Belajar Berdoa

Doa Fransiskus mengalir keluar dari apa ingin dipeluknya...
I
Doa Fransiskus mengalir keluar dari apa ingin dipeluknya. Ia yakin dan mengatakan kepada saudara-saudaranya bahwa alasan mengapa kita tidak menjadi santo bukanlah karena kita tidak dapat mengatasi dosa melainkan karena kita tidak mempunyai keinginan untuk mengatasi rasa malu. Mengatasi rasa malu mengandaikan keinginan untuk memeluk apa yang secara keliru kita anggap sebagai tidak pantas atau kotor atau tidak berarti, baik di dalam diri kita sendiri maupun di dalam diri orang lain.
Ada dua kejadian dramatik dalam kehidupan Fransiskus yang memberikan ilustrasi bagaimana ia mengatasi rasa malu dan bagaimana melalui tindakannya itu doanya menjadi otentik. Yang pertama terjadi pada awal masa pertobatannya. Ia tinggal bersama seorang imam yang miskin di kapel San Damiano. Bapa dan ibunya tidak tahu dimana dia berada, maka bapanya berkeliling kota mencari puteranya. Ketiaka ia tahu dimana tempat persembunyian anaknya, ia memanggil teman dan tetangganya dan turun ke San Damino.Fransiskus masih baru dalam melayani Kristus. Maka ketika ia mengetahui bahwa para pengejarnya datang, ia menyembunyikan diri dari kemarahan ayahnya dengan merangkak masuk ke dalam sebuah gua kecil yang telah dipersiapkannya sebagai tempat persembunyian. Di situ ia tinggal selama sebulan. Ia makan makanan yang dibawakan kepadanya secara sembunyi dan terus-menerus berdoa dengan bercucuran air mata memonon kepada Tuhan agar ia dibebaskan dari pengejaran dan menganugerahkan kepadanya pemenuhan akan kerinduannya untuk melayani Dia saja.
Ia berpuasa dan berdoa tanpa henti, tidak percaya pada kekuatan sendiri tetapi percaya penuh pada Allah; Tuhan mengisi jiwanya dengan kegembiraan yang tak terkatakan dan dengan terang batin yang menyala, sehingga ia meninggalkan gua itu dan siap menghadapi para pengejarnya. Dengan terang batin itu, ia menapaki jalan menuju Assisi.
Ketika teman-teman dan sanak saudara memata-matai dia, mereka menghujani dia dengan penghinaan, memanggilnya sebagai orang tolol dan gila dan melempari dia dengan batu dan Lumpur. Tetapi Fransiskus, yang telah menjadi hamba Allah itu, tidak mempedulikannya; sebaliknya ia berterima kasih kepada Tuhan atas semuanya itu.
Kisah ini merupakan satu pola dasar dalam spiritualitas Fransiskus. Ini mengandung akar dan gerakan hidupnya dalam Allah. Pada awalnya Fransiskus bersembunyi dari kemarahan ayahnya dengan masuk ke dalam gua rahasia yang telah dipersiapkannya sebagai pelarian. Seperti kita semua, pada awal munculnya diri sejati, ia takut akan kemarahan ayahnya, ia menarik diri dan bersembunyi, dan memohonkan hal yang salah karena ia belum mempunyai keberanian untuk menjadi dirinya sendiri. Ia memohon agar Allah membebaskannya dari penganiayaan dan memenuhi keinginannya. Ia belum tahu bahwa pemenuhan keinginan itu mencakup juga penganiayaan.
Tetapi karena ia bertekun, Allah mengisi jiwanya dengan terang, dan ia meninggalkan gua serta siap menghadapi cemoohan dan pukulan para penganiaya. Dalam mengatasi rasa malunya, ia menemukan dirinya yang sejati dan tidak terpengaruh oleh penganiayaan. Ia bersyukur kepada Tuhan atas segalanya, bukan saja hal yang menyenangkan seperti keinginannya yang keliru untuk bebas dari penganiayaan. Dengan bertindak berani menghadapi akibat dari pilihanya untuk mengutamakan Kristus, Fransiskus belajar berdoa secara benar. Berulang-ulang dan terus-menerus dalam hidupnya Fransiskus mengatasi rasa malu supaya bisa mengenal Allah dan dirinya sendiri sehingga ia dapat berdoa dengan hati yang murni.
Peristiwa yang lain terjadi sebelum pertobatannya dalam perjalanan ziarah ke Roma ke makam Rasul Petrus.
Pada tangga menuju pintu masuk beberapa pengemis sedang meminta uang dari orang-orang yang lalu-lalang. Fransiskus dengan tenang meminjam pakaian salah seorang dari pengemis-pengemis itu dan menukarnya dengan pakaiannya. Lalu dengan berpakain buruk itu ia berdiri di tangga bersama dengan yang lain dan meminta sedekah.Pada akhir hari itu ia mengenakan kembali pakaiannya dan kembali ke Assisi, sambil meminta kepada Yesus untuk menunjukkan kepadanya jalan yang benar.
Sekali lagi tindakan mengatasi rasa malu mendahului doanya. Ia menyamakan diri dengan orang-orang yang tersisihkan dari masyarkat; ia melihat dunia dengan mata mereka ini; ia menemukan ketergantungannya sendiri dan kekecilannya. Kisah tadi menyimpulkan, ketika ia kembali, ia tidak mengatakan kepada siapa pun rahasianya, selain kepada Tuhan pembimbing satu-satunya yang tak pernah keliru.
Pernyataan terakhir ini penting untuk memahami kehidupan doa Fransiskus. Ia menaruh hormat dan menjaga pusat yang dalam dimana kita berhadapan langsung dengan Tuhan, suatu ruang rahasia dan suci dimana kita berhubungan erat mesra dengan Tuhan.
Di zaman kita ini orang berbicara manis tentang kebebasan pribadi, tetapi yang terjadi justru tindakan-tindakan sebaliknya yang sesungguhnya berlawan dengan kebebasan otentik: atas nama kebebasan orang menyerahkan kebebasan, tunduk halus kepada kelompok, menyesuiakan dengan ‘komunitas”. Lagi-lagi Fransiskuslah yang menemukan keseimbangan untuk otonomi yang sangat berharga ini yang terletak dalam jantung komunitas yang benar.
Ia dan saudara-saudaranya terikat satu sama lain dengan ikatan persaudaraan dan cinta yang kuat. Fransiskus menulis Aturan Hidup dalam Pertapaan yang memperkuat semangat kontemplatif yang dasariah serta merupakan jantung karisma fransiskan ini.
Teladannya sendiri di La Verna, sesaat sebelum menerima stigmata, menunjukkan kebijaksanaan Fransiskus berhubungan dengan kekramatan hubungan pribadinya dengan Allah; suatu ‘daerah’ yang di zaman ini kadang-kadang dilanggar secara kasar dengan dalih ‘syering’, ‘pembinaan rohani kelompok’, ‘memperkembangkan kebersamaan’. Kebersamaan tidak diperkuat oleh pelanggaran terhadap gua rahasia dimana kita duduk telanjang dan ringkih di hadirat Allah.
Mengenai Fransiskus di La Verna, ada satu cerita yang menarik. Ia sedang mencari tempat yang cocok untuk menjalani - dalam kesendirian - Puasa Santo Michael Malaikat Agung yang dimulai pada Pesta Maria Diangkat ke Surga. Maka ia memanggail Sdr Leo dan berkata kepadanya, ”pergi dan berdirilah di pintu ruang doa pertapaan para saudara, dan ketika saya memanggil kamu, datanglah padaku”.Sdr leo pergi dan berdiri di pintu ruang doa, sementara Fransiskus berjalan beberapa langkah lalu memanggil dengan keras. Begitu mendengar panggilan Fransiskus, Leo segera datang kepadanya. Fransiskus berkata kepadanya, “Puteraku, mari kita cari tempat yang lebih jauh, sehingga engkau tidak akan mendengar aku bila aku memanggilmu”.
