Dari Pater Brouwer: main terompet

29/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.275 kali

Mereka yang mengenal pater Brouwer tahu bahwa dia suka menceriterakan hal-hal yang lucu; atau menerangkan sesuatu dengan contoh-contoh yang menggelikan. Pada suatu retret para frater kita, pernah dia berceritera demikian: Menjadi bapa pengakuan tidaklah selalu mudah. Pernah seorang Pater kita yang belum lama ditahbiskan, mendapat tugas untuk asistensi pada sebuah paroki kita di Belanda. Waktu itu menjelang Paskah sehingga cukup banyak umat yang pergi mengakukan dosanya pada pastor, apalagi setelah diketahui ada pastor tamu. Si pater muda ini sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan terlebih dahulu membaca kembali diktat-diktat kuliah moral dan hukum gereja, karena ada info bahwa umat paroki tersebut terkenal ada yang suka selingkuh.

“Dosa saya pater: saya suka main terompet”, kata seorang peniten. Dia heran, ini kan bukan dosa, malah seni. Tapi demi menghemat waktu, dia tidak bertanya lebih lanjut. Dan diberi penitensi 3 x Salam Maria. “Penitensi ulah seni”, pikirnya. Setelah ada lima orang mengaku yang sama (dan semuanya mendapat penitensi ulah seni 3 x Salam Maria), dia mulai curiga, “apa-apaan ini?” katanya dalam hati. Maka pada orang ke enam, yang juga mengaku “suka main trompet” dia mulai menyelidik. Wah, ternyata “main terompet” itu istilah lokal untuk berselingkuh. Maka diapun memberi penitensi yang setimpal: satu kali doa rosario di depan patung Bunda Maria. Tetapi bagaimana dengan kelima orang pendahulunya? Penitensi mereka terlalu ringan! Dia pun keluar kamar pengakuan. Berdiri di depan dan dengan kata-kata dan kalimat yang disusunnya serapi mungkin, supaya tidak melanggar rahasia pengakuan dan tidak mempermalukan orang didepan umum; diumumkan demikian, sambil tersenyum ramah, supaya tidak mencurigakan: “Para Ibu dan Bapa anggota orkes simfoni supaya masuk kembali ke kamar pengakuan”

(dimuat dalam Taufan edisi Agustus 1999)

Satu komentar pada Dari Pater Brouwer: main terompet

  1. frumen.
    01/02/2012 at 01:05

    Mantap. Terima kasih ye. Membaca cerita ini, saya teringat penegasan Gaudium et spes no 44: untuk dapat mewartakan dengan baik penting sekali pengenalan yang dalam akan bahasa zaman kita. trims. Sdr Frumen.

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *