Karya-karya Fransiskus
Pasal X Mengendalikan diri
(1)Banyak orang cenderung untuk mempersalahkan setan atau sesama kalau mereka jatuh dalam dosa atau mengalami kelaliman. (2)Padahal tidak demikian; sebab setiap orang mempunyai musuh dalam wilayah kekuasaannya sendiri, yaitu badan[1], yang menyebabkan ia jatuh dalam dosa.
(3)Maka berbahagialah hamba yang senantiasa menjaga musuh itu sebagai tawanan yang diserahkan ke dalam kekuasaannya dan dengan bijaksana melindungi diri… »
Pasal XI Jangan seorang pun binasa karena perbuatan buruk orang lain
(1)Seorang hamba Allah tidak boleh merasa muak terhadap apa pun, selain terhadap dosa. (2)Bila ada orang berbuat dosa, entah bagaimanapun, dan hal itu menyebabkan hamba Allah itu menjadi gelisah dan gusar, tetapi bukan karena terdorong oleh cintakasih, maka ia menimbun kesalahan bagi dirinya sendiri.
(3)Seorang hamba Allah, yang tidak gusar dan gelisah karena orang lain, benar-benar… »
Pasal XII Mengetahui adanya Roh Tuhan
(1)Beginilah diketahui apakah seorang hamba Allah memiliki bagian Roh Tuhan: (2)apabila Tuhan menreriakan sesuatu yang baik dengan perantaraannya, dagingnya tidak memegahkan diri karenanya, sebab daging[1] itu memang selalu bertentangan dengan semua yang baik; (3)sebaliknya hamba Allah itu malah memandang dirinya lebih hina dan menilai dirinya lebih rendah[2] daripada semua orang lainnya.
[1]Istilah “daging” (= caro) di… »
Pasal XIII Kesabaran
(1)Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(2)Selama segalanya berjalan, seorang hamba Allah tidak dapat mengetahui, sejauhmana ia memiliki kesabaran dan kerendahan hati. (3)Akan tetapi bila datang saatnya, ketika orang-orang yang seharusnya memperlakukan dia dengan baik justru berlaku sebaliknya terhadap dia, maka [waktu itulah dapat diketahui berapa besar kesabaran dan kerendahan hatinya;]… »
Pasal XIV Kemiskinan roh
(1)Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena merekalah yang empunya kerajaan surga.
(2)Ada banyak orang yang rajin sekali berdoa dan beribadat, dan sekaligus banyak berpantang dan bermatiraga. (3)Akan tetapi mereka sudah merasa kesal hati dan segera gelisah, entah karena sepatah kata saja yang mereka rasakan sebagai kelaliman terhadap dirinya, atau karena barang sesuatu yang… »
Pasal XV Pembawa damai
(1)Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(2)Orang yang dalam segala penderitaannya di dunia ini tetap memelihara kedamaian dalam jiwa dan raganya demi cintakasih kepada Tuhan kita Yesus Kristus, mereka itu sungguh-sungguh pembawa… »
Pasal XVI Kesucian hati
(1)Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.
(2)Orang yang meremehkan barang-barang duniawi dan mencari barang-barang surgawi, serta tidak pernah berhenti menyembah dan memandang Tuhan Allah yang hidup dan benar dengan hati dan jiwa yang murni[1], mereka itu sungguh-sungguh suci hatinya.
[1] “kesucian atau kemurnian hati” dimaksudkan sebagai sikap yang lepas dan bebas secara sempurna… »
Pasal XVII Hamba Allah yang tetap rendah
(1)Berbahagialah hamba, yang tidak lebih bermegah-megah atas kebaikan yang diucapkan dan dikerjakan Tuhan dengan perantaraannya sendiri, daripada atas apa yang diucapkan dan yang dikerjakan Tuhan dengan perantaraan orang lain. (2)Berdosalah orang, yang mau menerima dari sesamanya, padahal tidak mau memberi sesuatu pun dari dirinya sendiri kepada Tuhan… »
Pasal XVIII Tenggang hati terhadap sesama
(1)Berbahagialah orang, yang sabar menerima sesamanya dalam kelemahannya, sebagaimana ia pun ingin diterima oleh sesamanya dengan sabar, sekiranya ia sendiri berada dalam keadaan serupa.
(2)Berbahagialah hamba, yang menyerahkan kembali semua yang baik kepada Tuhan Allah; sebab siapa menahan sesuatu bagi diri sendiri, ia menyembunyikan uang Tuhan Allahnya di dalam dirinya, maka apa yang pada sangkanya dimilikinya,… »
Pasal XIX Hamba Allah yang tetap rendah
(1)Berbahagialah hamba, yang tidak menganggap dirinya lebih baik apabila ia dipuji dan dihormati orang, daripada apabila dipandang hina, bodoh dan nista. (2)Sebab, seperti apa nilai seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih.
(3)Celakalah religius, yang diberi kedudukan tinggi oleh orang lain, dan tidak mau turun atas kehendaknya sendiri. (4)Akan tetapi berbahagialah hamba,… »



