Jeritan Bumi dan Jeritan Kaum Papa [bagian 1]

19/09/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 273 kali

[ Daftar Isi ] [ > ]

Nyanyian Saudara Matahari

(1) Yang Mahaluhur, Mahakuasa, Tuhan yang baik,
milik-Mulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian.
(2) Kepada-Mu saja, Yang Mahaluhur,
semuanya itu patut disampaikan,
namun tiada insan satu pun layak menyebut nama-Mu.

(3) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
bersama semua makhluk-Mu, terutama Tuan Saudara Matahari;
dia terang siang hari, melalui dia kami Kauberi terang.

(4) Dia indah dan bercahaya dengan sinar cahaya yang cemerlang;
tentang Engkau, Yang Mahaluhur, dia menjadi lambang.

(5) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudari Bulan dan bintang-bintang,
di cakrawala Kaupasang mereka, gemerlapan, megah dan indah.

(6) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudara Angin, dan karena udara dan kabut,
karena langit yang cerah dan segala cuaca,
dengannya Engkau menopang hidup makhluk ciptaan-Mu.

(7) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudari Air; dia besar faedahnya,
selalu merendah, berharga dan murni.

(8) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudara Api, dengannya Engkau menerangi malam;
dia indah dan cerah ceria, kuat dan perkasa.

(9) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami,
dia menumbuhkan aneka ragam buah-buahan,
beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.

(10) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena mereka yang mengampuni demi kasih-Mu,
dan yang menanggung sakit dan duka-derita.

(11) Berbahagialah mereka, yang menanggungnya dengan tenteram,
karena oleh-Mu, Yang Mahaluhur, mereka akan dimahkotai.

(12) Terpujilah Engkau, Tuhanku,
karena Saudari Maut badani, daripadanya tidak akan terluput
insan hidup satu pun.

(13) Celakalah mereka, yang mati dengan dosa berat;
berbahagialah mereka, yang didapatinya setia pada kehendak-Mu yang tersuci
karena mereka takkan ditimpa maut kedua.

(14) Pujalah dan pujilah Tuhanku,
bersyukurlah dan mengabdilah kepada-Nya
dengan merendahkan diri serendah-rendahnya.

 

Sumber: Leo Laba Ladjar OFM: Karya-karya Fransiskus dari Asisi, Sekafi, 2001, hlm. 324 – 326.


Buku Sumber yang akan Anda baca ini menjadi semacam seruan untuk membuka diri bagi dunia di sekitar kita, untuk dengan saksama mendengarkan semua ciptaan yang mendiami planet kecil ini, rumah tinggal kita bersama. Buku kecil ini muncul dari kepedulian yang sangat mendesak bahwa Tangisan Bumi dan Tangisan para Papa telah diabaikan dan bahwa, sebagai Fransiskan, kita harus menjadi peserta dalam dialog ini, dengan memberikan sumbangan kita yang khas demi disembuhkannya dunia kita ini dan semua manusia yang hidup mendiaminya…

 

JERITAN BUMI DAN JERITAN PARA PAPA

Bimbingan Studi OFM perihal Memelihara Alam Ciptaan

 

PENGANTAR

“Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” (Ayub 12:7-10)

Dalam ungkapan-ungkapan yang poetis itu, Kitab Ayub menghimbau pribadi manusia untuk terbuka dan siap untuk diajar oleh binatang-binatang, burung, ikan dan sungguh, bumi itu sendiri. Inilah nas yang menggemakan hati orang-orang yang berkemauan baik, dan khususnya mereka yang telah tersentuh dan terkesan oleh kekayaan tradisi Fransiskan yang mengagumkan itu.

Buku kecil yang merupakan sumber dan berada di tangan kalian untuk dibaca ini, juga merupakan ajakan untuk bersikap terbuka bagi dunia di sekitar kita, untuk dengan penuh perhatian mendengarkan semua makhluk ciptaan itu, yang mendiami planet kita yang kecil ini, yang menjadi rumah tinggal kita bersama. Buku ini muncul dari kepedulian yang mendesak terhadap Jeritan Bumi dan Jeritan kaum Papa yang diabaikan dan yang harus menjadi kawan dialog kita, sebagai Fransiskan. Inilah kontribusi kita, kendati kecil, dalam proses penyembuhan dunia kita dan penyembuhan orang-orang yang hidup di dalamnya.

Akar dari dokumen singkat ini berada dalam tradisi Fransiskan dan Biblis, dan dengan sengaja mau membuktikan bahwa tradisi-tradisi itu dapat bekerja sama dengan ilmu pengetahuan zaman ini. Itulah keinginan nyata yang diungkapkan oleh Kapitel General 2015, yang minta diadakannya sebuah Bimbingan Studi dalam bidang pemeliharaan alam ciptaan, yang mendasarkan diri pada landasan biblis, eklesial, Fransiskan dan ilmiah[1]. Teologi dan ilmu adalah dua perspektif yang berbeda, yang keduanya bersama memungkinkan kita melihat alam semesta ini dalam ketiga sisi kedalamannya. Sebagaimana Rabbi Jonathan Sacks berkta: “Ilmu itu mencari penjelasan. Sedangkan Agama mencari makna.”[2] Kita orang-orang Fransiskan harus dengan cerdik dan cermat melibatkan diri dalam ilmu pengetahuan dengan segala aspeknya supaya pandangan kita sendiri semakin disempurnakan.

Dalam kaitannya dengan dokumen-dokumen Gereja dan Ordo sebelumnya – secara paling utama dengan Laudato sì – booklet ini bertujuan untuk memberikan bimbingan, sehingga Entitas-entitas kita dan kalian semua, saudara-saudaraku, dapat mampu memberikan jawaban kepada tantangan-tantangan ekologis zaman kita sekarng ini[3]. Saya ingin secara khusus menekankan aspek khas dari komitmen Fransiskan kita ini pada dunia. Diilhami oleh teladan St. Fransiskus, kita para Saudara Dina ditantang untuk “berbuat” sesuatu, supaya kita kiranya dapat mengerti dengan lebih mendalam jeritan umat Allah dan jerita ciptaan Tuhan. Melalui tindakan dan perbuatan kita, kita ini diundang untuk menjadi orang-orang mistik, orang-orang beriman, yang mampu menyerap keindahan dan keajaiban karya tangan Allah dalam kehidupan para Saudara dan Saudari, dan dalam setiap benda yang hidup; yang semuanya itu diciptakan untuk bersama-sama ambil bagian dalam mempersembahkan kemuliaan kepada Tuhan dan menawarkan pelayanan kasih dan perhatian yang satu terhadap yang lain. Saya mendorong semua saja yang mempergunakan sumber ini: (1) untuk menilik kembali cara memahami dan bertindak mereka, dan (2) untuk menata kembali gaya hidup mereka supaya dapat membiarkan Roh Tuhan membentuk di dalam diri pribadi setiap orang di antara kita suatu “visi ekologis yang integral” yang merangkul semua orang, dalam belas kasih dan keadilan. Semoga kita membiarkan Tuhan mengerjakan misteri cinta dan belaskasih yang begitu mempesona dalam diri kita, sehingga kita mampu menyingkirkan halangan-halangan yang membuat kita tuli terhadap Jeritan Bumi dan Jeritan para Papa. Ada urgensi untuk memberikan respons dari pihak kita. Manusia dan planet kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Kita harus berbuat sekarang ini juga!

“Marilah kita memulai lagi, karena sampai sekarang kita hanya berbuat sedikit atau tidak berbuat samasekali.”[4]

Roma, 25 Juli 2016
Pesta St. Yakobus Rasul
Sdr. Michael Anthony Perry, OFM
Minister General dan Hamba.

Prot 106652

————————

[1]      Going to the Peripheries with the Joy of the Gospel, Chapter Decision 10.

[2]      The Great Partnership. God, Science and the Search for Meaning, 2011.

[3]      Ibid.

[4]      Bdk. 1Cel 103.

 

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *