Belajar dari Sikap dan Tindakan Fransiskus : Kemalasan Sebagai Sumber Segala Pikiran Jahat



Dilihat: 1.022 kali

Teks Renungan dari Legenda Maior St. Bonaventura, bab V, 6:

Adapun hamba Allah mengajarkan, bahwa orang harus menjauhi pengangguran sebagai kubangan sumber segala pikiran jahat. Dengan teladan diajarkannya, untuk mengekang tubuh yang merontak dan malas dengan tata-tertib yang terus-menerus dan dengan kerja yang berguna. Karena itupun tubuhnya dinamakannya saudara keledai, yang harus ditumpangi beban berat dan harus dihajar dengan cambuk dan diberi makan rumput sedikit saja.

Jika seorang saudara dilihatnya menganggur dan berkeliaran tapi mau makan dari jerih-payah saudara-saudara lain, maka pada hematnya saudara itu harus dinamakan saudara lalat, justru karena orang itu tidak melakukan sesuatu yang baik, tetapi hanya mencemarkan perbuatan-perbuatan baik dan oleh karenanya membuat dirinya keji dan jijik bagi semua saudara. Karena itupun ia pernah berkata: “Aku menghendaki, supaya saudara-saudaraku bekerja dan berjerih-payah, agar mereka jangan sampai menganggur dan melantur dengan pikiran dan percakapan yang tidak patut”.

Dan iapun menghendaki, supaya saudara-saudara menepati keheningan injili, yakni supaya mereka pada segala waktu sungguh-sungguh menahan setiap perkataan yang tidak berguna, sebab mereka kelak akan harus memberikan perhitungan atasnya pada hari pengadilan. Maka jika didapatinya seorang saudara yang membiasakan diri dengan kata-kata yang hampa, ia lalu ditegurnya dengan keras. Ditegaskannya juga, bahwa diam dengan sopan adalah perlindungan untuk kemurnian hati dan adalah kebajikan yang tidak kecil. Justru karena seperti dikatakan kitab Amsal (Ams 18:21), hidup dan mati dikuasai lidah, bukan karena makanan yang dikecap, tetapi karena perkataan yang diucapkan.

Renungan

Di Republik Rakyat Tiongkok ada sebuah cerita yang sangat menarik. Ada seorang yang bernama Cuilan Tan. Dia hidup di awal abad yang lalu. Anaknya 5 orang. Tetapi tanah pertanian yangdia miliki tidaklah cukup untuk menghidupi seluruh keluarganya. Pak Tan berfikir bagaimanakah dia dapat hidup dengan baik, dan bertanggungjawab pada keluarganya.

Dari pintu rumahnya, pak Tan dapat melihat dua bukit besar, yang tidak ada memilikinya. Dia berfikir, “kalau bukit itu kuratakanmenjadi sawah, pasti seluruh keluargaku dapat hidup sejahtera”. Hasil permenungannya itu disampaikan kepada isteri dan anak-anaknya. Semua setuju, kalau bukit itu akan mereka ratakan dan dijadikan sawah. Tetapi apa daya. Keluarga pak Tan tidaklah mempunyai perlengkapan yang canggih yang dapat meratakan bukit besar dan tinggi itu. Mereka hanya mempunyai sepasang cangkul saja. Dengan alat yang sederhana itu pak Tan dan isterinya mulai mencangkuli bukit itu. Satu hari berlalu, dan belum ada hasil yang nampak; seminggu yang lalu, baru setengah meter mereka hasilkan.

Mereka tetap optimis, bahwa mereka mampu meratakan bukit itu dan merubahnya menjadi sawah bagi masa depan mereka dan anak cucunya. Banyak orang bereaksi negatif terhadap rencana keluarga pak Tan. Ada yang mencibirkan bibirnya, ada yang menganggapnya gila, tidak waras dan melakakukan pekerjaan sia-sia, dls. Namun pak Tan dan keluarganya tetap bersemangat, tidak putus asa dan terus berusaha tiada hentinya.

Allah yang kekal dan kuasa melihat usaha luar biasa keluarga pak Tan, lalu mengutus dua malaikatnya untuk mencabut dua bukit itu dan meratakannya menjadi sawah, tanah pertanian yang subur. Mereka dapat menikmati hasilnya, justru karena mereka itu rajin bekerja, tidak kenal sifat malas apapun. Apakah di dunia ini banyak orang yang mempunyai tekad seperti pak Tan dan keluarganya?

