Isra Mi’raj a la Duns Scotus

26/05/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 254 kali

Isra Miraj Duns Scotus9

Hari ini 6 Mei 2016 nampak istimewa dibanding biasanya. Di saat semua saudara Muslim sedang merayakan Hari Raya Isra Mir’aj untuk menghayati peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah, para saudara komunitas Duns Scotus hendak “hijrah” dari godaan kemalasan dan nikmatnya “bangun siang” di hari libur menuju sebuah pemaknaan kecil dalam peristiwa perjalanan bersama.

Saat sang saudara mentari masih malu-malu menampakkan dirinya, sinar berkat Sang Pencipta yang tercurah dari tangan Sdr. Eddy Kristiyanto sudah menaungi para saudara di Komunitas Duns Scotus, Kampung Ambon, Jakarta. Berkat ini menjadi bekal para saudara yang hari itu menjalani serafik (bersepeda) Kampung Ambon – Jakarta Kota yang diakhiri dengan ziarah Bulan Maria di Paroki Toasebio, Jakarta Barat. Seusai perayaan ekaristi dan makan pagi, para saudara segera mempersiapkan sepedanya masing-masing agar mampu lancar melaju sampai ke tempat tujuan dan kembali dengan selamat. Kali ini yang turut berpartisipasi dalam “hijrah kecil” ini ada 18 saudara (Sdr. Purnomo, Sdr. Berman, Sdr. Iwan, Sdr. Epa, Sdr. Yan, Sdr. Fresco, Sdr. Edo, Sdr. Haward, Sdr. Fendy, Sdr. Engky, Sdr. Santo, Sdr. Fischer, Sdr. Yoan, Sdr. Mikael Santrio, Sdr. Alders, Sdr. Yeri, Sdr. Guido dan Sdr. Regi). Skuad Duns Scotus kali ini belum lengkap karena tiga orang saudara (Sdr. Triyono, Sdr. Titus dan Sdr. John Tukan) sedang mengikuti pelatihan para guru dan karyawan Yayasan St. Fransiskus di Yogyakarta, sementara Sdr. Eddy Kristiyanto turut serta mendukung kami dalam doa-doanya walau belum bisa bergabung karena masih mengurus beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aksi “hijrah” dari zona nyaman liburan ini dimulai dengan mengayuhkan sepeda ke arah Hajiten berlanjut melewati wilayah Salemba – Kramat Raya – Gunung Sahari – Pasar Baru – Pecenongan – Gajah Mada – Glodok – Kawasan Kota Tua. Semua keringat yang bercururan dari saudara keledai (baca: badan) dan rasa lelah setelah mengayuh sepeda dengan jarak yang cukup jauh itu seakan sirna ketika mendapat “sambutan” sisa-sisa kekokohan bangunan-bangunan lama di kawasan Kota Tua Jakarta. Setelah beristirahat sejenak di pinggir kali Kota, para bikers peziarah segera melanjutkan perjalanan ke daerah Penjaringan Jakarta Utara, di sekitar wilayah Museum Bahari. Para saudara berkesempatan untuk mengunjungi sebuah tempat bersejarah yang menyajika nilai historis kedigdayaan bangsa kita dalam dunia kelautan. Kehebatan nenek moyang kita yang “katanya” adalah pelaut sungguh-sungguh nyata melihat kemampuan “orang-orang Indonesia dulu” berlayar di samudera. Satu hal yang jelas perlu dipetik adalah bahwa kita perlu bangga dan menyadari bahwa kita sejak dahulu adalah bangsa yang besar dan dihargai oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia. Jadi, generasi muda seperti kami pun harus termotivasi untuk melakukan apapun yang terbaik untuk menjaga kehormatan bangsa ini dalam karya dan bidang pelayanan kami masing-masing nantinya. Satu hal lain yang menarik adalah kami juga berkesempatan mengunjungi kawasan pasar ikan Kawasan Luar Batang yang baru-baru ini mengalami penggusuran oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jika dilihat dari kondisi yang ada, kawasan itu memang nampak kumuh, tidak sehat dan menghalangi kelancaran aliran sungai karena aneka sampah tak terolah yang diproduksi dari pasar yang sekaligus dijadikan rumah tinggal mereka selama sekian waktu. Jika dibiarkan juga tentu tidak baik. Penggusuran itu memang menyajikan cerita memilukan. Siapa pihak yang tepat memang masih diperdebatkan, namun semoga para pengambil kebijakan bisa memutuskan hal yang terbaik untuk kebaikan seua pihak dan kemajuan kota Jakarta tercinta.

Sesudah menegok kisah meneguhkan di Bahari, para saudara segera meluncur ke Paroki St. Maria, Toasebio untuk melaksanakan ziarah Bulan Maria di sana. Para saudara disambut baik oleh Rm. Yonas SX selaku pastor rekan di paroki tersebut. Kebetulah hari itu ada cukup banyak peziarah lain yang juga mengunjungi paroki nan unik yang bernuansa khas Tionghoa, yang juga dikategorikan sebagai salah satu bangunan bersejarah dalam kawasan Kota Tua. Seusai beristirahat sejenak, para saudara segera bersatu hati dalam doa rosario komunitas. Kemudian, Rm. Yonas juga dengan setia menjelaskan sejarah gereja ini serta mengajak para saudara mengelilingi kompleks pastoran.

Perjalanan nan meneguhkan ini akhirnya berpuncak pada sambutan meriah para saudari Suster-Suster FSGM Komunitas Toasebio yang menerima para saudara dengan senyuman persaudarian dan tentunya sajian yang lezat dan menyehatkan saudara badan. Sharing bersama di momen ini juga dirasakan amat meneguhkan dalam proses peziarahan yang lebih panjang mengikuti Kristus dalam jejak St. Fransiskus Asissi ini. Perjalanan meneguhkan ini akhirnya diakhiri dengan kembali beriringan mengayuh sepeda kembali ke komunitas tercinta, Duns Scotus. Semoga perjalanan ini meneguhkan untuk perjalanan yang sesungguhnya di jalan pertobatan terus menerus ini. Pace e Bene!

Kontributor: Sdr. Eduard Salvatore da Silva OFM

Isra Miraj Duns Scotus10
Isra Miraj Duns Scotus9
Isra Miraj Duns Scotus8
Isra Miraj Duns Scotus7
Isra Miraj Duns Scotus6
Isra Miraj Duns Scotus5
Isra Miraj Duns Scotus4
Isra Miraj Duns Scotus3
Isra Miraj Duns Scotus2
Isra Miraj Duns Scotus

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *