Jeritan Bumi dan Jeritan Kaum Papa [bagian 2]

19/09/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 246 kali

[ < ] [ Daftar Isi ] [ > ]

KATA PENDAHULUAN

Jeritan Bumi dan jeritan orang-orang papa tidak lagi dapat diabaikan; sudah mendesak untuk diberikan suatu jawaban. Sungguh, Ensiklik historis dari Paus Fransiskus, Laudato sì[1], telah mengirimkan kepada seluruh dunia suatu pesan yang sangat kuat perihal urgensi krisis lingkungan. Sebagai Fransiskan, kita dipanggil untuk “bekerja sama sebagai alat-alat Tuhan demi perawatan alam ciptaan”[2] dengan cara manapun yang mungkin.

Kapitel General 2015, melanjutkan saja Kapitel sebelumnya[3], terus menerus mendorong kita membangun hubungan persaudaraan yang praktis dalam hal pemeliharaan alam ciptaan ini. Sebelum penerbitan Laudato sì, Kapitel itu memberikan dua amanat berikut ini:

Definitorium General supaya mengeluarkan sebuah Bimbingan Studi dalam bidang pemeliharaan ciptaan, yang mempunyai dasar yang kokoh pada ranah biblis, kegerejaan, Fransiskan dan ilmiah, dan memberikan tuntunan sehingga Entitas-entitas kita dapat mampu menjawab tantangan-tantangan ekologis zaman sekarang ini.[4]

Setiap Entitas, melalui Moderator Ongoing Formation, Animator Evangelisasi, dan Animator JPIC, dan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk dari Bimbingan Studi yang umum ini, harus mempersiapkan sebuah program untuk membantu timbulnya kepastian bahwa dimensi ini menjadi bagian dari gaya hidup kita dan bagian dari hidup serta kegiatan pastoral dan sosial setiap Entitas. Tujuan ini akan dievaluasi dalam pertemuan-pertemuan para Presiden Konferensi dengan Definitorium General.[5]

Dalam rangka menaati kedua amanat itu, sekarang kami mempersembahkan sebuah sumber yang singkat, yang kami harap, akan mendorong para Saudara Dina mengambil langkah-langkah yang nyata menuju ke praktek-praktek yang baru. Kami mempergunakan refleksi-refleksi yang mendalam pada nilai-nilai JPIC yang telah diterbitkan oleh Ordo sebagai titik berangkat kita, dan kami yakin bahwa pengalaman adalah jalan yang unggul untuk memamahami dan mempelajari sesuatu.

Dokumen Kapitel General 2015 menegaskan bahwa kita sekarang ini sedang mengalami banyak perubahan yang mendasar, seperti revolusi ekonomi dalam kaitannya dengan globalisasi; revolusi digital, dan tantangan-tantangan bio-ethik. Perubahan-perubahan ini disertai dengan bentuk-bentuk baru kemiskinan, dan keadaan-keadaan lingkungan yang kompleks, seperti perubahan iklim, perusakan hutan atau deforestasi dan hilangnya keaneka-ragaman hayati (biodiversity)[6]. Dihadapkan pada berbagai masalah ini, dapatlah dimengerti bahwa seseorang bertanya-tanya apa yang dapat diperbuat oleh kita, para Saudara Dina; mengapa masalah-masalah ini tidak dipecahkan oleh para spesialis saja? Bagaimanapun juga, kita tidak dapat menutup mata dan melarikan diri di dalam biara kita; bila kita dengan tulus melihat di sekeliling kita, haruslah kita mengakui bahwa rumah kita bersama sedang terseok menuju kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi[7]. Karena itu, semangat yang menjiwai dokumen ini adalah suatu kerinduan dan keinginan untuk memeriksa dan menyelidiki cara hidup kita (yang sesekali kita pun menghabiskan sumber-sumber alam bumi seolah-olah sumber-sumber itu tak kan pernah habis)[8], supaya membantu kita dapat memeluk suatu jalan hidup yang baru.

Kita haruslah dengan aktif menganjurkan bahwa “spiritualitas ekologis” yang dijelaskan oleh Sri Paus itu jangkauannya melampaui sikap arogan manusia yang dalam hubungannya dengan alam menjadikan diri manusia menjadi pusatnya (anthroposentris). Spiritualitas ekologis itu pun mengundang kita untuk mengakui dengan penuh kerendahan hati bahwa kita ini adalah ‘orang-orang dina’ dan bawahan setiap insan, termasuk Alam Ciptaan (et est subditus omnibus”, kata St. Fransiskus[9]). Tidak ada ekologi yang benar tanpa suatu antropologi yang seimbang[10]. Suatu sikap baru yang penuh hormat, takjub, kekaguman, dan rasa syukur hendaknya menjadi fondasi hubungan yang baru ini. Pada kenyataannya, sebelum kita berbicara perihal Bumi, pertama-tama kita haruslah ingat untuk bersyukur kepada Tuhan dan Ciptaan-Nya karena telah memelihara kita sedemikian baiknya. “Kita bukanlah Tuhan. Bumi ini sudah ada sebelum kita dan bumi ini pun telah diberikan kepada kita.”[11] Makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan dan udara yang kita hirup, semua itu adalah anugerah alam ciptaan Allah bagi kita! “Segenap benda alam semesta ini berbicara perihal cinta Tuhan, rasa sayang-Nya yang tak terbatas pada kita. Tanah, air, gunung-gemunung: semuanya, sesungguhnya, adalah kepedulian kasih Allah.”[12]

Namun spiritualitas ini perlu diterjemahkan ke dalam perbuatan. Ini berarti adanya panggilan ke arah suatu “pertobatan ekologis” dari hati, yang mencakup rasa syukur, kesederhanaan dan keugaharian – kemampuan untuk berbahagia dengan hal-hal yang remeh dan kecil – supaya orang tidak terpasung dalam ketidak-bahagiaan, dan hanya memikirkan apa yang tidak dimilikinya[13]. Gaya hidup semacam ini dapat didukung dengan kebajikan Fransiskan yang sudah kita kenal, yakni kedinaan, minoritas, yang mengundang kita untuk senantiasa memperbarui jalan hidup kita, dengan senantiasa memberi perhatian khusus kepada segala hal pinggiran apapun bentuknya. Itu berarti panggilan untuk semakin kurang konsumeritis, kurang memangsa alam lingkungan hidup di sekitar kita. “Sekali lagi kita sekarang ini dipanggil untuk berani keluar dari kenyamanan rumah dan kehidupan kita”[14] dan bergerak ke arah pinggiran. Semua ini dengan terang benderang memantulkan suatu gaya hidup dan kesederhanaan Fransiskan, yang dipandang tidak sebagai suatu kebajikan dalam dirinya sendiri, melainkan sebagai suatu cerminan bagaimana Tuhan telah memilih berelasi dengan kita. Pertama-tama Dia menjadi sederhana dan miskin demi kepentingan kita! Melalui gaya hidup yang diperbarui, kita akan menjadi semakin dekat dengan mereka yang miskin, yang sungguh menjadi kurban dari krisis ekologi sekarang ini.

Dengan alasan-alasan sedemikian itulah sumber ini dipersembahkan kepada semua Saudara, sehingga para Saudara dapat memberikan jawaban secara nyata dan praktis kepada jeritan Bumi, demikian juga kepada jeritan mereka yang miskin pada zaman kita sekarang ini!

Dimensi Biblis Alkitabiah

Dalam Laudato sì Paus Fransiskus menegaskan bagaimana Kej 1:28 telah disalah-tafsirkan. Ayat Alkitab yang berbunyi, “taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan ….” secara keliru telah ditangkap sebagai izin untuk mengeksploitasi alam demi tujuan-tujuan manusia. Tetapi pemahaman yang lebih mendalam atas ceritera Penciptaan itu, mengantar kita ke arah butir-butir diskusi yang berikut:

Pertama: Tuhan itu pencipta segala sesuatu. Hanya Dia sendirilah yang membuat segala sesuatu ini ada. Jadi, dalam dunia yang diciptakan oleh Tuhan, dan dunia itu adalah kita, maka di manakah letak dan kedudukan kita ini?

Ke dua: kendati Tuhan itu adalah pencipta segala sesuatu, Dia membagikan kekuasaan-Nya. Dengan penuh kasih Tuhan mengarahkan Alam Ciptaan itu ke arah maksud tujuannya sendiri. Bumi menghasilkan tetumbuhan; air menghasilkan rawa-rawa untuk makhluk hidup; matahari dan bulan untuk mengatur (rãdã) hari dan malam; dan umat manusia telah dianugerahi (dipinjami) kekuatan nyata untuk mengatur (rãdã) Bumi. Kekuasaan untuk mengatur ini diberikan atau didelegasikan oleh Tuhan, kekuasaan ini bukanlah milik kita sendiri. Bagaimana kita dapat menjawab atas kemurahan hati ini?

Ke tiga: Ciptaan itu adalah kosmos, alam semesta. Pada mulanya hanya ada kekacauan, namun dengan sarana Penciptaan Tuhan memperkenalkan tertib dan susunan (struktur), melalui rencana penuh kasih bagi semua hal. Setiap ciptaan mempunyai fungsinya sendiri dan mendapatkan tempat dalam keseluruhan yang menakjubkan ini, sesuatu yang mengundang decak kagum dan hormat, – sebagaimana St. Fransiskus Asisi dan Paus Fransiskus mengingatkan kita, – serta menimbulkan kekaguman dan syukur.

Ke empat: Ciptaan itu baik – sungguh sangat baik – sebagaimana diinginkan dan dimaksudkan oleh Allah. Alam semesta ini tidaklah dilahirkan dalam peperangan, pertempuran atau pertentangan, melainkan tanpa kekerasan dan tanpa perjuangan, tetapi diciptakan melalui sabda Allah dan perbuatan ilahi. Demikian juga, manusia dari asal usulnya bukanlah serigala yang seorang terhadap yang lain (Hobbes), melainkan pada asal mulanya diciptakan dalam keadaan baik, yang satu bertanggung-jawab pada yang lain dan pada semua Ciptaan.

Ke lima: Bumi adalah rumah bagi semua makhluk bumi ini. Bumi ini bukanlah hanya untuk manusia, tetapi juga tempat tinggal atau rumah bagi semua Ciptaan Allah. Manusia bukanlah satu-satunya yang diberkati Allah, burung-burung dan ikan dan setiap benda ciptaan ini diberkati oleh Allah. Kita harus mulai berpikir dalam kosa kata Keluarga Bumi, atau Komunitas Bumi, dan bukan semata-mata komunitas umat manusia di Bumi. Betapa lebih jelek lagi bila kita sampai berkesimpulan hanya memikirkan diri kita sendiri sebagai satu-satunya yang bertahan hidup! Akhirnya, sesuai dengan Alkitab, puncak dari ceritera Penciptaan adalah Shabbat. Berlawanan dengan banyak bacaan-bacaan lain dari ceritera itu, titik tertinggi tidaklah sudah dicapai ketika manusia diciptakan pada hari ke enam – sebaliknya, puncaknya adalah hari ke tujuh, hari yang disucikan oleh Tuhan. Shabbat, hari yang ke tujuh yang diberkati oleh Allah, mengingatkan kita bahwa dunia ini adalah tangan Allah yang penuh kasih. Diceriterakan kepada kita bahwa dunia ini tidak akan runtuh, bila kita berhenti bekerja: kehidupan itu tidaklah bergantung pada kegiatan dan kesibukan manusia. Perayaan hari istirahat ini mengingatkan kita bahwa dunia kita, bumi kita ini, kehidupan kita, hanyalah anugerah yang diberikan oleh Allah. Paus Fransiskus berkata, “Hari Minggu, seperti Shabbath orang-orang Yahudi, dimaksudkan sebagai sebuah hari yang memulihkan relasi kita dengan Tuhan, dengan kita sendiri, dengan orang-orang lain dan dengan bumi kita ini. […] Ketenangan, istirahat, membuka mata kita pada gambar yang lebih luas dan memberikan kepada kita kepekaan yang diperbarui terhadap hak-hak orang lain.”[15]

Tambahan lagi, ceritera penciptaan yang ke dua, dalam Kejadian 2:15, dikatakan: “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Paus Fransiskus memberikan pandangan yang baru pada nas ini, ditulisnya: “mengusahakan” mengacu pada bercocok-tanam, membajak atau bekerja, sedangkan “memelihara” (shomer dalam bahasa Ibrani) berarti mempedulikan, melindungi, mengawasi dan menjaga.[16]

Mazmur merupakan madah pujian yang terus menerus kepada Tuhan, yang adalah “baik” dan “penuh bela rasa … kepada semua yang telah Dia kerjakan,[17]” dan yang belas kasihnya berlangsung selama-lamanya[18]. “Mazmur juga mengundang ciptaan-ciptaan lainnya menggabungkan diri pada kita dalam pujian ini: “Pujilah Dia, matahari dan bulan; pujilah Dia, hai kalian, bintang-bintang yang cemerlang!…” (bdk. Mzm 148)[19]. Mazmur dan sastra kebijaksanaan terus menerus berbicara perihal keterikatan satu sama lain antara semua ciptaan. Ada semacam sebuah keluarga semesta, suatu kekerabatan yang agung[20]. Tulisan-tulisan para nabi juga melihat Ciptaan dan pembebasan sebagai secara mesra mendalam terhubung dengan Tuhan.[21]

Akhirnya, dalam Perjanjian Baru Yesus menekankan bahwa Tuhan itu adalah Pencipta dan Bapa[22]. Yesus mengingatkan kita bahwa semua Ciptaan itu penting bagi Tuhan: “Lihatlah burung-burung di udara, mereka tidak menyemai ataupun memanen, tidak juga mengumpulkan di lumbung-lumbung, kendati demikian Bapamu di surga memberi mereka makan.”[23] Juga Yesus sendiri dalam relasi serasi, harmoni dengan Ciptaan, “siapakah Dia ini, sampai-sampai angin dan laut pun menaati-Nya?[24]”. Hal ini terjadi karena Kristus itu adalah logos (perkataan) dan melalui perkataan (logos) itulah Ciptaan ini tercipta[25]. Kristus adalah tujuan (telos) Ciptaan. Pada akhir zaman Yesus akan mempersembahkan segala sesuatu kepada Bapa; segala-galanya, tidak hanya umat manusia, akan dipenuhi dengan kehadiran ilahi.[26]

Sumber-sumber alkitabiah ini dengan kuat mengingatkan kita, tidak hanya tanggung-jawab kita untuk memelihara Bumi ini, tetapi juga dengan rendah hati mengakui bahwa umat manusia tidaklah berada pada pusat segala hal; ke dua: bahwa kita ini bukanlah tolok ukur bagi semua; ke tiga: bahwa kita harus menemukan dan menentukan identitas dan panggilan keinsanian kita; ke empat: mereka memanggil kita mengarah ke suatu visi kedamaian dan harmoni, ke suatu spiritualitas dan ethika keramah-tamahan dan tanggung-jawan ekologis. Dalam hubungan ini, bergunalah untuk mempelajari dan merefleksikan ceritera Ayub, yang berani mempertanyai Tuhan, tetapi yang akhir-akhirnya dipaksa berdamai dengan tempatnya yang sejati di hadirat Allah dan semua ciptaan.

Dimensi Kegerejaan (Eklesial)

Dapat saja nampak tidak biasa, menghubungkan perlindungan lingkungan hidup – yang rupanya menjadi tugas bidang bioethik dan moral sosial – dengan Gereja. Tetapi kewajiban untuk memelihara alam lingkungan dengan kasih dan tanggung-jawab itu timbul dari kenyataan bahwa kita ini diciptakan dalam gambaran dan keserupaan dengan Allah dan, sebagai anak-anak dalam sang Putera[27], kita dipanggil untuk semakin menjadi “peserta ataupun rekan alam ilahi.[28]” Berangkat dari dasar alkitabiah inilah, mengakibatkan bahwa sebuah teologi yang peduliaakan bioetik dan etika sosial dapat berbicara perihal tema memelihara Alam Ciptaan, yang adalah “rummah tempat tinggal kita bersama”. Pada kenyataannya, hakekat Gereja dan hidup Ekaristisnya, memberikan kepada kita dasar bagi adanya kaitan antara Gereja dan komitmen pada perlindungan Ciptaan – karena Gereja adalah “tanda dan sarana, keduanya terjalin erat dalam kesatuan dengan Tuhan, dan dalam kesatuan dengan segenap umat manusia,[29]” dan karena Ekaristi itu merupakan sumber dan puncak kegiatan Gereja[30].

Tema Gereja dalam hubungannya dengan Ciptaan dapat mengilhami kita memilih suatu pendekatan Ekaristis pada kehidupan. “Ekaristi adalah pusat semesta yang hidup, inti kasih yang melimpah dan inti kehidupan yang tak kan mengering… suatu sumber terang dan motivasi bagi kepedulian kita pada lingkungan hidup, mengarahkan kita menjadi pelayan semua ciptaan.[31]” Hal ini mengantar kita pada suatu perubahan dalam mentalitas, suatu “pertobatan ekologis.”[32]

Liturgi Ekaristi, khususnya Persembahan, membantu kita memahami sesuatu perihal lingkungan alami, rumah kita bersama, sebagai suatu anugerah yang harus kita cintai dan pelihara, karena anugerah itu diberikan Tuhan kepada kita. Pada masa mendatang, dunia kan ambil bagian dalam warisan anak-anak Allah, sebagai “ciptaan baru”, bagian dari satu-satunya rencana ilahi. Masa depan ciptaan itu bersifat eskatologis, dan nasib tujuannya akan terpeniuhi bila kita “berada berhadapan dengan keindahan Allah yang tak terbatas itu dari muka ke muka (bdk. 1Kor 13:12).”[33] Sementara menantikan kepenuhan ini, manusia berjuang untuk memelihara Ciptaan dan kaum papa, dan dalam Ekaristi Tuhan Kehidupan memberi kita terang dan motivasi untuk melaksanakan pelayanan ini. Pelayanan ini pun membawa kita pada penyembuhan dalam relasi-relasi kita. Melalui anugerah bebas dari Allah, kita belajar menerima dan menghormati hak-hak pihak lain; juga belajar menerima dan menghormati kewajiban-kewajiban kita sendiri terhadap Ciptaan.

Norma tingkah laku yang umum berlaku di antara manusia dan masyarakat mempengaruhi jaringan hubungan antar manusia satu sama lain – relasi manusia dengan Tuhan, dengan yang lain dan dengan alam ciptaan. “Cara bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya mempengaruhi cara lingkungan itu memperlakukan dirinya sendiri, dan sebaliknya.”[34] Ekologi integral, sebuah istilah yang dibakukan dalam Laudato sì, meliputi ketiga jenis relasi insani ini, yang menghasilkan satu narasi saja.[35]

Pada khotbahnya sewaktu dilantik menjadi Paus, Benediktus XVI menekankan: “Padang gurun eksternal di bumi ini bertambah luas, karena padang gurun internal telah menjadi sedemikian luas” – karena alasan inilah krisis ekologis merupakan suatu panggilan untuk terjadinya suatu pertobatan interior[36]. Pada dasar kematangan insani dan spiritual ini, terdapat kebenaran fundamental iman Kristen, bahwa segenap ciptaan itu mengusung meterai Trinitas yang Kudus.[37]

Paus Fransiskus tidaklah lupa akan kenyataan bahwa dia telah memilih bagi dirinya sendiri nama St. Fransiskus dari Asisi. Orang miskin dari Asisi itu melihat alam sebagai sebuah buku yang di dalamnya Tuhan berbicara kepada kita, dan menganugerahkan kepada kita sekilas keindahan dan kebaikan-Nya yang tak terbatas[38]. Kesederhanaan karismatis Orang Kudus dari Asisi ini sekali lagi membimbing kita bisa memahami bahwa harmoni dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan Ciptaan adalah tigal hal yang tak terpisahkan – yang, tentu saja, merupakan konsep ekologi integral.[39]

Dimensi Fransiskan

St. Fransiskus diproklamasikan sebagai “santo pelindung para pecinta ekologi” oleh St. Yohanes Paulus II[40]. Kaitan St. Fransiskus dengan ekologi sungguh dapat sangat dibenarkan karena adanya hubungan khusus yang dimilikinya dengan semua ciptaan, suatu karakteristik yang dengan sangat baik tercatat dalam tulisan-tulisan dan berbagai biografinya.

Khususnya Madah Mataharilah (Gita Sang Surya) yang membeberkan tatapan kontemplatif Fransiskus pada segala ciptaan di bumi dan di langit. Dalam Madah inilah dia mengakui bahwa “de te, Altissimo, portano significazione.”(terjemahan Leo Laba: “Kepada-Mu saja, Yang Mahaluhur, semuanya itu patut disampaikan”) Pernyataan ini, yang terdapat pada permulaan Madah ini, memberikan alasan pertama dan paling penting mengapa orang harus mempunya rasa hormat kepada setiap ciptaan: segala yang ada mengacu pada Tuhan sebagai Penciptanya. Fransiskus sangat sadar bahwa satu-satunya Pencipta dan Tuan dari segala-galanya adalah Tuhan, dan hal ini membawa dia menantang dasar keberadaan kekuasaan dan kepemilikan, yang memandang manusia sebagai tuan-tuan dari segala sesuatu. Kita bukanlah tuan, tetapi penikmat anugerah cuma-cuma dari Allah, yang diberikan secara sama dan setara kepada semua. “Prinsip anugerah” ini menimbulkan sikap hormat pada Ciptaan sebagai sebuah tanda akan kasih Allah, dan hal ini menghasilkan kemampuan untuk membagikan anugerah ini dengan orang-orang lain, karena orang tidak dapat menganggapnya sebagai miliknya sendiri semata-mata. Prinsip ini mendidik munculnya suatu pengakuan akan adanya ikatan persaudaraan, yang menyebabkan Fransiskus memberikan nama “saudara” dan “saudari” kepada setiap ciptaan.

Kita, orang-orang Fransiskan, sudah terbiasa mendengar sapaan saudara matahari, saudari bulan, saudara api dan saudari air. Tetapi bila kita berhenti dan berpikir-pikir mengenai hal itu, istilah-istilah itu sungguh ungkapan yang tidak biasa. Karena, dalam arti manakah saya dapat berkata bahwa angin itu saudara saya? Saya memahami bahwa kita dapat berpikir perihal pribadi manusia yang lain sebagai saudara atau saudari kita, tetapi bagaimana kita dapat menyerukan yang sama kepada seonggok karang atau sebatang tanaman?

Keterangannya ada dalam kenyataan bahwa persaudaraan yang dirasakan dan dialami oleh Fransiskus itu tidaklah sekadar realitas insani, tapi juga realitas kosmis: hal itu menjangkau ke setiap ciptaan dan mengungkapkan adanya ikatan persaudaraan universal yang muncul dari kenyataan sederhana: masing-masing mengambil bagian dalam sang Pencipta dan Bapa, yang adalah Allah.

Dalam nama yang Fransiskus pilih bagi dirinya sendiri dan bagi para sahabatna – Saudara-saudara Dina – dia menhubungkan ikata persaudaraan kita dengan kesadaran akan keberadaannya yang dina. Dina dalam hubungannya dengan orang-orang lain, tetapi juga dalam kaitannya dengan semua ciptaan, sebagaimana Fransiskus ajarkan kepada kita dalam baris-baris penutup Salam kepada Keutamaan-keutamaan: “Ketaatan yang suci mengacaubalaukan segala keinginan badan dan daging; dialah yang menjaga agar badan tetap dimatikan untuk patuh kepada roh dan untuk kuat kepada saudaranya; dialah yang membuat orang menjadi bawahan yang tunduk kepada semua mns di dunia ini; bahkan bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada semua hewan dan binatang lirar, sehingga mereka dapat berbuat apa saja terhadap dirinya, sejauh itu diberikan kepada mereka dari atas, oleh Tuhan.”[41] Minoritas (menjadi orang yang dina), disini diungkapkan dalam arti ketaatan, diperluas secara universal, membuka diri kepada binatang dan semua makhluk ciptaan.

Karena itu, motivasi yang terdalam komitmen ekologis Fransiskan kita, dengan mengikuti jejak Fransiskus, adalah motivasi teologis; Tuhan diakui sebagai Pencipta segala sesuatu. Hal itu menuntut hormat pada ciptaan Tuhan, yang telah Dia anugerahkan kepada semuanya, dan tidak hanya kepada beberapa saja.

Konstitusi Umum kita melanjutkan tema ini, baik dalam Art. 71, yang mengatakan: “Dengan menapaki jejak-jejak St. Fransiskus secara ketat, para Saudara Dina hari ini haruslah mempertahankan sikap hormat terhadap alam dari segala segi, sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengembalikannya secara seutuhnya kepada kondisi saudara (dan saudari) dan kepada perannya yang bermanfaat bagi segenap umat manusia demi kemuliaan Allah, sang Pencipta,” maupun terlebih pada kalimat terakhir Art. 1 dari KonsUm itu, yang meletakkan Fondasi identitas kita. Art. 1 §2 diubah oleh Kapitel General kita tahun 2003, dengan menambahkan “untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia dan mengkhotbahkan rekonsiliasi, perdamaian dan keadilan melalui perbuatan-perbuatan mereka, dan memperlihatkan sikap hormat pada ciptaan.” Kepedulian pada rumah kita bersama diakui sebagai suatu bagian yang penting (esensial) karisma kita, dan hal itu dipandang sedemikian sehingga deskripsi teliti perihal siapakah kita ini sebagai Saudara Dina, tak dapat tidak harus berbicara perihal “sikap hormat kepada Ciptaan.” Perkataan hormat (reverentiam dalam bahasa Latin) dengan sangat mengena dipilih karena perkataan ini menunjukkan tidak hanya kepedulian, tetapi juga suatu sikap esensial dari kedinaan dan kekerabatan universal, yang sesungguhnya membuat kita ini Saudara-saudara Dina.

Sejak musim semi 2015, dengan terbitnya Laudato sì, menjadi lebih terang benderang lagilah bahwa seorang Fransiskan tidaklah mungkin berpendapat bahwa perhatian terhadap isyu-isyu ekologis itu hanya suatu unsur yang tidak wajib, atau sekedar sesuatu tambahan yang dapat dipilih atau tidak dipilih. Pengertian “ekologi integral” yang dikemukakan sri Paus dalam Ensikliknya ini, adalah tugas pokok bagi setiap orang Kristen, dan terlebih lagi bagi semua Fransiskan, karena Paus ingin mengikatkan panggilan “pertobatan ekologis”nya pada pribadi Fransiskus dari Asisi, yang dikutipnya beberapa kali dalam naskah Ensiklik itu, dan bahkan judul Ensiklik itu sendiri mengacu pada Fransiskus.

Namun, mengetahui alasan-alasan “Fransiskan” secara teoretis bagi komitmen kita pada ekologi, tidaklah mencukupi: kita harus mengembangkan suatu keyakinan pribadi. Memusatkan diri pada Fransiskus, dan pengetahuan perihal Konstitusi kita tentulah membantu, tetapi esensi keyakinan pribadi semacam itu tumbuh dari kesadaran yang tak seorangpun dapat menggantinya bagi saya dalam tugas formasi Fransiskanku sendiri, dan bahwa saya harus membuat pilihan pribadi: “Saudara Dina, berkat pengaruh Roh Kudus, adalah protagonis (pelaku utama) utama dari pendidikan dirinya sendiri.”[42] Hanya Saudara Dina yang adalah “protagonis dari pendidikan dirinya sendiri” akan menjalani proses “pertobatan ekologis” yang sekarang ini diminta oleh panggilan kita.

Dimensi Ilmiah

Berbagai ilmu pengetahuan telah memberikan sumbangan yang positif, sehingga kenyataan dan alam dapat dipahami secara lebih menyeluruh. Ilmu pengetahuan itu pun telah memperoleh tempat dan peran dalam rangka membangkitkan kesadaran kita akan Allah yang transenden, mendukung berkembangnya dalam manusia suatu kesadaran diri yang baru perihal tanggungjawab mereka di bumi ini, dan juga membangkitkan isyu peran umat manusia di dalam bumi kita beserta sejarahnya. Ilmu pengetahuan juga sudah memberikan sumbangan penting bagi pluralitas pemikiran manusia, dengan melibatkan orang-orang dan perhimpunan-perhimpunan ke dalam dialog yang lebih sungguh-sungguh perihal keadaan nyata bumi di mana kita semua ini hidup.

Tambahan lagi, sumbangan akhir-akhir ini dari berbagai ilmu pengetahuan itu kepada pemahaman kita terhadap alam, telah mengakibatkan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan yang sama itu menjadi lebih sadar akan keterbatasan dirinya. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa alam itu tidak hanya hasil dari sebuah sistem yang sederhana, tetapi sebagai hasil dari banyak sistem – misalnya biosphere, dan ecosystems. Alam juga menanggung dampak-dampak sejarah, budaya, bahasa, hubungan antar manusia dll. Untuk memecahkan isyu zaman sekarang ini perihal alam, kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang “tidak hanya menyangkut lingkungan hidup secara terpisah sendirian; [sebuah] isyu [yang] tidak dapat didekati secara sepotong-sepotong”[43] sebagaimana diutarakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato sì. Berbagai faktor yang kait mengait dan mempengaruhi alam itu, terjalin sedemikan rupa sehingga tidak mungkinlah diberikan satu keterangan atau satu penjelasan tunggal belaka. Justru interaksi dari berbagai unsur itulah yang membuat masalahnya menjadi kompleks. Pada kenyataannya, isyu yang paling penting itu bukanlah bahwa faktor-faktor itu begitu banyak. Kompleksitas alam itu muncul dari kenyataan bahwa di dalam alam itu sendiri terdapat banyak variabel yang terus menerus berinteraksi, sehingga membuat interpretasi hanya dari satu sudut tertentu menjadi sangat sulit. Hanya dengan mempergunakan metode-metode ilmiah saja mustahillah memahami isyu-isyu ini: interaksi antara diosphere dan ecosystems, perubahan iklim, dan sistem-sistem lain yang banyak jumlahnya yang menjalin alam ini, masih ditambah lagi masalah menemukan cara dan jalan untuk memperbaiki kerusakan yang telah kita lakukan terhadap mereka itu. Hal ini khususnya benar karena setiap pemahaman atas satu faktor konstituen membuka pula budang penyelidikan lain yang luas yang tak dapat tidak kait mengait dengan faktor-faktor lain. Bagi setiap sistem dalam alam ini, orang hampir selalu dapat menemukan sebuah subsistem lain yang terdiri dari unsur-unsur yang sangat beraneka ragam yang selalu saling berhubungan dan saling ketergantungan. Bahwa sistem-sistem ini saling berkaitan sering kali sedemikian tak dapat diperhitungkan sebelumnya, sehingga jaringan-jaringan relasi yang bersambung-sambungan itu terus menerus terbentuk dan jaringan-jaringan itu terus menerus “berbeda” dan terus menerus “sama”. Hal ini mengakibatkan teramat luar biasa sulitlah untuk menemukan pemecahan terhadap masalah-masalah zaman sekarang ini. Kompleks interaksi antara bermacam-macam unsur dan sistem itu menentukan. Dan inilah salah satu alasan mengapa ilmu pengetahuan tentulah dapat memberikan kepada kita pemahaman yang besar, namun hanya dapat memberi kita pemecahan yang sebagian (partial) dan tidak definitif terhadap masalah-masalah alam dan bagaimana kita melangkah maju dalam hal menyelamatkan bisphere, ecosystems dan iklim.

Nyatalah bahwa semua karakteristik alam yang telah kita sebutkan tadi berdampak pada bagaimana kita menangani semuanya itu. Kendati kita bisa saja menghargai bahwa alam itu merupakan suatu realitas yang minta pendekatan yang tersendiri supaya kita dapat melibatkan diri di dalamnys sebagai suatu keseluruhan, hal ini masih belum berarti bahwa mudahlah untuk bergerak dari pendekatan ilmiah/analitis ke suatu pendekatan yang lebih sistematis. Untuk memiliki suatu pemahaman yang lebih mendalam perihal alam, dan sampai pada pemecahan yang lebih baik terhadap permasalahan pemeliharaannya, apa yang diperlukan adalah pendekatan yang diusulkan oleh Ensiklik itu – “sebuah ekologi integral, ekologi yang dengan jelas menghormati dimensi-dimensi insani dan sosialnya.[44]

Ekologi integral meminta keterbukaan terhadap pendekatan-pendekatan yang melampaui bahasa ilmu yang bersifat pasti, dan menghubungkan kita dengan kategori-kategori yang termasuk pada hakikat kemanusiaan; yakni: spiritual, ethis, budaya dan dimensi-dimensi dalam bidang relasi satu sama lain.

Dari perspektif ini, apakah peran yang nyata dari ilmu pengetahuan sekarang ini?

Ilmu pengetahuan itu sangatlah penting dalam mengidentifikasi, memahami dan merumuskan masalah-masalah sekarang ini perihal alam, ekosistem, biosphere, iklim, budaya manusia dan sebagainya. Ilmu pengetahuan juga memperlihatkan pemecahan-pemecahan, tetapi sendirian pemecahan-pemecahan itu tidak memiliki kapasitas, wewenang memecahkan isyu-isyu yang telah mereka ungkapkan itu. Selain memperjelas isyu-isyu dan mencari pemecahan, peran pokok mereka adalah membangkitkan kesadaran dan rasa tanggungjawab, serta menciptakan ruangan untuk berhubungan dengan pendekatan-pendekatan lain yang khas, yang mempunyai skala lebih luas dan lebih global, khususnya dalam arena politik dan ekonomi. Di sini pun kita kiranya dapat mengharapkan adanya kesadaran bahwa ilmu pengetahuan itu mungkin dan perlu demi melibatkaan diri dalam dialog dengan pendekatan-pendekatan baru yang sedang muncul, demikian juga dengan disiplin keilmuan yang berlapis-lapis (seperti filsafat, teologi, etika dan sebagainya). Pendekatan-pendekatan ini dapat mendesak batas-batas disiplin ilmu pengetahuan, tetapi masih tetap mempertahankan kompetensi ilmiahnya. Dengan demikian sementara terlibat dalam pembangunan pendekatan yang lebih holistik dan sistematik, ilmu pengetahuan akan menjadi dasar bagi terciptanya suatu ekologi yang integral, dengan melibatkan skala yang lebih luas dan pemecahan-pemecahan yang lebih bisa bertahan dalam rangka menangani masalah-masalah sekarang ini menghadapi alam dan bumi di mana kita hidup.

———————————

[1]      Laudato si’, 48

[2]      Laudato si’, 14

[3]      Bdk. Bearers of the Gift of the Gospel, Mandates of the 2009 General Chapter, no. 43.

[4]      Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, Chapter Decision 10.

[5]      Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, Chapter Decision 11.

[6]      Bdk. Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, no. 3.

[7]      LS 61.

[8]      LS 106.

[9]      Bdk. A Salutation of the Virtues, 16.

[10]     LS 118.

[11]     LS 67.

[12]     LS 84.

[13]     Bdk. LS 216-219, 222.

[14]     Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, no. 32.

[15]     LS 237.

[16]     Bdk. LS 67.

[17]     Ps 145, 9.

[18]     Bdk. Ps 136.

[19]     LS 72.

[20]     LS 89.

[21]     Bdk. Yer 32:17-21; Yes 40:28b-29.

[22]     Bdk. Mat 11:25.

[23]     Mat 6:26.

[24]     Mat 8:27.

[25]     Bdk. Kol 1:16; Yoh 1:1-18.

[26]     Bdk. Kol 1:19-20; 1Kor 15:28.

[27]     Bdk. Yoh 1:12.

[28]     2Ptr 1, 4.

[29]     Lumen Gentium, 1.

[30]     Bdk. Sacrosanctum Concilium, 10.

[31]     Bdk. LS 236.

[32]     Bdk. LS 216−221.

[33]     LS 243.

[34]     Caritas in Veritate, 51.

[35]     Bdk. LS 10, 137−162.

[36]     Bdk. LS 217.

[37]     Bdk. LS 238−240.

[38]     Bdk. LS 12.

[39]     Bdk. LS 10.

[40]     29 November 1979.

[41]     A Salutation of the Virtues, 14-18.

[42]     Ratio formationis franciscanae, art. 40.

[43]     LS 160.

[44]     LS 137.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *