia”. Sebab di dunia ada macam-macam nilai (positip) yang turut menentukan manusia serta hidupnya, termasuk orang beriman. Secara legitim sebagai orang beriman mereka mengusahakan macam-macam nilai dunia demi nilai dunia itu sendiri dan nilai-nilai itu tidak difungsionalkan untuk sesuatu yang lain. Dan melalui nliai-nilai duniawi itu – dalam pandangan kaum beriman – Kerajaan Allah sebagai realitas duniawi menjadi terwujud. Tetapi kaum religius (seharusnya) tidak melibatkan diri dalam nilai-nilai duniawi, entah material entah spiritual, demi nilai-nilai itu sendiri, melainkan demi nilai-nilai lain, nilai-nilai eskatologis. Kerajaan Allah di akhir zaman, yang berupa tanda diantisipasikan dalam nilai-nilai positip di dunia ini.

Fransiskus dan “hidup bakti”

Kita sudah tahu bahwa Fransiskus berkenalan dengan pelbagai bentuk “hidup bakti” di zamannya. Ada pertapa, continentes/virgines, monastik, kanunik regular yang menganut anggaran dasar Augustinus dan juga ada Pentobat yang membentuk kumunitas, semacam “lembaga sekular”, yang belum mendapat kedudukan resmi dalam Gereja. Fransiskus bagi kelompoknya (yang disebutnya persaudaraan, tetapi juga “ordo” atau “religio”, istilah biasa untuk hidup membiara), memperoleh suatu kedudukan resmi dalam tatanan Gereja. Tetapi ia tidak mau mengikuti salah satu bentuk hidup bakti yang sudah tersedia. Ia tidak menjadi pertapa, tidak menjadi rahib dan tidak menjadi kanunik regular. Dan ia pun tidak mau awam (saleh) saja. Ia menemukan sesuatu yang baru, yang belum dapat ditampung dalam tata hukum Gereja di masa itu. Adapun sebabnya mengapa Fransiskus menemukan sesuatu yang baru dan tidak menerima apa yang sudah ada adalah sebagai berikut: Modelnya berbeda. Model hidup bakti (berkomunitas) yang selalu (sampai dengan Vatikan II) disodorkan ialah: Gaya hidup jemaat perdana di Yerusalem, seperti digambarkan dalam Kis 2 dan 4. Sebaliknya, Fransiskus mengambil sebagai modelnya: cara hidup Yesus beserta rombongan murid-Nya di Palestina selama Yesus hidup di dunia: Berkeli­ling untuk memberitakan Injil kerajaan dan pertobatan kepada semuanya. Dalam gaya hidup itu milik bersama, tetap tinggal di tempat tertentu dan mengurus sebuah jemaat secara menyeluruh, tidak cocok dengan gaya hidup Yesus beserta rasul-rasul-Nya di Palestina. Karena itu Fransiskus menolak hidup monastik dan hidup kanonikal, hidup dalam pertapaan seorang diri untuk berbakti kepada Allah semata-mata. Ia menemukan suatu bentuk hidup bakti yang di zaman itu baru. Meskipun kerap kali di katakan bahwa gaya hidup itu “vita mixta” (kontemplatif ala rahib dan aktip ala kanunik), sebutan itu kiranya kurang sesuai dengan apa yang ditemukan dan diwujudkan Fransiskus. Barangkali di kemudian hari pengikut-pengikut Fransiskus melaksanakan suatu “vita mixta”, tetapi hanya sejauh mereka tidak setia pada visi dan gagasan Fransiskus. Mereka tampak sebagai semacam “canonici regulares”. Tetapi “tradisi” macam itu tidak usah diteruskan sepanjang sekalian abad. Orang boleh berusaha dengan cara baru mewujudkan apa yang diusahakan Fransiskkus dengan kelompoknya, di mana “clerici” belum memainkan peranan yang menentukan.