Fransiskus dan Para Penghuni Gua

Ilustrasi Fransiskus meninggalkan harta di hadapan Uskup Asisi

Ilustrasi Fransiskus meninggalkan harta di hadapan Uskup Asisi

Pada saat kegelapan menimpa hidup masyarakat Assisi, muncul seorang pemimpi muda yang jatuh cinta kepada Yesus. Dialah Fransiskus anak Pietro Bernardone. Dia mengalami Yesus sebagai misteri kasih Allah. Segera setelah dia meninggalkan tempat tidur yang lembut nyaman dan rumah beralaskan permadani indah, dia menemukan bahwa hidup adalah suatu perjalanan yang tidak perlu terlalu banyak keluar dan pergi jauh. Tetapi perjalanan itu meliputi pertama-tama perjalanan masuk menuju inti hatinya yang terdalam. Setelah melewati saringan suara hati dan gua-gua batiniahnya, barulah orang berjalan keluar dari dirinya. Itulah cara yang terbaik untuk suatu perjalanan hidup.

Dalam gua dirinya yang gelap dia menemukan hanya ruang gelap dan lembab; tidak ada pantulan cahaya dari dunia luar atau dunia ideal. Karena itu terkadang manusia takut untuk masuk lebih jauh dalam lorong-lorong gelap dirinya.
Fransiskus begitu terbiasa dengan hal yang gelap dalam dirinya. Maka ketika dia berhasil melewati lorong-lorong gelap itu, dia tampil di luar gua itu sebagai orang yang menikmati terang dunia. Dia menghargai matahari, bulan, bintang dan api yang bersinar cemerlang.

Dia berjalan dalam terang sepanjang hari hidupnya. Dia bernyanyi gembira. Dia mencintai burung-burung yang beterbangan ria, karena di dalam gua-gua di Umbria dia tidak menemukan burung-burung. Dia hanya bertemu dengan kelelawar-kelelawar yang bergelantungan. Kelelawar itu baru memperlihatkan dirinya pada hari gelap. Mereka adalah sejenis burung-burung yang identik dengan diri seseorang bila ia tidak pernah mau meninggalkan gua batinnya.
Fransiskus belajar dari kelelawar-kelelawar itu. Ibarat kelelawar-kelelawar itu, orang tidak dapat terbang kalau orang mengikat diri secara erat pada atap gua. Orang itu bergelantungan dan matanya mesti membelalak; kemudian terbang sendirian dalam kegelapan. Orang lain merasa takut dan menjauhkan diri.

Tetapi Fransiskus berani memutuskan dirinya dari kelekatan pada gua-gua dirinya. Dia mau menjadi miskin dan tidak mau bergantung pada siapa saja yang menghalanginya untuk hidup dalam kebebasan, seperti burung-burung yang terbang bebas di angkasa. Tetapi dia tidak mau terbang sendirian. Bersama dengan burung-burung yang terbang riang gembira di langit biru Umbria, dia merayakan kebebasannya.

Dalam kebebasannya, dia merasakan kasih begitu besar dari Sang Penyelamat yang miskin tersalib. Dia tidak tahu bagaimana membalas kasih yang begitu besar dari PenyelamatNya. Dia hanya bertekad menjadi bentara Kristus kepada dunia. Sebab Kristus adalah manusia pertama yang melepaskan diri dari belenggu kegelapan gua untuk selama-lamanya. Kini Fransiskus menjadi seorang pembebas. Dia memancarkan terang Kristus yang bangkit ke dalam gua-gua batiniah manusia masa kini.

(Disadur dari Francis and the Cave Dwellers, dalam M.Bodo, The Way of St.Francis: the challenge of fraanciscan spirituality for everyone, St.Anthony Messenger Press, USA, 1995, hal.35-36).

Bookmark and Share

Kirim Komentar