Beatifikasi Delapan Saudara Dina

09/11/2016
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 302 kali

Scutari, 5 November 2016. – Dari antara 38 orang yang menerima gelar Martir Beato, kurban penganiayaan Komunis di Albania (1945-1974), ada delapan religius dari Ordo saudara-saudara Dina: seorang Uskup dan tujuh imam. Sejak 1944, selama hampir 50 tahun Gereja Katolik Albania menderita pengejaran yang kejam dari tangan salah seorang rejim diktator Komunis yang paling kejam abad ini. Selama kurun waktu itu, martir-martir kita ini dijatuhi hukuman mati, atau meninggal karena menderita siksaan ataupun karena keadaan penjara yang sangat keras dan kejam. Mereka menerima hukuman yang tidak adil itu karena cinta mereka pada Kristus: dengan gembira mereka menerima penderitaan dengan semangat kesabaran dan iman yang heroik. Pada saat kematian, mereka mengucapkan kata-kata pengampunan bagi para petugas dan penyerahan diri penuh iman pada Tuhan, bagi diri mereka sendiri dan bagi negara mereka yang tersiksa.

beatifikasi-2016-02Beato Gjon Shllaku, Imam OFM (1907-1946)

Kemartirannya terjadi pada permulaan pengejaran. Dia dijatuhi hukuman mati dan dilaksanakan oleh regu tembak bersama dengan enam orang lainnya pada bulan Maret 1946. Dia mengucapkan profesi meriahnya pada 1928 dan ditahbiskan imam pada 1931. Dia dipandang sebagai salah seorang intelektual Albania paling besar sezamannya.

Pada bulan Desember 1945 mahasiswa seminari Mark Cuni bersama dengan orang-orang awam Gjelosh Lulashi, Qerim Sadiku dan Frano Mirakaj, ditangkap karena tuduhan bermaksud membangun gerakan perlawanan. Akibatnya, mereka pun menangkap orang-orang Jesuit: Giovanni Fausti, Daniel Dajani dan Fransiskan-Fransiskan yang lain. Serangan pada para religius yang cinta tanah air itu dan yang adalah tokoh-tokoh terhormat dalam dunia budaya dan yang mempersembahkan diri mereka bagi pendidikan hati nurani, merupakan langkah pertama untuk memerosotkan Katolisisme di Albania menjadi sebuah agama yang bisu dan bersembunyi di katakomba-katakomba.

Pater Gjon Shllaku dan teman-temannya diadili di gedung bioskop “Rozafa” di Scutari dan dijatuhi hukuman mati dengan tembakan pada 4 Maret 1946 di pemakaman kota itu. Pada malam sebelum eksekusi itu, mereka yang terhukum mati ini terdengar berdoa dan bernyanyi dengan suara yang sangat keras dan ini berlangsung sampai saat mereka digiring menuju tempat penembakan. Mereka menjalani kemartiran mereka sementara menyanyikan litani Bunda Perawan Maria. Jenazah para martir itu tidak pernah ditemukan.

Beato Bernardino, OFM, imam (1894-1946)

Profesi meriah diikrarkannya pada 1917 dan ditahbiskan menjadi imam pada 1918. Dia menjadi guru dan imam paroki. Seorang yang banyak sekali menulis dan seorang budayawan. Dia ditangkap pada 22 Oktober 1946 di biara Rrubik ketika dia menjadi pastor paroki dan gardian di sana. Untuk menemukan alasan penangkapannya, polisi menjebaknya dengan diam-diam ditempatkan senjata dalam biaranya oleh seorang anggota partai. Dia diangkut ke Scutari dan dipenjarakan di biara Gjuhadol yang telah diubah menjadi sebuah penjara. Sebelumnya, di biara ini dia telah menikmati tahun-tahun paling indah selama pendidikannya sebagai seorang religius; melaksanakan pelayanannya sebagai imam dan tugas-tugas pengajarannya. Dia disiksa sampai melampaui batas-batas kemanusiaan dan bertahan penuh sampai empat puluh hari. Dia pun diikatkan pada sebatang pohon di biara itu. Ikatan kawat besi berkarat pada pergelangan tangannya mengakibatkan tubuhnya terkena penyakit tetanus. Dia pun wafat pada pohon itu pada tgl 2 Desember 1946.

Beato Serafin Koda, OFM, imam (1893-1947)

Dia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1915. Kemudian menjadi guru, pastor paroki, Definitor dan Provinsial Bursar. Dengan semena-mena dan tidak adil dia dituduh mneggalang persengkongkolan dan telah mengadakan pertemuan dengan imam-imam dan fransiskan yang lain dalam biara yang dipersembahkan kepada Warta Gembira kepada Maria di Lezhë pada 12 Oktober 1946. Sebenarnya itu merupakan pertemuan persaudaraan pada pesta hari namanya, tetapi mereka telah menuduhkan menjadi sebuah pertemuan untuk mendirikan sebuah partai Demokratik Kristen. Selanjutnya atas tuduhan palsu yang sama ditangkap pula mereka yang hadir dalam pertemuan persaudaraan itu: Mons. Frano Gjini, Uskup, dan Pater Mati Prendushi, OFM. Pater Serfin jebloskan ke dalam kandang kuda biara itu, dan pada 11 Mei 1947 meninggal karena siksaan-siksaan selama pengadilan atau hukuman-hukuman yang ditimpakan kepadanya. Dia dikuburkan di kebun biara di Lezhë itu dan tulang belulangnya ditemukan pada 16 September 1994.

Beato Ciprianus Nika, OFM, imam (1900-1948)

Dia mengikrarkan profesi meriah pada 1921 dan ditahbiskan menjadi imam di Roma pada 25 Juli 1924. Pernah dijabatnya sebagai guru, Magister para frater, Magister Novis, Minister Provinsial, Direktur Kolese Fransiskan dan dari 1944 sebagai Gardian di biara Gjuhadol. Dia ditangkap di Scutari pada 8 November 1946 dengan tuduhan palsu memiliki senjata gelap di gereja padahal orang komunis sendiri telah meletakkannya di sana.

Dia ditembak pada 11 Maret 1948 bersama dengan 16 orang lain di kuburan Rémaj dan diterlantarkan di sana. Dia pergi ke tempat eksekusi itu sambil mendoakan rosario dengan suara yang keras dan ditutupnya dengan menyanyikan Te Deum Laudamus. Kata-kata terakhirnya adalah: “Hidup Kristus Raja dan kami mengampuni musuh-musuh kami”.

Beato Mati Prendushi, OFM, imam (1881-1948)

Dia menerima kemartiran bersama dengan sesama Fransiskan Sdr. Ciprianus Nika, karena tuduhan adanya senjata-senjata yang ditemukan dalam Gereja Biara Fransiskan di Scutari. Dia ditembak mati pada 11 Maret 1948. Dia pernah menjadi pastor paroki, Gardian, Definitor, Vikaris dan saat ditangkap: Minister Provinsial. Ketika mendengar hukuman mati dijatuhkan pada dirinya, dia pergi dan memeluk orang yang telah menuduhnya, sambil berkata: “Dengan segenap hatiku saya berdoa bagi semua kebohongan yang telah engkau lontarkan kepadaku dan kepada orang lain. Saya akan berdoa kepada Tuhan untuk memberikan belaskasih-Nya kepadamu dan supaya Tuhan mengampunimu, sebagaimana saya mengampuni kamu!” Jenazahnya tidak pernah ditemukan.