Ternyata di dunia ini kita dapat menjumpai banyak orang yang malas, dan tidak mau bekerja. St. Paulus tidak pernah mau menyusahkan orang lain, karena itu dia bekerja dengan tangannya sendiri. Sambil memberitakan Injil, Paulus bekerja siang dan malam, supaya tidak membebani para pendengarnya. Antara lain dikatakan oleh Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat di Tesalonika. “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga diantara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu” (1 Tes. 2: 9). Dan dalam Suratnya kepada Jemaat di Korintus dengan tegas St. Paulus menyatakan: “Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat” (2 Kor. 11:27-28). Paulus bekerja juga untuk memelihara jemaat, bahkan dia bekerja berat dan berani mengorbankan banyak hal.

Demikian juga St. Fransiskus menyatakan bahwa manusia tidaklah boleh bermalas-malasan dan menganggur. “Orang harus menjauhi pengangguran sebagai kubangan sumber segala pikiran jahat. Dengan teladan diajarkannya, untuk mengekang tubuh yang merontak dan malas dengan tata-tertib yang terus-menerus dan dengan kerja yang berguna. Karena itupun tubuhnya dinamakannya saudara keledai, yang harus ditumpangi beban berat dan harus dihajar dengan cambuk dan diberi makan rumput sedikit saja”. Menanggur dan bermalas-malas dilihatnya sebagai suatu kubangan sumber segala pikiran

jahat. Dan hal itu tidaklah boleh dilakukan oleh para putera-puteri Fransiskus. Kejahatan bagaimana pun juga haruslah dijauhkan, dan tidak boleh dilaksanakan, sekecil dan seringan apapun. Kejahatan tetaplah jahat.

Maka itu anjuran St. Fransiskus sangatlah tepat: “Jika seorang saudara dilihatnya menganggur dan berkeliaran tapi mau makan dari jerih-payah saudara-saudara lain, maka pada hematnya saudara itu harus dinamakan saudara lalat, justru karena orang itu tidak melakukan sesuatu yang baik, tetapi hanya mencemarkan perbuatan-perbuatan baik dan oleh karenanya membuat dirinya keji dan jijik bagi semua saudara. Karena itupun ia pernah berkata: “Aku menghendaki, supaya saudara-saudaraku bekerja dan

berjerih-payah, agar mereka jangan sampai menganggur dan melantur dengan pikiran dan percakapan yang tidak patut”. Sayang, di dunia ini ternyata terdapat banyak lalat yang dapat merusak hidup bersama sebagai saudara. Lalat itu sangatlah menjijikkan, mengotori apa saja yang dihinggapinya. Dalam rangka itu, anjuran Fransiskus untuk menjauhkan diri dari sikap malas, dan tidak boleh menjadi lalat bagi sesamanya.

Orang yang menjadi lalat pada umumnya banyak berbicara, yang hampa kosong, tiada bermanfaat dalam pembinaan hidup rohani. Fransiskus “menghendaki, supaya saudara-saudara menepati keheningan injili, yakni supaya mereka pada segala waktu sungguh-sungguh menahan setiap perkataan yang tidak berguna, sebab mereka kelak akan harus memberikan perhitungan atasnya pada hari pengadilan. Maka jika didapatinya seorang saudara yang membiasakan diri dengan kata-kata yang hampa, ia lalu ditegurnya dengan keras. Ditegaskannya juga, bahwa diam dengan sopan adalah perlindungan untuk kemurnian hati dan adalah kebajikan yang tidak kecil… hidup dan mati dikuasai lidah, bukan karena makanan yang dikecap, tetapi karena perkataan yang diucapkan”.

Dengan demikian ada tiga hal penting yang harus dilaksanakan dalamrangka membangun hidup rohani yang kuat yakni tidak boleh bermalas-malasan atau menganggur, tidak boleh menjadi lalat bagi sesamanya dan tidak boleh berkata-kata yang kosong tak berguna. Orang harus kreatif dan penuh inisiatif untuk membangun dunia baru, tanpa banyak kata-kata sehingga hidup kita itu merupakan ucapan syukur kepada Tuhan.

Ditulis oleh: P. Martin Sardi, OFM

Satu Respon pada “Belajar dari Sikap dan Tindakan Fransiskus : Kemalasan Sebagai Sumber Segala Pikiran Jahat”



  1. ade

    terimaksih Romo

    #540



Kirim Komentar