Fransiskus Mengundang Kita untuk Pertobatan Ekologis

05/10/2015
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.330 kali

Hari Raya St. Fransiskus Asisi
Surat Minister dan Definitorium General:
FRANSISKUS MENGUNDANG KITA UNTUK PERTOBATAN EKOLOGIS
(Penerjemah: Alfons S. Suhardi, OFM)

Francis-with-Bible-and-cross-cropSaudara-saudara terkasih,
Semoga Tuhan memberikan damai kepada kalian!

Dengan salam yang diajarkan Fransiskus kepada kita ini, kami mendatangi kalian pada permulaan penugasan kami.

Sebagai Definitorium General, pertama-tama kami ingin berkata kepada kalian bahwa kami bermaksud dengan segala kekuatan memenuhi panggilan yang telah dicanangkan oleh Tuhan bersama dengan Kapitel General dan dipercayakan pada kami. Kami akan berusaha melayani persaudaraan universal Ordo kita dengan melaksanakan tugas kami untuk menganimasi dan membimbing para saudara menuju kepada kesetiaan yang semakin besar pada apa yang telah kita janjikan kepada Tuhan. Kami mohon doa-doa dan bantuan kalian, karena bila kita bersama, kita dapat mewujudkan panggilan kita bersama.

Sementara kita menyambut pesta St. Fransiskus tahun ini, nampak pentinglah untuk membaca kembali dan memulai suatu refleksi bersama atas Ensiklik Laudato si’, yang telah diarahkan kepada kita pada Pentakosta yang lalu, “perihal memelihara rumah kita bersama”. Kita merasa dua kali dipanggil pada tugas ini: sebagai orang-orang yang berkehendak baik, karena pengganti St. Petrus menantang kita semua, dan sebagai Fransiskan-fransiskan, karena dalam naskah itu ada begitu banyak acuan pada Fransiskus, bahkan di dalam judul itu sendiri. Sri Paus sendiri membenarkan acuan itu, dengan berkata: “Saya yakin bahwa St. Fransiskus adalah teladan yang paling unggul dalam memberi perhatian pada dan memelihara ekologi yang rentan dan integral, yang dijalani dengan hidup penuh kegembiraan dan ketulusan” (n. 10). Ide “ekologi integral” ini, yang menyusur di seluruh ensiklik itu, mengingatkan kita bahwa masalah ekologi itu bukanlah lagi issue sektoral, terbatas pada relasi kita dengan alam sekitar dalam arti sempit, semacam bentuk “berkebun”. “Ekologi integral” itu mencakup seperangkat issue-issue yang luas, yang berhubungan erat dengan masalah lingkunan hidup, seperti keadilan dalam lingkup relasi sosial, komitmen pada perdamaian dan hormat pada kehidupan.

Relasi yang benar antara individu-individu dan orang-orang lain dicerminkan dalam relasi yang benar dengan lingkungan hidup, sementara eksploitasi dan ketidak-adilan dalam relasi antar manusia memperanakkan eksploitasi dan polusi pada sumber-sumber alam. Bila berbicara perihal “ekologi integral” (sri Paus) mengundang kita untuk bersama-sama memandang keseluruhan itu, supaya dapat melihat hubungan yang mendalam yang menghubungkan polusi, issue air, perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hidup dengan kemerosotan sosial, kehancuran mutu kehidupan manusia dan ketimpangan global. Sri Paus menerangkan perspektif integral ekologi ini dengan membeberkan berbagai bidang yang di dalamnya hal itu berkembang dan bila berbicara perihal ekologi lingkungan hidup, beliau menghubungkan dengan erat hal-hal ekonomi dan sosial, demikian juga bila berbicara perihal kehidupan sehari-hari, beliau mengaitkannya dengan ekologi budaya. Secara khusus Sri Paus mengundang orang-orang Kristiani kepada “pertobatan ekologis”, dengan jalan mengikrarkan keyakinan iman kita dan beliau pun menolak bahwa dimensi ini sering tidak ada dalam spiritualitas kita. “Karena itu, apa yang mereka perlukan adalah sebuah “pertobatan ekologis”.

Dengan pertobatan ini perjumpaan mereka dengan Yesus Kristus menjadi nampak jelas dalam hubungan mereka dengan dunia sekitar mereka. Menghayati panggilan kita menjadi pelindung karya tangan Allah adalah hakiki demi adanya kehidupan keutamaan; hal ini bukanlah suatu aspek pengalaman hidup kristiani kita yang sekedar dapat kita pilih atau menjadi aspek ke dua. Dalam mengingat kembali tokoh St. Fransiskus Asisi, kita menjadi sadar bahwa suatu hubungan yang sehat dengan alam ciptaan adalah salah satu dimensi dari pertobatan pribadi yang menyeluruh” (no. 217-218).

Kami telah mengutip beberapa pemikiran dari ensiklik itu untuk sekali lagi merangsang kita semua dan masing-masing. Perlulah, (kami mengundang kalian) untuk melihatnya kembali, merenungkan dan memikirkannya lagi serta membuatnya menjadi bahan diskusi dalam komunitas. Sebagai Saudara Dina, pengikut Tuhan dengan gaya Fransiskus Asisi, ini adalah sebuah issue yang sungguh-sungguh menyangkut kita semua.

Fransiskus mengundang kita untuk melihat alam ciptaan dengan mata rohani yang dihidupi oleh Roh Tuhan dan dengan mata penuh iman, sehingga kita dapat melihat seluruh kenyataan ini dengan lebih jelas lagi. Sebuah contoh diberikan kepada kita dalam Madah Segenap Ciptaan. Ciptaan pertama yang dia ingat adalah matahari. Perihal matahari itu dia berkata: “dia itu indah dan agung cemerlang! Berkat Engkau, Yang Mahatinggi, dia begitu bermakna.” Setiap orang yang melihat matahari dapat berkata bahwa matahari itu cemerlang dan indah. Bagi pandangan orang beriman, Fransiskus menambahkan bahwa matahari itu mengingatkan kita akan Tuhan, dengan mempergunakan perkataan penegasan “begitu bermakna”. Baiklah untuk mencatat bahwa pandangan atau tatapan mata orang Kristiani tidaklah melihat matahari itu berbeda dengan orang-orang lain. Semuanya melihat realitas yang sama; (namun) kita orang beriman dapat mengambil pandangan yang lebih menembus. Suatu pandangan atau tatapan yang melampaui, menembus permukaan dan melahirkan maknanya yang lebih mendalam (yakni: “begitu bermakna”). Iman tidaklah membuat kita melihat dunia ini berbeda daripada kenyataan aslinya, tetapi iman itu dapat membuat kita melihat dunia ini secara lain.

Pandangan yang berbeda ini dapat menghasilkan efek yang bermanfaat dalam perspektif kepedulian kita terhadap lingkungan hidup. Sebagai pribadi yang beriman, kita dapat mengingatkan diri kita sendiri dan dunia bahwa semua alam ciptaan, air, udara, tanah, hutan adalah juga ciptaan Tuhan. Observasi ini, yang adalah hakiki bagi setiap orang beriman, mempunyai akibat yang bermanfaat, sehingga kita dapat memutus hubungan dua kutub antara umat manusia – alam, karena hal itu menimbulkan unsur ke tiga; kalau tidak ada unsur ke tiga ini maka resikonya ialah bahwa relasi antara manusia dan alam akan bersifat konfrontasi. Unsur ke tiga ini adalah Tuhan. Suatu pertentangan akan pecah bila dalam pandangan kita hanya ada relasi antara umat manusia dan alam. Perselisihan ini ingin menentukan siapa yang bertanggung-jawab di antara kedua belah pihak itu.

Tetapi bila kita ingat bahwa alam dan kita ini adalah ciptaan Allah, dengan mengakui bahwa Sang Pencipta itu adalah sumber segala sesuatu dan melampaui kita semua, maka akan terciptalah keseimbangan dalam sebuah hubungan yang penuh damai.
Pertimbangan-pertimbangan lain dapat muncul bila kita menyimak pengalaman rohani Fransiskus dari Asisi: panggilannya pada kemiskinan menjadi sebuah model untuk menahan diri dalam penggunaan sumber-sumber, yang sekarang ini semakin lebih diperlukan dan yang hendaknya mencirikan jalan hidup kita. Hubungan persaudaraannya tidak hanya dengan orang-orang, tetapi juga dengan binatang-binatang dan benda-benda dapat mengajar kita suatu cara lain untuk menjalin relasi dengan kehidupan, dengan mereka yang kita jumpai dan dengan henda-benda yang kita pergunakan. Akan menjadi sedemikian indahlah menjadi “saudara-saudara universal”, sebagaimana Fransiskus ajarkan kepada kita dan sebagaimana dituntut oleh panggilan kita sebagai saudara-saudara dina!

Selama beberapa puluhan tahun terakhir ini, kesadaran ekologis ini telah meresapi kesadaran kita sebagai Saudara-saudara Dina. Kapitel General kita tahun 2003 memberikan perubahan pada naskah artikel pertama Konstitusi General kita. Di dalamnya kita menguraikan identitas dasar kita, dengan menambahkan pada akhir paragraf 2, (yang telah berbicara perihal “berkhotbah, dengan fakta-fakta, rekonsiliasi, damai dan keadilan”) ungkapan “memperlihatkan hormat yang besar pada alam ciptaan.” Ini merupakan suatu pengakuan bahwa pemeliharaan rumah kita bersama ini harus membentuk suatu bagian yang hakiki dari karisma kita; mungkin akan bergunalah untuk mengingat sekrang ini, dua belas tahun kemudian, dan bertanya langkah nyata apakah yang telah kita ambil sejak waktu itu. Kita semua tahu, bahwa perubahan dalam naskah Konstitusi itu, sebagaimana banyak pernyataan, dapat tetap tinggal pada kertas saja: apa yang harus diperhatikan adalah perubahan dalam praktek-praktek kehidupan kita.

Ada begitu banyak refleksi dapat kita buat lagi, dan kami berharap bahwa refleksi-refleksi itu tengah dibuat baik secara pribadi maupun secara komunitas, dalam pertemuan-pertemuan persaudaraan kita. Akan tetapi, kami ingin juga mengundang kita semua untuk menerjemahkan refleksi-refleksi itu ke dalam keputusan-keputusan yang juga berupa pilihan-pilihan untuk dilaksanakan. Benarlah bahwa teori yang bagus itu perlu bagi praktek yang bagus, tetapi sama-sama perlu juga bahwa tanpa praktek, teori itu tetap saja mandul.

Fransiskus mengingatkan kita bahwa tidaklah cukup “memiliki Roh Tuhan.” Apa yang juga diperlukan adalah “pelaksanaannya yang kudus.” Menjadi sadar bahwa air itu adalah komoditas yang berharga haruslah karena itu terjadi dalam disiplin pribadi dan komuniter, yang berusaha menghindari air dibuang dengan sia-sia. Dalam beberapa negara tertentu hal ini dapat terjadi dengan mudah. Refleksi perihal konsumsi energi yang berlebih-lebihan, yang menjadi sumber polusi, akan juga mempengaruhi penggunaan listrik secara pribadi dan bersama-sama, alat-alat pemanas, penyejuk udara atau lemari pendingin. Informasi perihal masalah pemborosan yang bertimbun-timbun, khususnya barang-barang plastik atau yang tak terhancurkan secara biologis, dan peraturan-peraturan setempat hendaknya membimbing tingkah laku kita dalam mempergunakan detergen dan barang-barang buangan kita yang menumpuk.

Semua ini dapat dibuang dengan cara yang benar. Bahkan sebagai pemakai (kita semua ini mau tidak mau adalah pemakai), kita harus nelajar memilih barang-barang belanja kita, dengan mempertimbangkan unsur-unsur lain yang bercorak alamiah, di samping yang menyangkut harga dan kenyamanan. Pertimbangan-pertimbangan ini sangatlah praktis, yang selalu dapat terus berlangsung. Sebagai Definitorium General, kami menginginkan bahwa kesadaran ini diterjemahkan ke dalam suatu gaya hidup yang baru, di dalam rumah generalat kita dan semua komunitas seluruh Ordo kita.

Semoga saudara kita St. Fransiskus menolong kita dan menyertai kita dalam perjalanan pertobatan ini. Kepada pertobatan inilah Paus kita Fransiskus telah memanggil kita dengan kuat dan mendesak. Marilah kita lakukan segala sesuatu yang berada dalam batas-batas kewenangan kita menghadapi bahaya berat yang di dalamnya terdapat alam ciptaan dan membutuhkan begitu banyak saudara dan saudari yang mengharapkan solidaritas dan hospitalitas kita. Dengan jalan ini, kita kemudian akan bekerja demi masa depan yang penuh damai yang lestari dan bersaudara, bagi rumah kita bersama dan bagi semua orang di antara kita.

Semoga berkat Tuhan Allah turun atas persaudaraan kita dan atas setiap orang dri kita sebagai tanda kehadiran Allah dalam persektuan dan kasih.

Roma, 17 September 2015,
Pesta Stigmata St. Fransiskus.
Saudara-saudaramu di Definitorium General:
Fr. Michael Anthony Perry, ofm (Min. gen.)
Fr. Julio César Bunader, ofm (Vic. gen.)
Fr. Caoimhín Ó Laoide, ofm (Def. gen.)
Fr. Ignacio Ceja Jiménez, ofm (Def. gen.)
Fr. Nicodème Kibuzehose, ofm (Def. gen.)
Fr. Lino Gregorio Redoblado, ofm (Def. gen.)
Fr. Ivan Sesar, ofm (Def. gen.)
Fr. Lóránt Orosz, ofm (Def. gen.)
Fr. Valmir Ramos, ofm (Def. gen.)
Fr. Antonio Scabio, ofm (Def. gen.)
Fr. Aidan McGrath, ofm (Seg. gen.)

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *