Doa Di Depan Salib – Latar Belakang dan Sejarahnya

09/02/2018
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 46 kali

Pengantar oleh sdr. Alfons S. Suhardi, OFM

Para pengunjung dan pembaca website fransiskan St. Mikhael yang terkasih. Betapa sering kita telah mendoakan Doa di Depan Salib yang berasal dari Bapa Fransiskus Asisi. Bagus sekali. Tetapi sudah tahukah latar belakang sejarah, teologis dan penghayatan iman Fransiskus bersama para saudara-saudaranya? Berikut ini saya sajikan paparan singkat dari sdr. Thomas F. Suharto OFM, yang telah dimuat dalam Majalah bulanan OFM Indonesia, edisi Desember 2017, hlm 344-354. Saya tidak mengubah apa pun, kecuali salah cetak yang terdapat di sana.

Semoga saudara-saudara semakin dapat menghayati iman saudara sewaktu mendoakan doa singkat dan indah ini.

*****

doa-di-depan-salib2

Salib menduduki peran sentral dalam kehidupan rohani Santo Fransiskus. Peristiwa salib amat mempengaruhi Fransiskus. Hal ini bisa kita lihat baik dalam refleksi, pemikiran maupun sikap hidup, dan tentu saja juga dalam hidup doanya. Ada dua doa yang digubah Fransiskus di depan salib. Yang pertama adalah doa Fransiskus di hadapan salib San Damian. Doa ini terungkap ketika Fransiskus sedang dalam awal masa pertobatannya (sekitar 1205-1206), saat itu ia sedang bingung akan apa yang harus ia lakukan setelah ia kembali ke Assisi, melepaskan segala cita citanya untuk menjadi ksatria. Dan doa di depan salib yang kedua adalah doa yang yang menurut pengakuannya sendiri dalam wasiatnya adalah doa yang menurutnya diinspirasikan sendiri oleh Allah yang memberinya kepercayaan begitu besar akan Gereja sehingga setiap ia bertemu, melewati atau mengunjungi suatu Gereja ia selalu mengucapkan doa tersebut. Tulisan sederhana ini lebih akan mengulas tentang doa yang terakhir itu.

“Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini: “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.” Demikian Fransiskus menulis dalam wasiatnya (Was. 4-6). Doa tersebut sebenarnya bukan doa yang digubah oleh Fransiskus sendiri. Jadi secara original bukan berasal dari Fransiskus. Doa tersebut kiranya sebuah doa liturgis yang mungkin sudah dikenal oleh Fransiskus sejak masa mudanya. Rumus doa liturgis ini dapat kita temukan dalam ibadat harian yakni dalam Pesta Salib Suci (tgl. 14 September) yang sampai saat ini masih kita rayakan dan juga dalam peringatan PenemuanKembali Salib Suci Yesus di Yerusalem oleh Santa Helena pada tgl 5 Mei, yang sekarang sudah tidak kita peringati lagi secara wajib.

Rumusan yang sama dapat kita temukan dalam Ibadat harian yakni dalam madah Jumat Agung. Rumusan liturgi yang ada dalam ibadat harian dan madah tersebut di atas adalah sebagai berikut: “Kami menyembah Engkau ya Kristus, dan mengucap syukur kepada-Mu karena dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.” Kalau kita perhatikan rumusan yang dipakai Fransiskus lebih panjang dari rumusan yang ada dalam ibadat harian. Rupanya Fransiskus menambahkan ke dalam rumusan tersebut, kata-kata yang ia gubah sendiri: “Tuhan Yesus Kristus yang ada di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia.” Makna apa yang kini membedakan rumusan liturgi yang umum dengan rumusan yang digubah oleh Fransiskus?

1. Dari “Kristus” menjadi “Tuhan Yesus Kristus”

Secara sekilas seolah tak ada perbedaan signifikan dalam penyebutan Kristus dan Tuhan Yesus Kristus. Tetapi kalau kita telaah secara teologis ada perbedaan mendasar dalam penyebutan tersebut. Penyebutan Tuhan Yesus Kristus adalah salah satu kekhasan Fransiskus. Dalam wasiat sendiri ia menyebut kata itu sampai 28 kali.

Teologi pada masa Fransiskus boleh dikatakan masih terlalu menekankan Kristus yang bangkit mulia, sementara Fransiskus justru mulai terpesona dan kagum akan Yesus yang tampil manusiawi sebagai pribadi yang merendahkan diri dengan lahirsebagai manusia tak berdaya dalam peristiwa inkarnasi, wafat dan sengsara di salib dan masih terus hadir secara sederhana dalam Ekaristi Suci. Bagi Fransiskus kemulian Kristus tak hanya menakjubkan dalam peristiwa mulia kebangkitan-Nya tetapi justru nampak menawan dalam kerendahan-Nya sebagai manusia yang menjadi hamba, kecil dan miskin. Dalam diri Yesus yang menjadi bayi di Betlehem dan menjadi tukang kayu di nazareth itu Fransiskus juga menemukan pribadi Yesus sebagai Tuhan.

Penyebutan Tuhan Yesus Kristus menunjukkan pemahaman Fransiskus yang seimbang dan harmonis akan pribadi Tuhan yang adalah Yesus, sungguh manusia, dan sekaligus Kristus, sungguh Allah. Di mana dalam kemanusiaan-Nya kita dapat menemukan kemuliaan ilahi-Nya dan dalam keilahian Ia berkenan merendah menjadi manusia. Terhadap misteri ini Fransiskus sampai berseru, “O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah!” (SurOr 27).

2. Penambahan: di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia

Penambahan ini menunjukkan salah satu ciri khas pemikiran Fransiskus yang sering menembus satu obyek yang ia lihat kemudian melompat melampaui obyek itu sampai ke suatu pemikiran atau pemahaman yang lebih universal, bahkan kadang melampaui dunia ini sampai ke keilahian. Ketika Fransiskus melihat indahnya sekuntum bunga, maka kekagumannya bisa menembus keindahan bunga dan melompat sampai ke kesadaran dan kekaguman akan kemahaindahan Bapa yang telah menciptakan bunga itu.

Ketika melihat seorang kusta maka Fransiskus tak hanya melihat si kusta saja tapi ia menemukan dalam diri si kusta kehadiran Kristus sendiri yang merendah, miskin dan papa serta bersabda, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

Maka ketika Fransiskus melihat sebuah gereja, melihat salib dan altar atau juga ketika ia memasuki suatu tempat yang suci maka segera hatinya dipenuhi dengan perasaan cinta dan keinginan untuk memeluk dengan pemikirannya tak hanya salib dan altar yang ada di gereja atau tempat suci itu tetapi juga seluruh salib dan altar di semua gereja yang ada di seluruh dunia.

Kalau umat pada umumnya ketika masuk basilika kepausan menemukan adanya patung Petrus dan Paulus untuk menyadarkan umat akan hakekat Gereja yang adalah kesatuan antara Gereja lokal dan Gereja universal, maka tidak demikian dengan Fransiskus. Tanpa dibantu oleh keberadaan patung Petrus dan Paulus atau tanda tanda lain, Fransiskus otomatis langsung menyadari hakekat Gereja tersebut di atas.

Seiring dengan makin universal kesadaran Fransiskus makin mendalam pula hormat baktinya pada Tuhannya. Tambahan doa tersebut juga menunjukkan betapa dalamnya kesadaran Fransiskus akan keberadaan Tuhan di semua tanda penebusan (salib, gereja) yang tersebar di seluruh dunia.

Bahkan , dalam biografi Fransiskus, Thomas dari Celano mengisahkan bahwa doa tersebut tak hanya diucapkan oleh Fransiskus dan kawan-kawannya ketika mereka memasuki sebuah gereja atau tempat suci, tetapi juga ketika melihat salib yang terpajang entah di rumah penduduk, di jalan dan bahkan ketikamereka menemukan bentuk salib yang mereka lihat entah itu di tanah, di antara pohon pohon dan di mana saja. (bdk. 1 Cel. 45, Fonti Francescane 401). Di sini mau ditunjukkan suatu sikap hormat bakti Fransiskus dan kawan-kawannya yang membuat mereka berdoa liturgi tak hanya di gereja dan tempat kudus saja.

Penambahan rumus liturgi berkaitan pula dengan meluasnya lingkungan liturgis: seluruh dunia menjadi tempat penyembahan kepada Allah. Seluruh dunia ini telah disucikan dengan darah Kristus tersalib sehingga seluruh dunia menjadi tempat kudus. Maka bagi Fransiskus tak ada pembedaan sikap antara di dalam gereja dan di luar gereja.

Kalau kita terbiasa untuk bersikap sopan, berkata santun di dalam gereja maka sikap itupun mesti diwujudkan di luar gereja. Hal itu tak seperti apa yang sering terjadi di antara kita: ketika berada di gereja bersikap baik, penuh sopan dan santun tetapi di luar gereja, di jalan dan di rumah menjadi pribadi pemarah, kasar, penuh emosi, dsb.

Dalam Gita Sang Surya yang digubah oleh Fransiskus, menjadi jelas bahwa bagi dia seluruh dunia dan seisi semesta adalah tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Allah dapat ditemui juga dalam alam semesta, sehingga bukan hanya kita manusia tetapi juga seluruh semesta hendaknya berpadu dalam puji-pujian kepada Allah.

3.Penambahan: dari “salib-Mu” menjadi “salib suci-Mu”

Bagi Fransiskus, segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah suci. Maka apapun yang terkait dengan Tuhan harus diperlakukan secara istimewa, maka tak heran bila dalam wasiatnya, ia mengingatkan para pengikutnya demikian, “Nama-Nya yang tersuci dan firman-Nya yang tertulis, di mana pun juga kudapati di tempat yang tidak semestinya, mau kukumpulkan, dan aku minta agar dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang pantas.”(Was. 12). Demikian juga maka salib Tuhan adalah suci karena selalu mengingatkan akan peristiwa penebusan sekaligus menjadi istimewa bagi Fransiskus karena selalu mengingatkannya akan salib San Damiano yang memberinya mandat untuk memperbaiki Gereja-Nya yang nyaris roboh itu.

Dalam Kisah Ketiga Sahabat (37) juga dalam Biografi Fransiskus tulisan Thomas dari Celano (1 Cel. 45) dikisahkan bahwa doa sederhana tersebut pada masa-masa awal berdirinya Ordo Fransiskan menjadi doa yang selalu didoakan oleh para saudara pertama pengikut Fransiskus di saat mereka belum mengenal dan memiliki buku ibadat harian yang pada zaman itu amatlah langka dan tentu saja amat mahal harganya. Berdasarkan catatan ini maka boleh diperkirakan bahwa doa ini digubah Fransiskus sekitar thn. 1206-1208. Sedang doa dalam bentuk aslinya kemungkinan setidaknya sudah berasal sejak pembaharuan liturgi oleh Gregorius Agung sekitar tahun 604. Tak menutup kemungkinan juga sudah berasal jauh sebelumnya. Doa gubahan Fransiskus tersebut kemudian berkembang menjadi doa untuk mengawali ibadat harian. Doa ini menjadi bagaikan harta karun rohani yang diteruskan sepanjang perkembangan dan pertumbuhan Ordo Fransiskan. Tak heran bahwa doa ini disalin teruskan di hampir semua biara Fransiskan. Namun saking seringnya disalin saat ini terlihat ada beberapa versi yang berkembang di pelbagai tempat. Pelbagai versi itu terjadi karena penerjemahan yang berbeda-beda dari doa aslinya – yang berbahasa Latin maupun karena penerjemahan sumber sumber Fransiskan yang berbeda-beda pula. Namun pelbagai variasi itu biasanya tidak terlalu jauh berbeda dan yang paling penting tak mengubah nilai nilai spiritualitas yang ada didalamnya sebagai berikut:

“… kami …”

Berbeda dengan Doa di depan salib San Damiano, di mana fransiskus memakai kata aku yang karenanya bersifat lebih pribadi, dalam doa ini karena juga pada awalnya dimaksudkan sebagai doa liturgi pengganti ibadat harian maka dipakai kata kami untuk menunjukkan bahwa kita sekarang meski mendoakannya sendirian namun kita sedang berdoa bersama seluruh Gereja dan mewakili seluruh Gereja kita menghaturkan pujian bakti penyembahan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Itulah hakekat doa liturgi Gereja, yang meski didoakan secara pribadi tetapi selalu ada dalam kesatuan seluruh Gereja: berdoa bersama Gereja dan untuk kepentingan Gereja, tak hanya Gereja lokal tetapi juga dalam kesatuan dengan Gereja universal. Maka doa liturgi bagi Fransiskus adalah juga suatu bentuk ketaatan kepada Gereja. Dengan doa ini Fransiskus mengajak kita untuk memiliki “sense of universality”: menyadari keberadaan kita yang selalu ada bersama dengan semua saudara tak hanya yang secara nyata hadir bersama kita di tempat ini tetapi dengan semua saudara di tempat lain, di seluruh dunia. Kita berada bersama saudara saudara tak hanya sekomunitas, selingkungan, separoki atau sekeuskupan tetapi juga seluruh dunia. Tak hanya Gereja lokal tapi juga universal. Tak hanya saudara sesama manusia tetapi juga sesama ciptaan semesta alam ini. Semua yang memuji dan menyembah Allah itulah juga saudara dan saudari kita.

“… kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus…”

Sembah-bakti atau adorasi adalah sikap dasar setiap doa yang benar. Itulah sebabnya ketika Yesus mengajar kita berdoa, pertama-tama Ia mengajak kita untuk bersembah sujud kepada Allah Bapa: “dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu.” Sikap yang tepat ketika kita ada dihadapan Allah yang mahamulia dan meraja adalah sembah sujud atau sembah bakti, adorasi. Kita menyembah hanya Allah saja sebab menyembah yang lain berarti idolatria (ponyembahan berhala). Thomas dari Celano bahkan dalam biograsi St. Fransiskus menggambarkan bagaimana Fransiskus dan para saudara itu begitu khusuk dalam berdoa sambil berlutut dan membungkuk sehingga dikatakan bahwa mereka menyembah tak hanya dengan badan tetapi dengan seluruh jiwa. Dalam sikap sembah bakti itulah Fransiskus menyadari keberadaan dasar manusia yang rendah di hadapan Allah, karena kita ini hanyalah ciptaan. Namun rasa merendah ini berpadu dengan syukur yang dalam karena meski hanya mahluk rendah dan kecil tetapi Allah mengasihi mereka dengan cinta yang begitu besar, bahkan cinta yang paling besar yang membuat Allah Bapa berkenan mengutus Putra tunggal satu satunya untuk hadir menjadi manusia dan melalui sengsara dan salib-Nya menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia yang kini tak lagi menjadi hamba tetapi lebih daripada itu menjadi sahabat-sahabat-Nya. Perasaan dikasihi dan diangkat sebagai sahabat inilah yang membuat Fransiskus melihat orang lain bahkan mahluk lain sebagai sesama saudara ciptaan sehingga ia memanggil ciptaan lain sebagai saudara dan saudari: saudara burung, saudari air dsb. Ia pun melihat orang-orang yang datang padanya dalam hidup dan menemani perjalanan hidupnya sebagai anugerah yang diberikan Allah kepadanya. Dalam diri Fransiskus kita bisa melihat bahwa sikap adorasi yang benar selalu memiliki dampak dalam sikap terhadap orang lain: melihat yang lain sebagai saudara dan juga sebagai anugrah Allah. Bila sikap kita meremehkan dan merendahkan orang lain itu tanda bahwa kita belum menyembah Tuhan secara benar dan sungguh-sungguh.

“… di sini dan di semua Gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia…”

Setiap Natal dan Paska Bapa Suci selalu memberikan berkat urbi et orbi, berkat untuk kota (Vatican) dan dunia. Bapa Suci dengan berkat itu mempersatukan Gereja yang ada dan terwujud nyata di sekitarnya dengan gereja yang ada di seluruh dunia. Umat yang hadir di ajak untuk juga punya sense of belonging dengan semua saudara seiman di seluruh dunia. Kiranya gambaran inilah yang juga ada dalam pemahaman Fransiskus. Setiap kali Fransiskus berada di suatu gereja lokal maka kesadarannya tak berhenti hanya pada gereja yang terlihat secara local itu tetapi ia sadar bahwa gereja yang ia lihat saat itu bukan suatu gereja yang berdiri sendiri tetapi gereja yang ada dalam kesatuan dengan gereja gereja lainnya yang ada tak hanya di Italia saja tapi di seluruh dunia, bahkan melampaui dunia: Gereja yang masih berjuang di api pencucian dan gereja yang sudah mulia di surga. Mendoakan ini mengajak kita juga untuk menghidupkan semangat ekumenisme demi kesatuan semua gereja atau denominasi kristiani.

“dan kami menyembah Dikau…”

Sembah bakti atau adorasi terwujud dalam pujian atas kemuliaan Allah. Dalam doa-doa Fransiskus seturut teladan dan ajaran Guru Ilahi ia selalu menempatkan pujian kepada Allah di tempat pertama jauh sebelum mengungkapkan permohonannya. Bagi Fransiskus, permohonan, utama yang layak dihaturkan manusia adalah agar Allah dimuliakan, agar kerajaan-Nya dihadirkan karena bagi Fransiskus kebahagiaan manusia yang pertama bukanlah bila doa dan permohonan manusia dikabulkan tetapi bila manusia layak dan diperkenankan turut serta memuji kemuliaan Allah bersama dengan paduan para malaikat dan para kudus di surga. Sebab tak ada anugerah yang bisa diterima manusia yang lebih besar, agung dan mulia daripada diperkenankan bergabung dalam paduan syukur dan pujian para malaikat ynng tak henti-hentinyaberseru kepada Allah di surga. Pujian khusus layak kita haturkan pula pada Yesus Kristus yang dengan karya keselamatan-Nya membuktikan bahwa Allah tidak tidur atau meninggalkan ciptaan-Nya. Meskipun manusia berdosa dan melupakan Allah, Allah tak berbuat serupa dan tak membalasnya dengan kutuk dan hukuman melainkan mengutus Putra-Nya untuk membebaskan kita melalui sengsara dan wafatnya yang terpatri di salib.

“… sebab dengan salib sucimu Engkau telah menebus dunia…”

Misteri penebusan Kristus adalah sebab utama mengapa kita harus menghaturkan sembah-bakti, syukur terimakasih kita. Oleh karena penebusan Kristuslah kita dibebaskan dari belenggu dosa. Tapi kebebasan ini bukan hanya kebebasan dari dosa tetapi juga harus punya tujuan: kebebasan untuk memuji dan menyembah Allah, Pencipta dan Penebus kita. Syukur dan pujian ini selalu menggerakkan Fransiskus untuk mengajak semua ciptaan berpadu dalam pujian dan syukur yang sama karena untuk itulah kita diciptakan dan ditebus.

Berdoa bersama Fransiskus di depan salib ini mengundang kita untuk menyelami unsur dasar doa menurut Fransiskus seturut ajaran. Yesus dalam doa Bapa Kami untuk menempatkan adorasi, pujian dan syukur atas kebaikan dan kemuliaan Allah Tritunggal sebagai yang pertama dan utama jauh melampaui dan mendahului segala permohonan yang biasanya menjadi pusat doa kita. Fransiskus tergerak oleh kata-kata Yesus yang bersabda, “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33) maka dalam doa pun sama seperti hakekat doa Bapa kami, pertama-tama menomorsatukan kerajaan Allah dengan adorasi, dengan pujian akan kemuliaan Allah dengan permohonan agar Allah semakin dimuliakan. Karena ia sadar bahwa ketika Allahdimuliakan di dalam hidup kita, ketika Kerajaan Allah datang sepenuhnya dalam hidup kita, Allah sungguh merajai hidup kita, maka serentak kitapun akan merasakan kebahagiaan yang tertinggi: keselamatan. Dan dalam keselamatan ini kita tak perlu lagi mohon ini dan itu karena semuanya sudah dicukupkan bagi kita. Dalam Allah semua hal tercukupi karena Allah adalah segalanya bagi kita. Deus meus et omnia.

Sdr. Thomas Ferry Suharto, OFM

________________________________

Bahan Pustaka Acuan:

LEONHARD LEHMANN, Francesco, maestro di preghiera, Instituto Storico dei Cappuccini, Roma, 1993.

FILIPPO SEDDA & JACQUES DALARUN (Editor), Franciscus Liturgicus, Editrice Franciscanae, Padova, 2015

Fonti Franciscanae, Editrice Franciscanae, Padova, 2011.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *