Kejahatan
Kita hidup terjerat dalam kebingungan-kebingungan yang kita buat sendiri: tarikan orang-orang yang kita jadikan perlu karena kebutuhan kita untuk dicintai; tanggungjawab-tanggungjawab yang pemenuhannya memuaskan kebutuhan kita untuk menyelesaikan sesuatu yang berguna; kebutuhan akan kesenangan. Kebutuhan-kebutuhan kitalah yang mengalihkan perhatian kita dari satu hal perlu; hal yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan itu. Penyederhanaan hidup kita lebih terletak dalam apa yang kita konsentrasikan, apa yang memfokuskan jiwa daripada dalam apa yang kita singkirkan dari diri kita.
Fransiskus begitu berpusat pada Allah sehingga tak sesuatu pun menjadi gangguan, dan kebutuhannya sendiri terlupakan dalam keasyikannya dalam Allah. Bagaimana sesuatu dapat mengganggunya bila dalam tiap karya seni ia memuji Sang Seniman; apa pun yang ditemukannya dalam benda buatan dia mengacu pada Sang Pembuat. Ia bersukaria dalam segala karya tangan Tuhan, dan di balik benda-benda yang menyenangkan mata ia melihat alasan dan maksud pemberian hidup mereka. Melalui jejak-jejak kaki-Nya yang tertanam di atas segala sesuatu, ia mengikuti Sang Kekasih ke mana-mana; dari semua benda ia membuat bagi dirinya sendiri sebuah tangga untuk ia naik, bahkan, ke tahta-Nya.
Tetapi, yang tampak di sini lebih dari sekedar tanggapan sederhana terhadap keindahan, lebih dari sekedar melihat jejak-jejak kaki Allah di dalam ciptaan. Bukan hanya bahwa Fransiskus berpusat pada “Yang Lain” dan segala sesuatu dilihat dalam Allah, dengan demikian membantunya untuk kontemplasi. Telah terjadi sesuatu yang lain dalam diri Fransiskus yang memungkinkan konsentrasi totalnya pada Allah.
Gangguan kita yang paling besar tidak berasal dari keindahan dunia tetapi dari kejahatan dalam dunia dan dalam diri yang belum kita hadapi, yang coba kita tekan atau sangkal. Seorang religius yang tidak dapat menerima realitas kejahatan biasanya mempermanis segala sesuatu dengan kesalehan dan menjauhkan dirinya dari kejahatan dengan mencintai secara umum; mencintai orang miskin, semua orang, alam, ciptaan, dan sebagainya.
Amat sulitlah untuk menggambarkan dan karena itu untuk merasakan realitas yang bersifat umum seperti “orang miskin” atau “kejahatan”; dan sesuatu yang tidak saya rasakan atau tidak dapat saya gambarkan, tidak harus saya hadapi. Lalu, pada saat-saat doa yang benar gambaran-gambaran nyata tentang perempuan miskin, tendensi kejahatan dalam diriku, gambaran dalam surat kabar tentang seorang korban pembunuhan yang tergeletak di pinggir jalan muncul ke permukaan pikiran untuk menghantui saya dan “mengganggu” saya dari pencarian hal-hal umum demi pembenaran diri.
Fransiskus tinggal dalam dunia nyata dan memeluk orang kusta yang nyata dan para penjahat, imam-imam yang punya skandal dan serigala-serigala yang sangat lapar. Ia memeluk kejahatannya sendiri dan potensi untuk berbuat jahat dan bahkan mengadakan dialog dengan sisi dirinya yang lebih gelap dan contoh-contoh kejahatan nyata yang ia jumpai.
Ada dua kisah klasik yang berbicara tentang bagaimana Fransiskus menghadapi kejahatan yang berakar dalam sebuah pengertian pokok yang dia terima dari Allah. Pengertian itu diperolehnya pada awal pertobatannya ketika ia sedang berdoa dalam gua di sekitar Asisi. Ia mulai dibayangi oleh gambaran tentang seorang wanita bongkok yang mengerikan dan ketakutan bahwa ia akan menjadi seperti perempuan itu jika ia terus pada jalan kerendahan hati dan pertobatan.
Tentu saja, itulah ketakutan besar: bahwa saya akan berubah menjadi hal yang paling menjijikan dan menakutkan saya, bahwa penyakit jiwa atau kelainan fisik entah bagaimana bersifat menular dan bagaimana pun juga harus dihindari, sehingga apa pun yang jelek atau menjijikkan dijauhkan, dipisahkan oleh dinding-dinding atau tabu atau pengasingan. Tetapi kemudian dari kedalaman (bathin) Fransiskus, ia mendengar Allah yang ada di dalam batinnya: Hai Fransiskus, apa yang telah kaucintai dengan sia-sia dalam kedagingan, sekarang mestilah kautukar dengan hal-hal rohani, menerima kepahitan demi kemanisan.”
Kata-kata itu sungguh-sungguh mengubah kehidupan Fransiskus, karena selama ini ia berpikir – sebagaimana kebanyakan pemula dalam kehidupan rohani – bahwa Allah adalah cahaya dan kemanisan semata-mata. Sekarang ia menyadari bahwa Alah itu kepahitan, bahwa ia harus memilih apa yang nampaknya menjijikan sebagai ganti dari apa yang indah; dan ketika ia melakukan – seperti dalam peristiwa memeluk orang kusta (yang terjadi segera setelah penglihatan akan wanita yang bongkok) apa yang pahit diubah menjadi kemanisan jiwa baginya, dan dia mengakui Allah.
Segala sesuatu, bahkan kejahatan, diubah menjadi baik oleh pelukan kasih Allah; kita tidak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sampai kita mengambil langkah tegas dengan mengatasi persepsi-persepsi yang lazim terhadap apa yang menarik dan menjijikan dengan membentangkan kasih pada apa yang menolak kita.
Dua kisah yang melengkapi dan mengilustrasikan sentralitas pengertian mendalam ini dalam spiritualitas Fransiskus ialah kisah Kegembiraan Sejati dan Pelacur Damieta.
Saudarsa Leo bertanya, “Bapa, saya mohon kepadamu demi Allah, katakanlah kepadaku di manakah saya bisa menemukan kegembiraan sejati?.”
Dan St. Fransiskus menjawab: “Baiklah saudaraku, izinkanlah aku menceritakan sebuah kisah kepadamu. Kita sedang dalam sebuah perjalanan. Kita sampai di Santa maria Para Malaikat, dan badan kita basah kuyup karena hujan, menggigil kedinginan dan penuh lumpur serta kehabisan tenaga karena lapar; lalu kita mengetuk pintu biara dan saudara penjaga pintu membuka pintu dengan kasar dan bertanya dengan geram: “Siapa kamu?” Dan penuh keheranan kita menjawab, ”Kami adalah dua orang saudaramu”. Dan ia menertawakan kita,sambil berkata, “Kamu pembohong. Kamu adalah sepasang bajingan yang mengembara ke mana-mana, menipu rakyat dan merampoki kepunyaan orang-orang miskin. Enyalah kamu dari sini!” Dan dia menolak kita masuk dan membiarkan kita tetap berdiri di luar semalaman dalam hujan dan salju, menggigil dan lapar – maka bila kita menahan perlakuan buruk, penghinaan serta pengusiran itu dengan sabar dan tenang hati tanpa angkuh dan mengeluh, sambil dengan rendah hati dan penuh cinta berpikir bahwa penjaga pintu itu memang mengenal kita seperti apa adanya, dan bahwa Allah membiarkan dia untuk mencemoohkan kita, catatlah Saudara Leo inilah kegembiraan sejati.
Bila kita terus mengetuk dan dia keluar dengan geramnya menghalau kita sebagai bajingan, sambil mencaci dan memukul kita dan berkata: “Enyalah kamu pencuri-pencuri kotor! Pergilah ke rumah miskin! Siapakah kamu ini? Enyalah. Kamu bukan bermaksud untuk makan atau menginap di sini!” – Jika kita menanggung semua itu dengan sabar, dengan senang hati dan penuh cinta, maka catatlah Saudara Leo bahwa itulah kegembiraan sejati.
“Dan bila kemudian, terdorong oleh rasa lapar, dingin dan malam, kita terus mengetuk, sambil memohon dengan mencucurkan air mata agar dibukakan dan diizinkan masuk demi cinta akan Allah, tetapi dia dengan lebih kejam lagi berkata: “Kalian bangsat-bangsat berkepala batu! Saya akan hadiahkan apa yang pantas bagi kalian!” Lalu dia keluar dengan sebatang tongkat bercambuk, mencengkram jubah kita , mencampakkan kita ke tanah dan menggulingkan kita di dalam salju, lalu mencambuki kita sehingga tubuh kita penuh dengan luka – dan bila kita menanggungnya dengan sabar, sambil mengenang penderitaan Kristus yang terpuji itu, demi cinta akan Dia, maka Saudara Leo catatlah bahwa inilah kegembiraan sejati.
Kisah ini memutarbalikkan nilai-nilai kita yang lazim dan menawarkan kepada dunia sebuah alternatif bagi pembalasan dendam, sebuah rencana demi perjuangan yang mungkin bisa menjadi alternatif satu-satunya yang tersisa di abad nuklir. Memang, inilah satu-satunya alternatif tersisa yang belum dicoba. Hanya ketakutanlah yang menghalangi kita untuk meyakini bahwa kegembiraan sejati sesungguhnya terjadi ketika kita menanggung kejahatan-kejahatan dan hinaan-hinaan dan pukulan-pukulan dengan senang hati dan sabar, karena ingat bahwa kita harus merangkul dan memikul penderitaan Kristus yang terpuji dengan sabar demi cinta kasih akan Dia. Mungkinkah bahwa inilah alasannya mengapa tidak banyak kegembiraan di dunia ini: kita menginginkan agar orang lain, bahkan Kristus, menanggung penderitaannya sendiri; lebih amanlah menimbulkan penderitaan daripada menanggungnya; kita menempatkan harapan dan iman kita dalam memiliki kesempatan dan kemampuan untuk menyerang lebih dahulu?
Kisah Pelacur Damieta terjadi ketika Fransiskus berada dalam perang salib di Mesir. Dia baru saja meninggalkan istana sultan, di mana ia mencoba tetapi tidak berhasil untuk mengakhiri peperangan antara orang Kristiani dan Muslim. Ia sedang berjalan sendiri ketika ia melihat sebuah penginapan sederhana di depan sebuah tikungan jalan. Ia lelah dan haus, dan penginapan itu mungkin penginapan terakhir yang dapat didatanginya sebelum malam tiba. Maka Fransiskus berjalan menuju pintu yang berbunyi kriat-kriut dan mendorongnya ke dalam. Di dekat meja ada lelaki-lelaki kekar dan kasar, dan perempuan-perempuan sensual sedang menggoda mereka seperti ngengat- ngengat cantik yang mengelilingi nyala api.
Dengan canggung dia berjalan menuju salah satu meja dan duduk di situ. Secepat kilat di Gunung Subasio dan tak disangka-sangka, seorang gadis cantik berada di sisinya, sambil memainkan rambut kepala Fransiskus dan menunjuk ke sebuah pintu kecil di bagian belakang penginapan itu. Fransiskus tersenyum lembut pada wanita itu, tepatnya seorang gadis – ia tidak lebih dari 20 tahun usianya – dan memegang tangannya yang kecil. Lalu sambil berdiri, ia membiarkan gadis itu menuntunnya menuju kamar belakang.
Kamar itu gelap tapi bersih dan api berloncatan hangat di perapian. Mereka berdiri berhadap-hadapan di tengah kamar itu, dan ia terus menatap mata tak berdosa tetapi canggung dari gadis itu. Ia hampir-hampir tampak lembut dalam penantian kekanakan, dan penuh rasa ingin tahu. Fransiskus pelan-pelan melepaskan tangannya dan mundur dari dia. Kemudian di depan gadis itu, Fransiskus menelanjangi dirinya, dan sambil tetap menatap gadis yang tercengang-cengang itu, ia membaringkan diri di atas perapian yang bernyala. Ia dapat melihat gadis itu menggerinyit ketika punggungnya menyentuh batu panas yang memerah.
Ia tetap terbaring sempurna di sana. Lalu dengan kelembutan sikap ia memberi isyarat kepada gadis itu untuk melepaskan pakainnya dan berbaring di sampingnya. Gadis itu takut. Ia berpikir bahwa Fransiskus pasti benar-benar gila, tetapi ia tidak lari. Ia hanya berdiri gemetar di sana, dan mata mereka tetap terpaku. Kemudian, tanpa terluka oleh api, Fransiskus bangkit dan mengenakan jubahnya sementara gadis itu memandang dengan takjub. Fransiskus mendekati dia, memegang kepalanya, dan mencium keningnya dengan hati murni.
Dengan air mata mengalir dari matanya yang muda dan lelah, Gadis itu jatuh bersujud di kaki Fransiskus dan mencium kakinya. Fransiskus juga mulai menangis. Fransiskus membantunya berdiri dan menuntunnya ke sebuah bangku kecil di depan perapian dan mempersilahkannya untuk duduk. Lalu Fransiskus duduk di lantai dekat kakinya dan menceritakan kisah Yesus kepada gadis itu.
Kisah Pelacur Damieta merupakan symbol intergasi antara eros dan agape, kerinduan seksual dan cinta kasih dalam diri Fransiskus. Api yang yang tidak menghanguskan dia adalah nafsunya sendiri, yang sudah diubah oleh cinta tanpa pamrihnya terhadap perempuan yang mengajak dia. Ia tidak melarikan diri dari gadis itu seperti seorang munafik yang saleh dan terkejut. Akan tetapi, ia mengundang gadis itu untuk bergabung dengan dia dalam bentuk cinta yang dimilikinya, yang sampai-sampai menelanjangi diri dihadapan gadis itu dalam sebuah tindakan simbolik akan penerimaan total terhadap tubuhnya sendiri dan sambil meminta gadis itu untuk berbuat yang sama, sebuah sikap penerimaan dan penghargaan atas tubuhnya yang ia gunakan dan ia salahgunakan. Dan perempuan itu memahami – ia bertobat kepada Kristus.
Kita memperoleh dan mendapatkan sebagai indah hanya pada apa yang kita terima dengan rasa hormat dan kita biarkan ditebus oleh Allah; kita kehilangan dan menemukannya sebagai buruk apa yang kita tolak, sehingga dosa berat berarti apa yang kita tiadakan, apa yang tidak kita lakukan: “Aku lapar dan engkau tidak memberi aku makan. Aku haus dan engkau tidak memberi aku minum. Aku sebagai orang asing dan engkau tidak memberi aku tumpangan, telanjang dan engkau tidak memberi aku pakaian. Aku sakit dan dalam penjara dan engkau tidak datang menghibur aku” (Mat. 25: 42-43). Apa yang kita abaikan dan yang tidak kita lakukan, itulah yang dengan hebat menarik perhatian kita dari Allah. Kekhusyukan kita dalam Allah diukur dari apa yang sudah dengan cukup berani kita peluk dan terima dalam diri kita dan dalam orang lain.
Sumber:
(Murray Bodo, The Way of St. Francis. The Challenge of Franciscan Spirituality for Everyone, hal. 69-73)