Lalu Fransiskus meminta saudara-saudara lain datang dan mengatakan kepada mereka bahwa ia bermaksud menjalani Puasa Santo Michael di tempat yang sunyi, dimana ia dapat berdoa sendirian, jauh dari yang lainnya. Ia meminta mereka mendirikan satu gubuk sederhana untuk dia di tempat mereka tidak dapat mendengar kalau ia berteriak.
Ketika gubuk itu selesai dibuat, Santo Fransiskus berkata kepada mereka, ”Kembalilah sekarang dan tinggalkan aku di sini sendirian, karena dengan bantuan Allah saya bermaksud melewatkan masa puasa di sini tanpa gangguan. Tak seorang pun dari kamu datang ke sini dan jangan membiarkan seorang lain pun datang ke sini”.
Kita membutuhkan istirahat dalam kesendirian dari waktu ke waktu dan berkata kepada yang lain, terutama yang dekat dengan kita, “kembalilah dan tinggalkan aku sendirian di sini”. Kita memerlukan kepastian juga bahwa pada saat kita kembali, kita tidak harus melaporkan apa yang disabdakan oleh Tuhan pada kita dalam kesunyian itu.
Benar bahwa saudara-saudara perdana mengakui kesalahan dan dosa mereka di depan umum atau di hadapan saudara-saudara lain. Tetapi itu terjadi hanya dalam suasana dimana milik berharga dari setiap pribadi dihormati dan dimana anugerah khusus dari Allah dijaga.
Mengakui kesalahan dan dosa kepada saudara-saudari yang lain adalah sesuatu yang berbeda dari mengungkapkan kepada yang lain siapa engkau sesungguhnya. Sebelum engkau mengatakan kepada seseorang siapa engkau, diperlukan suatu hubungan yang khusus, kepercayaan dan cinta yang terbukti bertahun-tahun. Itu pun tetap ada resiko dan mesti ada alasan yang kuat atau satu waktu untuk bertemu secara mendalam yang memungkinkan misteri pengungkapan diri. Tanpa kondisi-kondisi itu, pengungkapan diri akan turun harganya menjadi sebuah pameran dan doa menjadi tidak mungkin karena pengungkapan diri tersebut menjadi gangguan terhadap pusat dimana engkau menemukan identitas dirimu dalam Allah. Dengan pameran diri yang tergesa-gesa dan tidak sopan itu, engkau membagi-bagikan mutiara yang begitu berharga kepada mereka yang tidak dapat dan tidak harus menerimanya. Santo Fransiskus tidak pernah menceritakan kepada yang lain suara yang ia gunakan dalam doa. Ia memakai kerudungnya untuk menutupi ekstasenya; ia berdoa kepada Allah secara rahasia.
II
Penyair tetaplah seorang penyair entah ia menulis syair atau tidak, tetapi penulis hanya menjadi penulis kalau ia menulis. Fransiskus adalah penyair walaupun ia tidak menghabiskan hidupnya dengan menulis syair. Ia menghayati hidupnya dalam kotbah dan pengajaran dan malahan dalam pilihannya untuk menjadi miskin; tetapi karena ia adalah seorang penyair maka segala sesuatu yang dilakukannya disusupi/diwarnai oleh puisi. Ketika berdoa pun, ia berdoa seperti seorang penyair.
Thomas Celano mengatakan banyak hal mengenai doa Fransiskus yang, kalau digabungkan, membentuk satu foto susunan mengenai seorang penyair dalam doa, seperti berikut ini:
Buatlah seluruh waktumu menjadi waktu senggang yang suci untuk menggoreskan kebijaksanaan dalam hatimu.Ketika pengunjung- pengunjung atau urusan lain mengganggumu, lebih baik berhentilah berdoa daripada menghentikan mereka. Setelah itu, kembalilah berdoa di dalam pusat dirimu yang sterdalam.
Mundurlah ke tempat-tempat yang sunyi dimana bukan hanya jiwamu melainkan juga tubuhmu dapat bersantai dengan Allah.
Ketika engkau mengalami kehadiran Allah, jangan buka manna yang tersembunyi ini, agar orang lain tidak tahu sentuhan Sang Pengantin.
Dst.
Seluruh kehidupan doa Fransiskus adalah suatu kekuatan yang mendalam yang sekaligus merupakan suatu pelepasan. Lebih dari berdoa ia sendiri menjadi doa itu sendiri, kata penulis biografinya. Menurut saya, ungkapan inilah yang paling jelas mengatakan tentang doa Fransiskus. Inilah gambaran yang membayangi saya, karena saya tahu bahwa bagaimanapun juga, jalan hidup dari setiap orang adalah menjadi doa yang hidup. Itu berarti sebuah sejarah yang sangat mempribadi, sejarah bagaimana setiap orang mengambil tanah menurut kebiasaannya dan dengan kerja keras menjadi alat yang peka untuk mendengarkan suara Allah di dalam.
Ada satu patung Santo Fransiskus di gunung pertapaan La Verna yang sungguh mengharukan yang, sejak pertama kali saya melihatnya pada suatu sore yang dingin dengan hujan berderau, mengungkapkan kepada saya Fransiskus seperti yang saya bayangkan. Patung itu dari tanah liat, tampaknya kasar, tidak selesai; rupanya sang seniman yang agak sinting mencungkil mata, telinga dan mulut, menyayat kasar lengan dan kaki, memilin leher dan menekan seluruhnya ke tanah. Akan tetapi patung itu sendiri tidak pasif melainkan penuh dengan kekuatan, seolah-olah dengan menerima pukulan dan tusukan yang kasar itu, ia menyadari nasibnya dan sekarang bangkit dari tanah untuk menggapai tangan sang pematung dalam ekstase. Tampak ada semacam kekuatan yang mendesak dari dalam. Seni patung ini selalu hadir di hadapan saya dan membangunkan (kembali) kerinduan saya yang ada dalam tanah liat asali untuk bersatu dengan seluruh umat manusia. Tanah liat sendiri menjadi doa dan itu hanya terjadi dalam budi dan hati.
Ketika seluruh diri kita menyatu dalam seluruh usaha kita untuk mencapai (sesuatu), maka kita menemukan bahwa pelepasan/ketersediaan memungkinkan tangan kuat Allah membentuk kita menjadi badan Kristus yang terikat di Salib. Lalu kita berhenti berdoa dan menjadi doa yang hidup. Bagaimana hal itu terjadi, secara singkat telah digariskan dalam prinsip di atas. Karena doa itu hidup maka bentuk doa sangat pribadi sifatnya.
III
Sejak usia 13 tahun saya berusaha berdoa. Kadang-kadang berjalan dengan baik, kadang-kadang tidak. Semua itu berkaitan dengan kehidupan saya sehari-hari dan dengan pengetahuan saya tentang diri saya sendiri. Ketika saya mulai mengalami kesulitan dalam doa, itu biasanya disebabkan karena saya menolak untuk melepaskan pemahaman saya akan diri saya pada saat ini dan mencegah munculnya pemahaman yang baru.
Misalnya, jika saya terikat pada suatu gambaran ideal tentang siapa saya seharusnya dan menolak bagian lain dari diri saya yang berjuang muncul, maka saya menjadi tidak otentik; sejalan dengan itu Tuhan yang arah doa saya menjadi tidak riil lagi, karena Ia tercipta dari bagian diri ideal saya yang sesungguhnya tidak nyata.
Ketika saya melepaskan (gambaran lama itu) dan membiarkan diri saya bertumbuh dan muncul karena merangkul semua sisi dari diri saya, Allah dapat dijumpai lagi karena Allah yang benar mencintai, menguatkan dan menebus saya yang nyata, bukan saya yang saya cita-citakan. Dengan kata lain, penerimaan atas kebenaran diri akan membuka jalan bagi kebenaran mengenai Allah dan kedua kebenaran itu menjadi satu dalam pusat diri pribadi yang bersemangat doa.
Doa yang benar menuntut kejujuran pada diri saya sendiri, karena hanya ‘saya’ yang nyatalah yang dapat berbicara dengan Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa hanya diri yang terpadu dapat berdoa, melainkan hanya kejujuran akan diri saya sendiri memungkinkan saya berdoa dengan benar. Jika saya perlu menjadi ‘pantas’ atau ‘sempurna’ atau ‘kudus’ sebelum saya dapat berdoa, maka saya boleh jadi tidak berdoa sama sekali atau ,kalau saya lakukan, doa saya palsu karena saya lebih berbicara tentang diri sendiri daripada berbicara dengan Allah. Kita dapat berhubungan erat dengan Allah hanya kalau kita jujur.
Diri impian tidak bertahan dalam doa, karena ia tidak mampu menunjang kebenaran. Jika kita membiarkannya mati dan berdoa dari diri kita saat ini, maka gambaran kita mengenai Allah berubah karena kita memahami lebih jelas siapa diri kita.
Doa kita pun kemudian berubah: membias dari adorasi kepada Allah yang seluruhnya baik menjadi keluhan getir dan percecokan dengan Allah yang tidak adil karena membiarkan saya menderita atau meninggalkan saya karena suatu alasan. Jika saya mengalami Allah mengkhianati saya, tetapi saya berkata betapa Allah itu mengagumkan dan baik, maka doa saya bohong adanya. Namun demikian, dalam pengalaman subjektif seperti itu, saya dapat berdoa juga kalau saya terus berjuang dan berkeinginan untuk percaya bahwa Allah yang secara objektif baik itu menebus dan memperbaiki pemahaman saya tentang Allah yang saya ungkapan dengan jujur tetapi keliru.
Saya yakin, pergulatan tulus dengan Allah inilah yang dialami oleh Fransiskus selama tahun penyiksaan di dalam gua pada awal pertobatannya dan pada kesempatan lain dalam hidupnya, yang memuncak dalam 50 hari kegelapan yang mendahului madah Pujian Saudara Matahari yang digubanya. Fransiskus merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh Allah; dan karena Fransiskus mengungkapkan perasaan-perasaan ini secara jujur dalam doa, ia mengalami kepenuhan ilahi pada tingkat yang baru. Kebenaran mengenai siapa Allah tinggal tetap. Janji-janji Allah kepada kita akan menjadi nyata, juga ketika perasaan-perasaan kita mengatakan sebaliknya.
Karena Fransiskus cukup jujur mengakui keragu-raguan dan keputusasaannya serta ketidaksetiaan Allah sebagaimana dialaminya, Allah yang benar yang berada dalam pusat hatinya muncul kembali ke permukaan kesadarannya untuk menegaskan kebenaran pandangan Fransiskus bahwa Allah telah meninggalkan dia, maka ia boleh sekali lagi mengembalikan kepada Allah hak istimewa menjadi Allah.
Apa pun yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah pemberian yang murni dan bukan sesuatu yang kita peroleh atau patut kita terima karena menjadi pribadi yang ‘sempurna’ sebagaimana kita pikirkan. Kita adalah diri kita apa adanya dan setiap kesempurnaan atau pelengkapan dalam diri kita adalah karya Allah sebagai tanggapan bebas-Nya atas permintaan (doa) jujur kita agar Allah mengubah dalam diri kita apa yang sebelumnya kita anggap dapat kita ubah sendiri.
Siapa kita dalam Allah adalah karya Allah dan bukanlah keberhasilan kita dalam memenuhi cita-cita kita. Diri kita dalam doa yang benar jarang merupakan diri yang kita impikan, melainkan diri yang baru dan mengagumkan yang Allah bentuk dari penebusan bertahap atas diri palsu yang kita akui sebagai karya dari idealisme kita yang keliru. Lalu, kita mengenal Allah dalam apa yang dilakukan oleh Allah dalam diri kita untuk memungkinkan kita menemukan wajah kita yang sebenarnya. Hanya dalam wajah itulah kita dapat melihat bayangan Allah sebagaimana adanya.
(Murray Bodo, The Way of St. Francis. The Chalenge of Franciscan Spirituality for Everyone)



