Gua

Entah bagaimana pada abad pertengahan banyak orang menjadi takut; mereka mulai merasa bahwa impian yang mendasari kehidupan mereka adalah sebuah ilusi. Zaman kita adalah zaman yang menyedihkan dimana mitos-mitos lama kehilangan dayanya dan keutamaan-keutamaan yang menopang kita sedang bertentangan satu sama lain. Apa yang dulu murni dan suci sekarang orang meragukannya; apa yang dulu nampaknya bijaksana dan cermat hati-hati sekarang kelihatan sebagai bentuk pelarian, menjauhkan diri dari kenyataan perubahan dan kebutuhan untuk bertindak dengan berani dan (atau) bodoh agar berkembang. Apa yang bermula sebagai kontemplasi telah berubah menjadi sebuah gua penuh dengan roh-roh jahat yang kita hindari dengan melarikan diri ke kesunyian.
Doa kita tidak berbuah karena kita takut bertindak, menanggapi suara Allah yang berteriak minta tolong dalam diri malaikat-malaikat yang miskin, terhina,hancur dan terluka yang kita jumpai di jalan-jalan. Singkatnya, kita kuatir dan mengenakan Allah sebagai topeng kemuliaan yang membenarkan diri kita yang tidak berbuat apa-apa selain memelihara rasa aman dan membangun tembok perlindungan yang dibaliknya kita menjalani hidup penuh ilusi keutamaan. Kita berusaha sedemikian keras untuk selamat sehingga kita lupa bagaimana menjadi manusiawi, bagaimana mengambil resiko, bagaimana berani hidup dalam konflik dengan Allah yang lengan-Nya saja dapat merengkuh kita ke dalam kehidupan. Kita tidak lagi menggali ke dalam tanah untuk menemukan apa yang ada di dalam diri kita; sebaliknya, kita memperkosa permukaannya, menambang demi hasil besar dan cepat. Kita telah meninggalkan gua.
Sebaliknya, Fransiskus secara terus-menerus kembali ke gua. Ia mencari tempat yang sunyi untuk menggali tanah dalam usahanya untuk menemukan harta yang tersembunyi bagi orang-orang yang hidup hanya di permukaan. Apakah harta injili yang terus dicari Fransiskus selama hidupnya itu? Saya yakin, harta itu bukanlah sesuatu yang lebih tersembunyi di dalam tanah daripada yang tersembunyi di dalam diri yang anda temukan dalam proses menggali, sesuatu yang engkau temukan tentang dirimu.
Sebagaimana bagi sang pahlawan dalam syair kepahlawanan, bagi Fransiskus gua adalah gudang penyimpanan sejumlah Piala Suci yang tak dapat disentuh, yang tergeletak menanti orang yang cukup berani untuk menggalinya. Beberapa monster selalu menjaga harta itu, menantang sang pahlawan untuk mengatasi rasa takut akan sakit dan kematian, untuk berperang melawan makhluk-makhluk jahat yang bukan tinggal di dalam tanah, tetapi di kedalaman jiwa. Gua adalah simbol yang menghubungkan jiwa dengan kedalamannya yang gelap dan juga dengan arkeologi manusia. Hadiahnya bukanlah harta milik yang tak ternilai harganya, tetapi kebangkitan yang terjadi dalam jiwa si pencari, sebuah kepenuhan baru, sebuah integrasi lebih jauh yang terjadi setiap kali orang masuk ke dalam gua dirinya untuk berperang dengan roh jahat berupa rasa takut.
Bahwa kita menjadi takut dalam abad pertengahan, atau dalam abad lain manapun, tidak harus diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Hal itu dapat merupakan suara dari batin terdalam kita yang memanggil kita untuk turun lagi dan, dengan turun, menemukan akar dari kegelisahan yang terus menerus muncul dan membelenggu kita serta menghalang kita untuk berjalan tegak. Persatuan dengan Allah dan sesama umat manusia terjadi di kedalaman diri kita dimana kita berdamai dengan diri sendiri, “tunduk” pada kemanusiaan kita dengan bergulat dengan roh-roh jahat yang mencegah kita untuk menjadi manusia dan dengan demikian mencegah kita juga untuk bersatu dengan Allah dan orang-orang lain sebagai pribadi yang penuh.
Kita terbuka terhadap Yang Ilahi hanya sejauh kita terbuka terhadap kemanusiaan kita sendiri; hanya sejauh kita tampil sebagai diri kita sendiri, dan bukan sebagai makhluk-makhluk rohani belaka yang mengingkari debu tanah dari mana kita dibentuk dan ke dalamnya Allah menghembuskan Roh-Nya. Hanya jiwa dan badan dapat menjadi roh dan persatuan keduanya terjadi di lubuk terdalam dimana kemanusiaan kita menantikan pergulatan yang berubah menjadi pelukan dan mengubah apa yang semula musuh menjadi pengantin. Dari perkawinan ini muncullah seluruh pribadi yang diresapi oleh Allah dengan Roh-Nya. Itulah yang dimaksudkan dengan asketisme, yaitu mengarungi hidup dalam persatuan dengan Allah dan orang-orang lain; dan semuanya itu mulai dengan dengan kekecewaan atau sedikit kehilangan keberanian.
Sumber:
(Murray Bodo, The way of St.Francis: the challenge of franciscan spiritualitiy for everyone, St.Anthony Messanger Press, Cincinnati, OH, hal. 33 - 34)


