Jeritan Bumi dan Jeritan Kaum Papa [bagian 3]

19/09/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 283 kali

[ < ] [ Daftar Isi ]

PRAXIS

Sebagai Fransiskan, kita tidaklah dipanggil untuk menjawab pertanyaan “menghadapi krisis ekologis ini, apa yang hendaknya kita lakukan?”, melainkan terlebih “di tengah-tengah krisis ekologis ini, apa yang hendaknya kita lakukan?” Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, sejauh mana keadaan ini sudah berdampak pada diri kita, dan barulah kemudian kita dapat mengambil posisi perihal bagaimana kita dapat memberikan jawaban. Kita harus mulai dari suatu spiritualitas yang terserap masuk ke dalam dunia, sambil merasakan diri kita sebagai bagian dari kosmos, tetapi juga bagian dari permasalahan itu sendiri. Kalau tidak, maka kita hanya akan sampai pada melihat krisis ini sebagai sesuatu yang jauh terpisah dari kehidupan kita, bahkan bila dampak-dampaknya sudah di ambang pintu pun, kita tetap berpendapat bahwa semua itu terjadi di negara-negara yang jauh di sana dan di tempat-tempat lain, bukan di tempat kita sendiri.

Akhirnya, hendaknya dicatat bahwa kehancuran bagian mana pun dari saudari Bumi ini, menimpa setiap orang mana pun, dan berdampak pada seluruh bumi, karena segala sesuatu itu saling berkait-kaitan[1]. Kita harus berhati-hati terhadap bumi yang menjadi tempat kita hidup ini. Kita harus mendengarkan jeritan Bumi: hanya dengan jalan ini, spiritualitas kita akan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

I. Mengevaluasi Gaya Hidup Kita

Kami ingin mengajak kalian, di dalam lingkup persaudaraan kalian sendiri, untuk berdiskusi perihal gaya hidup kita dilihat dari sudut pandang lingkungan di mana kita de fakto hidup. Pada umumnya, terdapat kecenderungan berpikir bahwa hampir semua tantangan dan ajakan-ajakan untuk berbuat itu diarahkan kepada dunia di luar sana, padahal panggilan utama demi pertobatan-gaya-hidup itu berkaitan dengan kita sendiri dan persaudaraan kita. Akan menjadi sangat bermanfaat untuk mendiskusikan bagaimana setiap saudara dalam persaudaraan kita memandang isyu perubahan iklim, pertama pada taraf pribadi dan kemudian pada taraf komunitas.

Pasal pertama dari Laudato sì dipersembahkan pada masalah membaca tanda-tanda zaman dan Paus berkata, “Namun kita hanya perlu menengok sekilas saja kenyataan-kenyataan itu untuk dapat melihat bahwa rumah kita bersama ini sedang runtuh jatuh ke dalam keputus-asaan yang serius.”[2] Pasal pertama dari Ensiklik itu menyodorkan enam bidang yang membutuhkan analisa yang cermat: semua itu kami sertakan dalam buku bimbingan ini, karena kami yakin, keenamnya itu memberikan fondasi yang kokoh bagi refleksi kita, karena berakar pada Magisterium Gereja. Kami tawarkan sebuah ringkasan yang singkat dari setiap bidang itu[3], dengan maksud untuk mengundang timbulnya refleksi, baik pribadi maupun yang dibagikan bersama.

Pencemaran dan perubahan iklim (LS 20-26)

Ada banyak bentuk pencemaran yang menimpa setiap orang dalam hidupnya sehari-hari. Setiap tahun dihasilkan ratusan juta ton sampah, dan kebanyakan bukan yang bisa hancur dengan sendirinya, atau sangat beracun dan mengandung radio aktif. Inilah masalah-masalah yang berkaitan erat dengan budaya “pakai-buang” kita. Berkaitan dengan perubahan iklim, Paus menyatakan bahwa sekarang ini sedang terjadi pemanasan global yang sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Air (LS 27-31)

Air minum merupakan sumber yang vital, karena air itu penting sekali (esensial) bagi hidup manusia dan bagi sistem hidup di darat dan di laut. Ensiklik ini sangat jelas dalam pernyataannya bahwa akses ke air minum yang aman adalah hak azasi manusia yang mendasar, dan bersifat fundamental dan universal.

Hilangnya keaneka-ragaman jenis kehidupan (LS 32-42)

Mustahillah membayangkan punahnya spesies-spesies tanaman dan binatang. Yang hilang itu tidaklah hanya terbatas pada musnahnya sumber-sumber yang yang harus ada, tetapi termasuk juga punahnya spesies-spesies yang memiliki nilai yang intrinsik. Kita harus mengakui adanya kenyataan bahwa semua ciptaan yang beraneka ragam itu yang satu berkaitan dengan yang lain, dan bahwa segenap umat manusia itu saling bergantungan.

Mutu hidup dan kemerosotan sosial semakin jelek (LS 43-47)

Kita harus menyadari adanya akibat pada kehidupan manusia dari kemerosotan lingkungan hidup, perkembangan gaya hidup sekarang ini dan budaya “pakai-buang”. Suatu analisa pada akibat-akibat ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi selama dua abad terakhir ini tidak telah membawa orang ke perkembangan yang nyata atau mutu hidup yang lebih baik.

Ketimpangan global (LS 48-52)

Paus Fransiskus berkata bahwa “kebobrokan lingkungan dan masyarakat menimpa orang-orang yang paling rentan pada planet bumi kita ini.” Dampak itu paling besar menimpa pada orang-orang yang paling miskin dan paling tersisihkan, yang merupakan mayoritas penduduk Bumi ini, dan yang seringkali diperlakukan sebagai bahan tambahan saja pada diskusi-diskusi internasional – atau sebagai kerusakan sampingan belaka.

Jawaban yang lemah pada permasalahan-permasalahan lingkungan hidup (LS 53-59)

Kendati kita belum pernah menyalah gunakan rumah kita bersama ini (bumi) separah dua ratus tahun terakhir ini, kita telah tak mampu menemukan pemecahan-pemecahan yang serasi pada krisis ini. Ini menunjukkan bahwa politik internasional ada di bawah teknologi global dan finansial. “Usaha tulus mana pun yang muncul dari dalam masyarakat demi untuk memperkenalkan perubahan, dipandang sebagai suatu gangguan yang berdasarkan ilusi romantis, atau sebagai sebuah halangan yang harus disingkirkan.”

II. Menemukan dan merumuskan sebuah gaya hidup yang baru

Dimensi Alkitabiah

Dalam dunia yang diciptakan oleh Allah, siapakah kita dan di manakah kita ini? Masihkah kita memandang diri kita ini sebagai tuan-tuan alam ciptaan, atau sebagai penjaganya? Apakah kita menganggap diri sebagai pusat segala ciptaan, atau apakah kita mengakui diri kita ini sebagai salah satu dari ciptaan Tuhan?

Mengakui bahwa Tuhan adalah sang Pencipta, berarti bahwa, sebagai ciptaan-Nya, kita semua adalah saudara-saudara dan saudari-saudari bagi semua alam ciptaan ini, dan bahwa dunia tidaklah hanya untuk manusia, tetapi adalah rumah kita bersama, yang harus dilindungi?

Yesus membawa pesan perdamaian dan harmoni alam Ciptaan ini.[4] Bagaimana kita dapat membantu dalam memajukan integritas dan harmoni alam Ciptaan ini?

Dimensi kegerejaan (eklesial)

Mengakuikah kita bahwa hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan Ciptaan itu saling tergantung dengan begitu erat?

Apakah kita menghargai nilai perayaan Ekaristi sebagai suatu tindakan cinta kosmis, yang di dalamnya alam raya ini kembali kepada Tuhan dalam ibadah penuh kesukaan?[5]

Sebagai Fransiskan, apakah kita menggabungkan diri dengan orang-orang lain yang berkehendak baik, dalam melindungi lingkungan hidiup kita, dengan gaya hidup yang ugahari dan mengambil inspirasi kita dari Ekaristi?[6]

Dimensi Fransiskan

Akankah Anda berkata bahwa kita ini sungguh sadar bahwa alasan yang paling mendasar bagi komitmen ekologis kita adalah alasan “teologis”, yang berarti bahwa alasan itu mengacu pada Allah sebagai Pencipta segala sesuatu?

Apakah kita para Fransiskan ini sungguh-sungguh merupakan tanda persaudaraan universal pada umat manusia dan setiap ciptaan? Apakah relasi persaudaraan kita dengan setiap orang sungguh merupakan relasi orang-orang dina, yakni menjadi yang terkecil dari semuanya?

Dimensi Ilmiah

Bagaimana ilmu pengetahuan sekarang ini memahami isyu2 yang muncul dari interaksi ekosistem, perubahan iklim, biosphere dan sistem lain lagi yang banyak yang membentuk ‘alam semesta’ itu? Pemecahan-pemecahan mana yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan?

Setujukah kita, bahwa, demi menemukan pemecahan-pemecahan yang tepat atas masalah-masalah iklim, kita harus selalu berhadapan dengan dua tantangan – dalam bidang lingkungan hidup dan bidang pendidikan (sosial) – karena dalam konteks ekologi integral, keduanya sesungguhnya membentuk satu isyu saja.

Perihal debat ilmiah dan sosial; bagaimanakah kita dapat meyakinkan diri bahwa debat ini adalah “debat yang luas, dapat dipertanggungjawabkan, ilmiah dan sosial … mampu mempertimbangkan semua informsi yang tersedia, dan mampu memanggil setiap benda dengan nama-nama mereka[7]” sehingga bersama-sama dapat dipertanggungjawabkan, bertahan lama dan inklusif?

Bagaimana kita membangun suatu pendekatan yang lebih sistematis dalam rangka menyapa isyu-isyu iklim yang berlaku sekarang ini?

Pasal Pertama Laudato Sì

Setujukah kalian pada Paus bahwa Bumi, rumah tinggal kita bersama ini merosot ke dalam keadaan serius yang tak dapat diperbaiki lagi? Kejelasan bukti mana saja dapat kita ajukan demi mendukung pendapat ini?

Dalam tahun-tahun terkahir ini telah terjadi diskusi yang sangat panas perihal sebab-musabab pemanasan global. Paus menegaskan bahwa, kendati terdapat banyak berbagai sebab, yang paling penting adalah yang berhubungan dengan kegiatan manusia. Bagaimana pendapatmu?

III. Menghayati suatu gaya hidup baru

Sebuah rencana bagi Persaudaraan dan bagi Entitas (Porvinsi atau Kustodi)

Secara pribadi, komunitas dan sosial, apa yang dapat kita lakukan menghadapi sebab-sebab perubahan iklim ini?

Dalam refleksi yang disediakan dalam bahan-bahan sumber ini, kami mengundang kalian untuk mengambil keputusan praktis supaya dapat membangun “sebuah program untuk membantu memastikan bahwa dimensi ini menjadi bagian dari gaya hidup kita dan kehidupan serta kegiatan pastoral dan sosial dari Entitas-entitas.”[8] Kita melakukan hal ini karena menyadari identitas kita sebagai Saudara Dina yang berkomitmen untuk bergerak maju ke arah periferi (pinggiran). Demi mendorong bergeraknya proses discernment itu, sekarang kami dengan singkat akan menyajikan beberapa topik yang diulas lebih luas dalam dokumen Kantor JPIC “Care for Creation in the Daily Life of the Friars Minor.”[9]

Air

Air merupakan sumber yang dapat diperbarui, namun terbatas. Kendati tiga per empat muka Bumi ini digenangi air, hanya 1% dapat dipergunakan bagi kegiatan manusia. Dengan cara apa pun kita memakainya (irigasi, pendinginan, sanitasi dan sebagainya), jumlah penguapan air semakin bertambah. Semua air yang menguap tidaklah pasti kembali ke permukaan tanah, karena sebagian besar dari air yang menguap itu akan jatuh kembali ke laut dalam bentuk hujan. Hal ini, bersama dengan perubahan-perubahan iklim yang kiranya pasti menjadi sebab cuaca yang semakin mengering, akan menghasilkan semakin kurangnya air yang tersedia bagi konsumsi manusia. Karena alasan-alasan inilah, tujuan kita hendaknya lebih pada usaha kita untuk mempergunakan air itu secara lebih bertanggungjawab, dan bukan pada menambah penyediaan air.

Beberapa nasehat praktis: jangan membuang-buang air sewaktu mandi dan lain-lain; periksalah kebocoran air dalam rumah tangga kalian; siramilah kebun pada waktu malam, atau pada dini hari; hindarkanlah membuang sisa-sisa (oli) sembarangan; pasanglah alat-alat yang membutuhkan sedikit air untuk penggunaan rumah tangga; setiap bulan periksalah penggunaan air pada meteran kalian.

Bagaimana kita dapat mengurangi penggunaan air dalam komunitas-komunitas kita?

Energi

Dimana pun manusia terlibat dalam kegiatan sehari-hari, diperlukan energi. Benda-benda di sekitar kita, membutuhkan energi supaya dapat bekerja, sekurang-kurangnya diperlukan energi dalam memproduksi barang-barang itu. Untuk menghasilkan energi ini sejumlah besar bahan bakar fosil (minyak, batubara, gas alam) dibakar, dan ini menimbulkan emisi berbagai gas seperti karbon dioxide (CO2), yang menghasilkan “efek rumah kaca”, salah satu sebab utama dari perubahan iklim. Jumlah yang semakin meningkat berbagai gas ini akan mempengaruhi pertukaran energi antara wilayah dalam dan luar atmosfer kita. Hal inilah yang menyebabkan perubahan iklim dan mempengaruhi keseimbangan planet bumi kita.

Beberapa nasehat praktis: matikan lampu bila engkau meninggalkan kamar; cabutlah alat-alat listrik sesudah pemakaian selesai; perbesarlah penggunaan sinar alami; hindarilah penggunaan air condition yang berlebihan; pakailah teknolgi LED; pilihlah energi yang dapat diperbarui; belilah sebanyak mungkin peralatan yang membutuhkan energi secara efisien; pasanglah panel surya; setiap bulan periksalah konsumsi listrik pada meteran anda.

Apa yang dapat kita lakukan? Bersama-sama buatlah keputusan untuk mempergunakan energi secara efisien, hemat dan bertahan lama.

Sampah dan Sisa-sisa

Konsumerisme tak dapat dipisahkan dari pemborosan sumber-sumber alam, polusi dan semakin bertambahnya jumlah turunan sampah dalam segala bentuknya. Dari manakah kita mengambil bahan baku mentah untuk konsumsi semacam itu? Akan ke manakah semuanya itu bermuara? Marilah kita ingat bahwa kemampuan alam menyediakan bahan-bahan mentah dan menyerap pemborosan kita itu sungguh terbatas.

Beberapa nasehat praktis: hindarilah penggunaan produk-produk sekali pakai lalu dibuang, khususnya yang berbahan plastik atau PET. Gunakanlah kembali berbagai sampah yang biasanya dibuang begitu saja, seperti kardus, kantong dan amplop. Pilihlah produk-produk yang terbuat dari bahan yang dapat didaur ulang. Doronglah semangat untuk menggunakan kembali barang-barang yang biasanya terbuang itu.

Produk-produk pakai-buang mana yang kalian pergunakan di rumah? Adakah darinya yang dapat diganti atau dihindari? Produk-produk mana dapat dipergunakan lagi, dan mana yang dapat didaur ulang?

Kertas

Kertas, barang yang sangat sering kita pergunakan, memerlukan banyak pohon yang ditebang dan harus ditanam jenis pohon yang cepat bertumbuh, dengan akibat munculnya bahaya penggundulan dan perubahan-perubahan ekologis, khususnya di negara-negara miskin tempat paling banyak ditemukannya kayu. Sebagaimana kita ketahui, hutan itu essensial demi keseimbangan hidup pada planet bumi.

Beberapa nasehat yang praktis: cobalah mengurangi penggunaan kertas. Sebelum kamu mencetak sesuatu, pikirkanlah apakah itu sungguh perlu dan harus. Cetaklah pada kedua sisi kertas. Lebih baik lagi pergunakanlah kertas yang dapat didaur ulang atau ramah lingkungan. Pakailah kembali kertas-kertas bungkus. Pisahkanlah kertas dari karton dan buanglah ke dalam kotak sampah yang benar supaya dapat didaur ulang.

Apa yang dapat kita kerjakan?

Transportasi

Kita hendaknya sadar akan adanya kenyataan bahwa kegiatan transportasi menghabiskan harga yang tinggi dari pihak manusia, sosial dan lingkungan hidup, masih ditambah lagi: emisi gas rumah kaca ke dalam atmosfer (lewat bensin dan barang-barang turunannya). Transportasi merupakan sektor yang paling banyak mengeluarkan gas rumah kaca. Banyak penyakit pernafasan dan kematian yang dini, juga macam-macam penyakit sistem saraf, melanda berkat polusi udara. Ada ribuan kematian setiap tahun di jalan, belum lagi bicara perihal dampak negatif pada lingkungan yang diakibatkan oleh jalan raya dan alat transportasi berkecepatan tinggi.

Namun, transportasi adalah bagian yang essensial dari nyaris semua kegiatan kita dan akan menjadi omong kosong untuk meninggalkannya. Karena itu kita perlu mencari alternatif dan mengambil pola-pola transportasi yang lebih patut dipertahankan.

Nasehat praktik yang khusus: pikirkanlah kembali pemakaian mobil dalam biara: pergunakanlah sebanyak mungkin transportasi umum. Doronglah untuk berjalan kaki dan bersepeda dalam komunitas kita. Belilah mobil yang memakai energi rendah.

Dari pilihan-pilihan itu, mana yang dapat dilaksanakan oleh komunitas kita?

Makanan

Produksi makanan menjadi semakin lebih agresif. Misalnya, api yang telah menghanguskan hutan hujan di Amazon itu disebabkan oleh, antara lain, pertanian biji kedelai yang sangat intensif demi untuk menyediakan makanan binatang-binatang industri peternakan dan pertanian.

Pertanian yang intensif mempergunakan pestisida dan pupuk kimia, yang meracuni ladang-ladang dan air tanah dan meninggalkan endapannya dalam makanan. Pemeliharaan ternak menjadi seperti pabrik, dengan binatang-binatang yang diperlakukan seperti satuan-satuan suku cadang dalam baris perakitan. Kapal-kapal industri ikan merusak laut dalam. Promosi makanan transgenik atau makanan yang telah diubah genetikanya dipertanyakan oleh banyak ilmuwan, yang tetap berpendapat bahwa makanan semacam itu membawa akibat negatif bagi lingkungan hidup dan pertanian (terlalu banyak mempergunakan racun, polusi dari panenan pertanian di sekitarnya, kehilangan keaneka-ragaman hayati [biodiversity]).

Beberapa nasehat praktis: makanlah makanan segar, hindari makanan cepat saji, pilihlah makanan organik dan makanan musiman. Hindari daging, manis-manisan dan lemak yang berlebihan. Jangan membuang-buang makanan.

Adakah hal lain lagi yang dapat kita lakukan demi memperbaiki nuritisi kita?

Dokumen-dokumen lain yang dapat bermanfaat untuk mengembangkan rencana ekologis bagi Profinsi atau Kustodi kalian.

Franciscans and Environmental Justice: the relationship between ecology and social justice.
(Fransiskan dan Keadilan Lingkungan hidup: hubungan antara ekologi dan keadilan sosial.)

Disiapkan oleh kantor JPIC Kuria General, 2011. Dokumen ini mencoba menjawab tantangan-tantangan krisis lingkungan hidup, dari perpektif spiritualitas Fransiskan, dengan mengusulkan sebuah etika yang baru bagi suatu dunia yang sudah menjadi satu. Tambahan lagi, dokumen ini menyajikan kesaksian beberapa komunitas dari Ordo kita. Akhirnya, diundangnya pula untuk membaca tanda-tanda zaman.

Dapat diperoleh dalam bahasa Inggeris:

http://www.ofm.org/01docum/jpic/EnvironmentalJustice_ENG.pdf

dan bahasa-bahasa lain (Spanyol, Italia, Jerman dan Jepang): http://www.ofm.org/ofm/?page_id=439

 

Pilgrims and Strangers in this World. Resource for Ongoing Formation from Chapter IV of the CCGG.
(Peziarah dan Orang Asing di Dunia. Sumber untuk Pendidikan Berkelanjutan dari Pasal IV Konstitusi Umum).

Khususnya Bab III dokumen ini, “Caretakers of Creation”, yang membicarakan isyu kemerosotan lingkungan hidup. Dokumen ini meneropong tema ini melalui lensa pesan Kristiani dan Fransiskan. Dikemukakan beberapa pengalaman dari seluruh Ordo, dan dirumuskannya pula sebuah usul untuk melaksanakan rencana hidup pribadi dan persaudaraan, yang berakar dalam Alkitab, dokumen-dokumen Gereja dan Sumber-sumber Fransiskan.

Dapat diperoleh dalam bahasa Inggris:

http://www.ofm.org/01docum/jpic/sussidioING.pdf

dan dalam bahasa-bahasa lain (Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, Portugis dan Polandia):

http://www.ofm.org/ofm/?page_id=439

 

SEBUAH DOA KATOLIK DALAM KESATUANNYA DENGAN CIPTAAN

Bapa, kami memuji-Mu bersama dengan semua ciptaan-Mu
Mereka semua muncul dari tangan-Mu yang Mahaperkasa;
Mereka semua adalah milik-Mu, dipenuhi dengan kehadiran dan cinta-Mu yang lembut.
Terpujilah Engkau!

Yesus, Putera Allah,
melalui Engkaulah semua yang ada ini tercipta.
Engkau sendiri terjelma dalam rahim Maria Bunda-Mu,
Engkau menjadi bagian dari dunia ini,
dan Engkau pun memandang dunia ini dengan matainsani.
Sekarng Engkau hidup dalam setiap ciptaan
dalam kemuliaan kebangkitan-Mu.
Terpujilah Engkau!

Roh Kudus, dengan cahaya-Mu
Engkau membimbing dunia ini menuju kasih Bapa
dan mendampingi ciptaan dalam pergumulannya.
Engkau juga tinggal dalam hati kami
dan Engkau mengilhami kami untuk melakukan yang baik.
Terpujilah Engkau!

Allah Tritunggal, persekutuan menakjubkan dari kasih nan tak terhingga,
dalam keindahan alam semesta,
karena semua yang ada ini berbicara perihal Dikau.

Bangkitkanlah puji dan rasa syukur kami
karena setiap hal yang telah Engkau ciptakan.
Berilah kami rahmat untuk merasa diri bersatu tergabung dengan mesranya
dalam segala hal yang ada ini.

Tuhan penuh kasih, tunjukkanlah tempat kami dalam dunia ini
sebagai saluran kasih-Mu
bagi semua ciptaan di dunia ini,
karena tak satu pun dari semuanya ini terlupakan dalam pandangan-Mu.

Cerahilah mereka yang memiliki kekuasaan dan uang
supaya mereka dapat menghindari dosa acuh tak acuh,
supaya mereka dapat mencintai kepentingan bersama, mengangkat yang lemah,
dan menaruh perhatian pada bumi tempat kami hidup ini.
Orang-orang miskin dan orang-orang papa sekarang ini tengah menjerit.

Ya Allah, rengkuhlah kami dengan kekuatan dan terang-Mu,
dampingilah kami dalam melindungi semua kehidupan,
supaya dapat mempersiapkan masa depan yang lebih baik,
demi kedatangan Kerajaan-Mu
kedatangan keadilan, kedamaian, cinta dan keindahan-Mu.
Terpujilah Engkau!
Amin.

Naskah seluruhnya ada di: http://www.ofm.org/ofm/CuraCreato-EN.pdf

———————————

[1]      Bdk. LS 92.

[2]      LS 61.

[3]      Untuk studi lebih lanjut, silahkan lihat “Guide to the study of the Encyclical Laudato sì”, yang disiapkan oleh kelompok kerja JPIC keluarga Fransiskan di Roma, “Romans VI”. Tersedia dalam bahasa Inggris, Spanyol, Italia, Yerman, Perancis, Indonesia, Korea, Portugis. http://francis35.org/

[4]      Bdk. Mat 8:27; Yoh 1:1-18; Kol 1:16.

[5]      Bdk. LS 236.

[6]      Bdk. LS 10, 236.

[7]      LS 135

[8]      Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, Chapter Decision 11.

[9]      Untuk studi lebih lanjut, lihatlah dokumen itu sendiri. Tersedia dalam bahasa Inggris, Spanyol, Italia, Jerman dan Jepang: http://www.ofm.org/ofm/?page_id=439&lang=en

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *