Foto kenangan anak rohani Fransiskus

29/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 2.020 kali

Masa penggemblengan selama satu tahun penuh di Novisiat Depok selesailah sudah. Bukan main senang dan gembiranya mereka, karena selain masa yang cukup ketat itu selesai, mereka pun diterima dalam Persaudaraan Saudara-saudara Dina secara penuh melalui kaul mereka, kendati hanya untuk satu tahun.

Diantara kesepuluh ex-novis angkatan 1998/1999 ada dua orang yang mendapat tugas melanjutkan di STKIP Ruteng. Tentu, penugasan ini disambut dengan gembira dan akan dilaksanakan sebaik-baiknya. Mereka pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke Ruteng dan tentunya melewati Jakarta dengan menginap di Biara Fransiskus.

Ada satu masalah kecil. Sesampai di Ruteng nanti, mereka pasti ditanya kanan kiri mengenai Jakarta. Padahal selama setahun yang lewat kan hanya bercokol di Depok; mungkin satu dua kali ke Jakarta mengantar Paitua Remedius atau menghadiri perayaan ini itu di Provinsialat Jakarta. Tapi ya hanya itu. Pengalaman tidak banyak. Di sepanjang kereta api Depok – Jakarta pp padatnya bukan main; diempet-empet berdesak-desakan bak ikan pindang dalam tong; boro-boro menikmati pemandangan di luar! Si hidung ini tidak jarang terpaksa terdesak-desak nempel di ketiak orang. Mau ceritera apa nantinya mengenai Jakarta …?!

“Bagaimanapun juga kita harus membawa suatu kenangan” pikir mereka berdua. Maka mereka ini pun dengan semangat tinggi, tapi disertai pengetahuan yang minim mengenai Jakarta, jalan-jalan ke lingkungan Monas dengan bekal sebuah alat foto plastik sederhana. Sampai di bilangan Kwitang, menjelang taman Patung Pak Tani, dilihatnya suatu lokasi yang menurut cita rasa selera fotografi mereka sangatlah layak untuk dijadikan latar belakang mereka berfoto. Atur kanan, atur kiri, maju, mundur bagaikan bintang film yang sedang in action. Belum puas juga, akhirnya mereka loncat pagar masuk ke dalam taman. Sedang yang satu membidikkan kamera dan yang lain sedang bertolak pinggang sebagai ungkapan “gaya ombeng”nya, … tiba-tiba mereka terkejut oleh teguran dengan suara tegas “adik-adik ini dari mana!?” Betapa terkesimanya, ketika mereka melihat bahwa yang datang menegur mereka itu seorang marinir lengkap dengan peralatan jaganya. Pagar yang mereka loncati ternyata pagar kompleks marinir! Dengan suara yang ditenang-tenangkan, mereka pun menjawab “Dari novisiat Transitus Depok”, seolah-olah nama Transitus Depok begitu terkenal sehingga setiap hidung mengetahuinya. Tapi ya hanya itulah modal mereka! Mereka pun dibawa ke tempat penjagaan. “Apa itu situs?” kata si marinir. “Transitus pak” saudara kita ini masih punya nyali juga untuk memperbaiki kesalahan sang marinir, “Biara Fransiskan di Depok pak” jawab pesakitan kita ini. “Biara?…” gumamnya. Lalu dipanggilnya kawan jaganya yang ternyata dari Depok juga. “He, emangnya di Depok ada Biara?”. “Ya, ada. Dekat kuburan” jawabnya.

Tuhan memang Maha Besar dan Maha Baik. Bapa Fransiskus rupanya telah menempatkan di pos penjagaan markas marinir Jakarta ini seseorang yang pada waktunya bisa menyelamatkan anak rohaninya yang masih hijau ini dari kesulitan. Ternyata orang ini Katolik, dan berasal dari Depok, dan tahu ada Biara Transitus dekat kuburan di Depok!

Kedua anak rohani Fransiskus ini memang kelihatan begitu lugu seperti Bruder Juniper atau Bruder Lukas, tidak memperlihatkan maksud jahatnya; kelihatan sederhana dan bergaya kampung … “Ya sudahlah”, katanya, “berdiri sana berdua; mana tustelnya?” Tustel foto pun diberikan kepadanya, mereka berdiri dengan gaya dan sang marinirpun mengabadikan mereka berdua. “Cepret …” Para saudara di Karot, coba tanyakan mana foto itu. Kalau tidak ada, berarti tustel plastik yang dibawa-bawa itu ternyata kosong, tanpa film …

(dimuat dalam Taufan edisi Oktober 1999)

Satu komentar pada Foto kenangan anak rohani Fransiskus

  1. Sdr. Damas Udjan,ofm
    04/08/2012 at 11:35

    Heee….sekedar koreksi : Yg terlibat itu bukan hanya 2 sdra dina yg ke Ruteng, tetapi ada 2 sdra lagi, yakni 1 sdr. yg diutus utk study di Yogya & 1 sdra.yg study di Kota Metropolitan-DKI Jakarta. Dan dialah yg menjadi guide tunggal dlm perjalanan kami itu…..Itulah infomasi lanjutnya…..Kadang tergantung siapa yg menulis & bercerita, kadang mudah menyangkal……

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *