I. Pembukaan Khalwat Tahunan

Dilihat: 386 kali

basilika-fransiskus-assisi

Ilustrasi Basilika Fransiskus Assisi. Italia.

N. B. Dapat diadakan ibadat sabda sebagai bacaan bisa dipakai Mzm 25: 1-7, yang dapat juga dipakai sebagai doa pembukaan khalwat, jika tidak ada ibadat sabda.

Percaya kepada Allah, mengandalkan Kristus sebagai wajah Allah, sebagaimana terungkap dalam Mzm 25 menjadi latarbelakang, dasar seluruh hidup kita sebagai orang kristen dan religius fransiskan dan pun pula mestinya menjadi latarbelakang khalwat yang kini kita mulai. Khalwat yang ingin meng­arahkan perhatian saudara kepada dirinya justru sebagai religius, religius fransiskan.

Sebuah retret merupakan saat mawas diri, refleksi atas dirinya sendiri dalam suasana semadi dan doa. Retret bukan sebuah kursus kilat atau pena­taran, atau loka karya atau pun seminar. Tetapi selama masa itu orang ber­usaha memperdalam, memantapkan arah, orientasi dasar seluruh hidupnya, yang diandaikan pada prinsipnya sudah terarah.

Buah-hasil sebuah retret tidak dapat direncanakan. Kerap kali retret routin, tahunan, menurut aturan, tidak ada banyak dampaknya. Sesudah dua tiga hari bekasnya sudah hilang lenyap. Itu tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga seluruhnya sia-sia dan percuma saja. Paling tidak orang k. l. terpaksa berhenti sejenak; menolong mempertahankan hidup Kristen, hidup religius fransiskan pada tingkat yang sudah tercapai.

Kadang-kadang dapat terjadi bahwa sebuah retret routin, bagi orang menjadi kejutan, yang menjadi menentukan bagi seluruh hidupnya di kemudian hari. “Excercitia spiritualia” aselinya memang demikian maksudnya, sehingga hanya sekali dapat dilangsungkan. Dalam retret hal itu “diperpendek” dengan maksud: Mempertahankan, memperteguh dan memperdalam keputusan dasar yang pernah diambil; kembali menempatkan diri pada jalur yang benar. Tetapi ada kalanya justru yang “pendek” menjadi memutuskan.

Selanjutnya, mengingat Mzm 25 yang dibacakan/didoakan, hasil positif sebuah retret bukan buah usaha manusia, betapa pun usaha itu perlu. Hasil positip merupakan buah karunia Roh Kudus. Hanya orang mesti membuka diri, membiarkan Roh Kudus. Suasana yang bisa membuka orang tercipta melalui doa, keheningan, berdiam diri dan bermati-raga sedikit. Oleh karena retret bukan loka karya atau kesempatan untuk “berdiskusi’, maka orang sebaik-baiknya tidak berdiskusi. Yang dapat berguna ialah “sharing” satu sama lain, asal tidak dipaksakan sehingga menjadi dibuat-buat saja. Pokoknya, bukan dialog dengan manusia, malainkan dialog dengan Tuhan, tegasnya dialog Tuhan dengan orang yang menjalankan retret, antara Allah dan diri manusia pribadi. Kalau dipakai kata “dialog”, jangan terlupa bahwa orang memakai sebuah analogi, sebuah metafor. Sebab Tuhan biasa berdiam diri dalam seribu bahasa. Tetapi melalui doa dan renungan orang sendiri. Tuhan bisa membuka mata orang dan dengan demikian “berbicara” kepadanya. Hanya perlu orang jujur dan tulus-ihlas terhadap dirinya sendiri, agar menjadi terbuka bagi Tuhan.

Acara yang ditawarkan berpusatkan hidup religius pada umumnya dalam rangka hidup Kristen dan pada varian hidup religius yang ditawarkan Fransiskus.

Kita tahu bahwa konsili Vatikan II menganjurkan “aggiornamento” hidup religius. Hanya sesudahnya hidup religius dalam Gereja di kawasan Barat mengalami sebuah krisis parah yang rasanya-rasanya belum selesai. Krisis itu memang merusak banyak dan melumpuhkan hidup religius di kawasan Barat. Rasa-rasanya di Indonesia krisis itu tidak atau belum dirasakan. Syukur kepada Allah. Tetapi jangan orang merasa “aman”, masa depan cerah. Kita masing-masing orang mesti siap. Krisis hidup religius ada juga segi positifnya: membersihkan banyak, menggosok karat dan debu, mengajak untuk kembali menjadi “bersih”. Biasanya sebuah “krisis” disusul sebuah “revival”. Hanya soalnya apakah para religius tersedia menampung “revival” itu? Dan hendaknya pengalaman di kawasan Barat menjadi pelajaran bagi a. l. kaum religius di Indonesia. Jangan sejarah itu besok terulang di sini. Maka sebaik-baiknya kaum religius, termasuk fransiskan melandaskan hidup religiusnya pada landasan yang sehat, kokoh kuat, menghilangkan karat dan debu yang barangkali masih atau sudah bertumpuk. Mudah-mudahan khalwat routine ini menolong sedikit untuk membersihkan dan memurnikan hidup religius dan hidup fransiskan kita.