Beato Vincenc Prennushi, OFM, Uskup Agung Durazzo (1885-1949)

Dia adalah pemimpin kelompok para martir ini berkat martabat kegerejaannya sebagai Primat Albania (1946). Dua kali menjadi Minister Provinsi OFM, dari 1929 sampai 1935. Dipilih menjadi Uskup Sappa dan ditahbiskan dalam Katedral di Scutari pada 19 Maret 1936. Dia pun dipindahkan sebagai Uskup Agung Durazzo dan dari 1943 menjadi Administrator Apostolik Albania Selatan. Mgr. Prennushi mewakili otoritas tertinggi dari Gereja Katolik di Albania. Penangkapan dan penghukuman atas dirinya merupakan sesuatu yang teramat penting bagi strategi rejim Komunis untuk menyerang Kekatolikan di Albania. Si Diktator Albania telah minta kepadanya untuk mendirikan sebuah Gereja Nasional Albania terpisah dari Takhta Suci, namun permintaannya itu ditolaknya mentah-mentah.

Setelah ditangkap dan dipenjarakan di Durazzo pada 19 Mei 1947, dia dijatuhi hukuman penjara dua puluh tahun. Kecerahan dan ketulusan hati dalam menghadapi hukuman itu terungkap dalam pelayanan cintakasih yang terus dia lakukan dalam penjara yang sempit itu. Dia meninggal dunia pada 19 Maret 1949 karena serangan jantung, yang disebabkan oleh perlakuan jahat, siksaan dan keletihan yang dideritanya. Dia dimakamkan di Katedral Durazzo.

Beato Gaspër Suma, OFM, imam (1897-1950)

Profesi meriah diikrarkan pada 1919, ditahbiskan menjadi imam di Genoa pada 1921 dan ditangkap pada 24 Mei 1948 di Gomsique, di mana dia tengah menjadi pastor paroki. Kemudian dia diangkut ke Scutari dan ditahan di biara Gjudadol (yang telah diubah menjadi penjara). Dia pernah menjadi gardian dalam biara ini. Di sinilah dia diinterogasi panjang lebar, dan disiksa. Rejim penjara yang kejam dan tidak adanya obat-obatan yang memadai, sangat memberatkan keadaan kesehatannya yang rentan. Dia sudah lemah karena menderita kanker, kemudian sangat menderita dan akhirnya meninggal dunia pada 16 April 1950.

Makamnya dihormati di gereja St. Fransiskus Asisi di Scutari.

Beato Karl Serreqi, OFM, Imam (1911-1954)

Dia mengikrarkan profesi meriah pada 1932 dan menerima tahbisan imamatnya di Torricchio di Pescia (Italia) pada 29 Juni 1936. Dia ditangkap dan ditahan karena dia tidak mau membuka isi pengakuan dosa yang dia terima dari seseorang menjelang kematiannya. Dia ini luka parah karena bentrok dengan polisi Komunis. Karena penolakannya ini, pater Karl disiksa secara kejam dan dihukum seumur hidup dan kerja paksa. Dia menerima hukuman itu dengan ungkapan wajah yang cerah, sambil berkata: “Dalam hatiku saya mengalami kegembiraan besar karena telah dapat mati bagi Kristus”.Di meninggal dunia di penjara Burrel karena pelakuan kejam yang dideritanya, pada 4 April 1954. Kuburannya tidak pernah ditemukan.

beatifikasi-2016-03Beata Marije Tuci (1928-1950)

Dari kelompok martir dari Keluarga Fransiskan ini, hanya ada satu wanita. Dia menjadi guru hanya dalam waktu yang singkat. Pada 11 Agustus 1949, dalam statusnya sebagai seorang aspiran hidup religius Suster-suster Fransiskan dari Stigmata, dia ditahan. Dia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Dia meninggal di rumah sakit penjara di Scutari pada 24 Oktober 1950 karena perlakuan jahat yang diterimanya dan juga karena telah menolak dengan kasar segala cumbu rayu dari para penyiksanya. Di antara siksaan yang dideritanya adalah: dia dimasukkan ke dalam sebuah karung bersama dengan tikus-tikus yang ganas. Melalui luka-luka gigitan tikus itu masuklah racun-racun berbisa ke dalam darahnya. Kemartirannya ditengarai juga dengan keteguhannya dalam mempertahankan kemurniannya dan caci maki dari pihak para penyiksanya karena dia telah membaktikan keperawanannya kepada Tuhan.

Kontributor: Sdr. Alfons Suhardi OFM

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *