Eksorsisme dan Doa Pelepasan

Dilihat: 1.257 kali

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sebagai pembicara seminar.

Sdr Eddy Kristiyanto OFM sebagai pembicara seminar.

Sabtu, 21 November 2015, diselenggarakan seminar tentang EKSORSISME DAN DOA PELEPASAN (Deliverance Prayer). Aula SMP Santa Maria, Jl. Batu Tulis Raya 30, Jakarta Pusat menjadi tempat  berlangsungnya seminar sehari itu.

Panitia penyelenggara terpaksa membatasi jumlah hadirin, mengingat daya tampung aula itu hanya untuk 800 orang. Mungkin berkat iklan di Mingguan HIDUP, maka seminar ini menarik hadirin dari pelbagai kota di luar Jakarta, bahkan luar Jawa. Tidak kurang dari 760 hadirin memadati aula tersebut.

Seminar ini diselenggarakan oleh KMKS (Kelompok Meditasi Kitab Suci). Embrio KMKS dirintis oleh Imam Diosesan KAJ, Fransiskus Xaverius Doy. Panitia penyelenggara menurunkan Frans Doy dan Eddy Kristiyanto OFM sebagai pembicara.

EKSORSISME

Setelah macam-macam lagu pujian dan doa, Eddy Kristiyanto OFM diundang untuk tampil ke atas panggung. Presentasinya bertajuk “Iman dalam Eksorsisme”. Pada dasarnya, dia mengangkat masalah pelayanan pastoral berkenaan yang “pengusiran kuasa kegelapan” yang pasca Konsili Vatikan II kurang mendapat perhatian.

Dulu ada macam-macam tahbisan “kecil” termasuk eksorsisme. Tahbisan ini mempersempit kata-kata Origines dan Tertullianus. Para teolog kondang ini menyatakan bahwa setiap orang yang telah dibaptis (secara sah tentu saja) adalah eksorsis.

Dalam perkembangan waktu, terutama pasca Vatican II, pengusiran setan hanya dikhususkan bagi imam yang ditunjuk secara resmi oleh ordinaris wilayah. Imam itu pun mutlak perlu memiliki anugerah Tuhan, seperti hidup imannya mendalam, arif, memiliki integritas tinggi, berwawasan luas.

Dalam karyanya, imam eksorsis beneran tidak bekerja sendiri. ia mutlak perlu – karena keterbatasannya sebagai manusia – didampingi oleh tenaga medis (dokter), psikolog, dan kelompok doa. Pelayanan dalam tim ini tentu mempermudah tim membedakan “korban” itu sungguh kerasukan roh jahat atau sesungguhnya tidak kerasukan roh jahat.

Penelitian membuktikan, bahwa dari 100 orang yang terindikasikan kerasukan roh jahat (kesurupan), yang sungguh-sungguh kerasukan hanyalah 3-4 orang. Lalu, bagaimana dengan 96-97 yang lain?

Mayoritas orang yang terindikasikan kerasukan setan sebenarnya adalah pribadi-pribadi yang mengalami luka batin, kelemahan struktur kejiwaan, tekanan batin yang terakumulasi, depresi, dan lain sejenisnya. Hal-hal semacam ini muskil diketahui secara pasti oleh pastor. Itulah sebabnya, pastor yang ditunjuk secara resmi oleh Uskup sebagai eksorsis harus melayani di dalam kelompok.

Di Indonesia, ada pastor yang alih profesi menjadi dukun rohani. Istilah kerennya “pendoa yang menyembuhkan”. Dan, ada sejumlah orang yang dibantu untuk sembuh. Ada yang berhasil, ada yang sebaliknya. “Obat” yang digunakannya pun beragam, misalnya minuman sprite, air yang diberkati, kawat, dedaunan tertentu, akar-akaran, ruas bambu yang berjarak pendek, bahkan kacamata, dlsb.

Cara kerja dukun pun masuk dalam alam pikiran pastor yang “merambah profesi dukun”, sehingga “pastor dukun” merasa perlu menampilkan kesan magis dan “magic”. Kesan itu mungkin bisa dilihat dalam bentuk ramalan, fungsi sebagai pelihat, “matra”, “pembicara dengan arwah”.

Kita memang mengalami kesulitan, artinya tidak serba mudah, membedakan antara iman sejati dengan kepercayaan magis, antara roh baik dan roh jahat, antara nabi sejati dan nabi palsu, terutama kalau kita menghadapi soal-soal yang melampaui indera atau mukjizat, suatu kekuasaan yang berada di luar batas-batas kemampuan akal budi insani. Meskipun demikian ada pegangan yang solid, yang berbunyi, “Ketika iman sejati melemah, takhayul (magis) dan praktik pedukunan dengan mudah berkembang”.

Tentu saja, cara Tuhan melakukan intervensi pada persoalan manusia tidak terbatas hanya melalui orang dan sarana tertentu. Eksorsisme tentu bukanlah tindakan ritual untuk membebaskan orang dari luka batin, stres, depresi, kelemahan kejiwaan, “cacat bawaan”, dan lain sejenisnya yang berhubungan problematika kejiwaan.

DOA PELEPASAN

Frans Doy, Imam Praja KAJ, menuturkan tentang kekuatan doa sebagai  pengusir kekuatan kegelapan. Selain itu, bagaimana ayat-ayat kitab suci memberikan pencerahan kepada kaum beriman, terutama dalam fungsinya sebagai anak-anak terang, yang tidak berasal dari dunia ini.

Beliau di sana-sini menuturkan pengalaman personalnya membantu orang-orang keluar dari pengaruh buruk yang didatangkan oleh para dukun. Di banyak tempat orang menggunakan kekuatan gelap untuk memeroleh keuntungan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri.

Kitab suci menuturkan secara gamblang kisah Yesus yang mengusir dan mengalahkan roh jahat, setan, dan kuasa kegelapan (Mrk. 5:1-20; Mat. 8:28-34; Luk. 9:37-43). Pembacaan kita atas nas-nas itu, mengiring kita pada keyakinan fundamental bahwasanya roh jahat, kuasa kegelapan itu tampil ke panggung kehidupan ini hanya untuk dikalahkan.

Tidak pernah ada kuasa kegelapan yang menang dan menguasai manusia yang sungguh beriman. Orang dapat benar-benar dikangkangi oleh kuasa itu karena dengan rela, bebas, dan mau menyerahkan dirinya pada kuasa itu.

Ada kalanya, kuasa jahat yang membutakan, mencelakakan, dan mematikan itu “diwariskan” dan “diberikan oleh generasi sebelumnya” tanpa kesadaran dan kehendak bebas orang yang diberi. Hal ini dapat dibantu dengan Doa Pelepasan, yang dipromosikan oleh Frans Doy.

Inti Doa Pelepasan – menurut rumusannya – adalah dengan dasar iman kepercayaan akan Allah Tritunggal serta sentralitas Kristus Yesus dalam karya keselamatan, semua bentuk kuasa kegelapan, baik yang dikerjakan oleh dukun dan diperoleh dari orang lain, dilepaskan dan dibebaskan dari kita.

Dalam sedikit praktik Doa Pelepasan yang diperlihatkan dalam seminar tadi, saya mempunyai kesan singkat berikut ini. Doa itu entah dibatinkan entah dilafalkan diekspresikan secara repetitif, layaknya litani – dalam tradisi Katolik, atau zikir – dalam tradisi Islam.

Dari sekian banyak hadirin yang mengerubungi saya pasca presentasi dan sesi tanya jawab, saya memeroleh kesan bahwa persoalan atau masalah yang dikemukakan berkenaan dengan kesulitan hidup. Contohnya: “Terkunci” dan tidak mendapat jodoh, mengeluarkan air mata saat mendengar dan mengucapkan kata “Tuhan Yesus”, diguna-guna (santet), kekuatan tidak-biasa yang diwariskan dari nenek moyang tanpa sendiri menghendaki, sakit menahun yang diderita, anak hilang, percikan darah di lantai rumah yang hilang dengan sendirinya tanpa dibersihkan, kemampuan membaca dan melihat roh-roh penunggu dan pengganggu ruangan, tekanan batin, “sakit jiwa”, dan lain sebagainya.

Terlaksananya seminar eksorsisme ini, berikut sambutan hangat para hadirin saya tafsirkan sebagai wujud keadaan umat yang membutuhkan katekese dan pastoral yang tepat. Terungkap keadaan umat yang hidup dalam mentalitas dan kepercayaan akan roh-roh (gaib), klenik, supranatural, yang sangat jarang diolah oleh petugas pastoral dan pewarta sabda, sehingga umat terkesan “mencari sendiri”.

Selain katekese yang kurang mendapat perhatian di banyak tempat, keadaan umat diperparah oleh hierarki, pemuka jemaat yang bekerja dengan cara, gaya, dan model dukun. Mungkinkah di seminari-seminari, rumah-rumah pembinaan, pusat pendidikan pastoral “eksorsisme dan deliverance prayer” ini diperkenalkan dan diolah secara komprehensif dan seimbang? Semua ini demi pelayanan gerejawi yang lebih sehat. *****

Kontributor: Eddy Kristiyanto OFM

Suasana beberapa saat sebelum seminar

Suasana beberapa saat sebelum seminar

Suasana beberapa saat sebelum seminar

Suasana beberapa saat sebelum seminar

Rm. Frans Doy, imam KAJ, saat membawakan materi seminar

Rm. Frans Doy, imam KAJ, saat membawakan materi seminar

Sdr. Eddy Kristiyanto OFM, pemateri dalam seminar tentang exorsisme dan doa pelepasan

Sdr. Eddy Kristiyanto OFM, pemateri dalam seminar tentang exorsisme dan doa pelepasan

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Peserta Seminar aktif bertanya setelah presentasi Sdr. Eddy Kristiyanto OFM

Sdr. Januarius Kanmese, ingin tahu tentang isi seminar ini

Sdr. Januarius Kanmese, ingin tahu tentang isi seminar ini

Dua OFM muda membantu penyebaran buku SEANDAINYA INDONESIA TANPA KATOLIK (OBOR 2015, Karya Eddy Kristiyanto OFM)

Dua OFM muda membantu penyebaran buku SEANDAINYA INDONESIA TANPA KATOLIK (OBOR 2015, Karya Eddy Kristiyanto OFM)

2 komentar pada Eksorsisme dan Doa Pelepasan

  1. Budi
    05/01/2017 at 01:46

    Yth Rm. Eddy
    Saya bisa minta doa atau rumusan doa pelepasan dari ikatan ilmu santet tenung dan sebagainya, terima kasih.

  2. Niq
    19/07/2016 at 05:20

    YTH Rm. Eddy,
    Bolehkah saya minta copy contoh/rumusan doa pelepasan terutama untuk melepaskan ikatan terhadap ramalan. Apa langkah-langkah yang harus kami jalani agar bisa terlepas dari ikatan-ikatan tsb?
    Terima kasih!

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *