Kehidupan Fransiskus Asisi

02/04/2009
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 3.660 kali

francis-birth

Fransiskus lahir sekitar tahun 1181 atau 1182 di Asisi, Italia. Awalnya, ia diberi nama Yohanes oleh Ibunya, Dona Pika. Ayahnya, Pietro Bernardone adalah seorang saudagar kain. Ia sering pergi keluar Asisi untuk berdagang. Sewaktu ia lahir, Bernardone sedang berada di Perancis. Setelah kembali ke Asisi, Bernardone memberinya nama Fransiskus untuk mengingatkan kota Perancis yang sangat dikaguminya. 

Fransiskus Si Raja Pesta

Fransiskus muda hidup dalam kekayaan, kemewahan dan pesta pora. Sebagai anak dari keluarga kelas pedagang, uang tentu bukan masalah bagi dirinya. Untuk masa sekarang, kita bisa menyebutkan sebagai kaum hedonis. Dalam sebuah biografi awal dikatakan atau digambarkan sebagai berikut, Fransiskus dikagumi semua orang dan ia pun berusaha keras melebihi semua lainnya dalam hal suka pamer dan kemuliaan sia-sia, olok-olok, menarik perhatian, lelucon murahan dan omong kosong, nyanyian dan selalu berpakaian halus, karena dia amat kaya.”

Fransiskus Menjadi Ksatria

Fransiskus ingin menjadi seorang ksatria. Tentu saja hal ini didukungan penuh oleh ayahnya. Ksatria merupakan simbol dan status terpandang dalam masyarakat yang diperoleh berkat kemenangan di medan pertempuran. Maka ketika pecah perang antara Asisi dengan Perugia, Fransiskus bergabung ikut bertempur untuk membela kotanya. Tetapi ia ditangkap dan dipenjara di Perugia selama satu tahun. Dia ditebus oleh ayanya dan kembali ke Asisi dalam keadaan sakit dan patah semangat.

Keinginannya untuk menjadi seorang ksatria tidak pernah tercapai sebab ternyata Tuhan mempunyai rencana lain terhadapnya. Tuhan memang menginginkannya menjadi ksatria, namun bukan ksatria duniawi, melainkan ksatria surgawi bagi kaum papa.


Salib San Damiano

Hati Fransiskus gudah gulana dalam ketidak-pastian hidup. Karena itu, dia senang pergi menyepi di tempat-tempat sunyi. Salah satu tempat favoritnya adalah kapel kecil San Damiano di mana sebuah salib indah tergantung di atas altar. Suatu hari, tengah ia berlutut berdoa di depan salib itu, Fransiskus mendengar suara yang keluar dari bibir Yesus yang Tersalib, “Fransiskus, pergi dan perbaikilah GerejaKu yang kau lihat hampir roboh ini.”

Awalnya, Fransiskus memahami Gereja sebagai bangunan fisik. Namun kemudian, ia sadar bahwa Gereja bukan pertama-tama bangunan fisik melainkan lembaga sekaligus persekutuan orang-orang yang beriman dalam Yesus Kristus. Maka mulailah Fransiskus membangun Gereja dengan menghayati Injil secara radikal dalam hidupnya.

Fransiskus Berjumpa dengan Orang Kusta

Suatu hari ketika sedang menunggang kuda, Fransiskus berpapasan dengan seorang kusta. Biasanya ia sangat jijik dengan orang kusta bahkan jika mungkin dia akan berbalik menghindar. Tetapi hari itu, ia melakukan hal yang luar biasa. Daya kekuatan Ilahi telah menuntunnya. Ia mendekati orang kusta itu, kemudian ia turun dari kuda dan memeluk serta mencium si kusta.

Beberapa tahun kemudian, ketika dalam keadaan sekarat, Fransiskus mengingat kembali peristiwa yang sangat menentukan hidupnya ini. “Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku merawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan; dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Was 1-3).


Mimpi Bapa Suci Paus Innocentius III

Pada tahun 1209, Fransiskus bersama dengan kesebelas temannya berjalan ke Roma untuk bertemu dengan Paus Innocentius III. Di hadapan Paus, Fransiskus memaparkan Aturan Hidup bagi dirinya dan saudara-saudaranya. Aturan hidup itu terdiri dari beberapa kutipan Injil.

Paus ragu dengan radikalitas para pentobat dari Asisi ini. Karena itu, ia mengabaikan permohonan tersebut. Malam harinya, Paus bermimpi bahwa Basilika Lateran, gereja induk kekristenan miring di salah satu sisi dan hampir jatuh ke tanah. Tiba-tiba, ia melihat seorang pengemis kecil, hina dina berlari dari kegelapan dan menopang gereja itu dengan pundaknya. Pengemis itu tak lain adalah Fransiskus. Akhirnya, secara lesan Bapa Suci merestui Aturan Hidup Fransiskus dan para saudaranya.

Perkembangan Ordo

Cara hidup Fransiskus ini memukau banyak orang. Dua tahun setelah pertobatannya, beberapa orang segera bergabung dengannya. Mereka adalah Sdr. Bernardus Quintavalle, Sdr. Petrus Catani, Sdr. Egidius dan kemudian disusul beberapa saudara yang lain. Sepuluh tahun kemudian, Ordo ini berkembang di seluruh Eropa dengan jumlah saudara lebih dari 3.000 saudara.

Pada tahun 1212, untuk pertama kalinya seorang perempuan datang dan bergabung dengan Fransiskus. Ia adalah Klara, seorang putri dari bangsawan Offraduccio. Klara menjadi pendiri gerakan baru yang sekarang dikenal sebagai Putri Miskin Klara.

Selanjutnya, ada ratusan bahkan ribuan orang, laki-laki dan perempuan, menikah dan bujang/perawan, yang ingin mengikuti Fransiskus. Untuk mereka ini, Fransiskus menuliskan sebuah cara hidup sederhana yang kemudian dikenal sebagai Ordo Ketiga St. Fransiskus.


Fransiskus Bertemu Sultan

Ketika pecah perang salib V, Fransiskus pergi Mesir khususnya ke Kota Damietta. Ditemani oleh Sdr. Illuminatio, mereka menyeberangi arena pertempuran menuju ke perkemahan tentara muslim. Tentara muslim pun menangkap mereka dan membawa ke hadapan Sultan Melek el-Kamhil.

Tak disangka-sangka, Fransiskus dan Illuminatio diterima dengan ramah-tamah oleh sultan. Bahkan sultan berkenan mendengarkan uraian Fransiskus tentang Allah Tritunggal Mahakudus dan tentang Yesus Kristus penyelamat semua orang. Walaupun sultan tidak mau menerima pendamaian dan iman Kristen, keberanian dan kelembutan Fransiskus telah menimbulkan simpati dalam hati Sultan Melek. Sewaktu, Fransiskus dan Illuminatio berpamitan, sultan memberikan pengawal keamanan sampai batas daerah perkemahan tentara Kristen.

Saudara-saudara yang pergi di antara kaum muslim dapat membawa diri secara rohani dengan dua cara. Cara yang satu ialah: tidak menimbulkan perselisihan dan pertengkaran, tetapi hendaklah mereka tunduk kepada setiap mahkluk insani karena Allah dan mengaku bahwa mereka adalah orang Kristen. Cara yang lain ialah: mewartakan firman Allah bila hal itu mereka anggap berkenan kepada Allah, supaya orang percaya akan Allah Yang Mahakuasa, Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Pencipta segala sesuatu, dan akan Putra, Penebus dan Penyelamat, dan supaya dibabtis dan menjadi Kristen…


Natal di Grecio

Pada tahun 1224, Fransiskus merayakan Natal di Grecio. Ia ingin mendramakan kelahiran Yesus dan ingin melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana kanak-kanak Yesus berbaring dalam palungan beralaskan jerami di tengah-tengah keledai dan lembu. Fransiskus dan saudara-saudaranya mengumpulkan orang-orang sederhana dari desa-desa sekitar Grecio. Mereka sibuk membuat palungan, keledai dan lembu dibawa masuk ke tempat itu.

Malam itu, orang datang berkerumun dengan riang gembira, membawa lilin dan obor. Mereka berdesak-desakan menyaksikan perayaan itu. Di atas palungan itu, dipersembahkan misa. Fransiskus sebagai diakon menyanyikan kisah Lukas mengenai kelahiran Yesus dengan suara penuh haru. Kanak-kanak dalam palungan mula-mula dilihat orang sebagai patung yang mati. Namun, ketika dihampiri dan digendong Fransiskus, kanak-kanak itu nampaknya hidup dan bangun dari tidurnya. Semua orang yang hadir tergerak hatinya dan mencucurkan air mata sewaktu menyaksikan semua itu.

Sejak malam natal yang menakjubkan itu, semua orang Kristen senantiasa merayakan natal, merayakan kelahiran Kristus dengan membuat kandang tempat kelahiran Yesus di rumah mereka masing-masing dan di gereja.

Stigmata

Selama puasa bulan September 1224, Fransiskus ditemani beberapa sahabat yaitu Leo dan Masseo pergi ke gunung La Verna untuk berdoa. Pada malam pesta salib suci, ketika sedang berdoa sendirian di hutan, Fransiskus mendapat suatu penglihatan. Tampak olehnya, Yesus dengan rupa malaikat serafin, terpaku pada salib tetapi dalam kemuliaan. Penglihatan itu menyebabkan kaki, tangan dan lambung Fransiskus menampakkan luka-luka Yesus yang tersalib. Fransiskus merasakan sakit sekali, namun penuh kegembiraan dan kemanisan.

Setelah turun dari gunung, Fransiskus menyembunyikan luka-luka itu, meskipun terasa sakit dan berdarah. Hanya sedikit orang yang mengetahui keadaan Fransiskus itu. Klara menyediakan pembalut yang secara teratur mesti diganti. Fransiskus hampir tidak bisa berjalan lagi dan terpaksa naik keledai kalau bepergian.

Gita Sang Surya

Di kebun Biara San Damiano, dalam keadaan sakit dan menghadapi berbagai cobaan, Fransiskus menggubah sebuah syair persaudaraan semesta yang dikenal dengan nama Gita Sang Surya. Ia mengucapkan bait-bait berikut:

  • Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik, milikMulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian.
  • KepadaMu saja, Yang Mahaluhur, semuanya itu patut disampaikan, namun tiada insan satupun layak menyebut namaMu.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua mahklukMu, terutama Tuan Saudara Matahari; dia terang siang hari, melalui dia kami Kau beri terang.
  • Dia indah dan bercahaya dengan sinar cahaya yang cemerlang; tentang Engkau, Yang Mahaluhur, dia menjadi lambang.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang, di cakrawala Kaupasang mereka, gemerlapan, megah dan indah.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Angin, dan karena udara dan kabut, karena langit yang cerah dan segala cuaca, dengannya Engkau menopang hidup mahkluk ciptaanMu.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Air; dia besar faedahnya, selalu merendah dan murni.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Api, dengannya Engkau menerangi malam; dia indah dan cerah ceria, kuat dan perkasa.
  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami, dia menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.

Ketika Asisi terancam perpecahan akibat orang-orang saling iri dan saling membenci, Fransiskus menambahkan satu bait untuk perdamaian dalam madahnya ini. Ia mengutus saudara-saudaranya untuk menyanyikan bait ini di depan kelompok-kelompok yang bertikai. Setelah mereka mendengarkan bait ini, mereka saling memaafkan dan berdamai kembali dengan saling berpeluk-pelukan. Inilah bait perdamaian itu:

  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena mereka yang mengampuni demi kasihMu, dan yang menanggung sakit dan duka derita.
  • Berbahagialah mereka yang menanggungnya dengan tenteram, karena olehMu, Yang Mahaluhur, mereka akan dimahkotai.

Ketika akhir hidupnya, ketika maut sudah di depan pintu, Fransiskus menambahkan satu bait lagi mengenai saudari maut:

  • Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput insan hidup satu pun.
  • Celakalah mereka yang mati dengan dosa berat; berbahagialah mereka yang didapatinya setia pada kehendakMu yang suci, karena mereka takkan ditimpa maut kedua.
  • Pujalah dan pujilah Tuhanku, bersyukurlah dan mengabdilah kepadaNya dengan merendahkan diri serendah-rendahnya.

Wafat dan Kanonisasi

Ketika Fransiskus merasa ajalnya mendekat, ia memanggil semua saudara yang hadir di Portiuncula. Ia menyuruh mengadakan perjamuan perpisahan, seperti yang dibuat Yesus pada malam menjelang wafatNya. Injil yang dibacakan selama perjamuan itu adalah bagian Injil Yohanes yang bercerita tentang Yesus membasuh kaki para muridNya. Memang itulah yang selalu dikehendaki Fransiskus: menjadi hamba dan pelayan semua orang. Kemudian, Fransiskus menyuruh para saudara menanggalkan pakian yang dipakai Fransiskus dan dalam keadaaan telanjang ia diletakkan di tanah, sama seperti Yesus telanjang, miskin secara total bergantung di salib yang keras. Sekali lagi, Fransiskus memberkati para saudaranya, lalu sambil menyanyi ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Bersama Yesus, Fransiskus juga dapat berkata, “Selesailah Sudah”.

Akhirnya pada 3 Oktober 1226 sore hari, ia bertemu muka dengan Tuhannya yang di dunia ini dilihatnya dalam rupa roti di altar. 4 Oktober 1226, Fransiskus dikuburkan di Gereja San Giorgio di Asisi. Dua tahun kemudian tepatnya 6 Juli 1228, Fransiskus dikukuhkan sebagai orang kudus oleh Paus Gregorius IX.