9 Juli

08/03/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 492 kali

[Index Kalender Fransiskan]

9 JULI
SANTO NIKOLAUS PIECK DAN KAWAN-KAWAN
MARTIR, ORDO I
(PFAK)

nikolaus-pieck-ofm-1

Dalam bulan Juni 1572, Kaum Kalvinis, yang juga disebut Geuzen, merebut kota Gorkum, di negeri Belanda, dan menawan saudara-saudara Fransiskan, penghuni biara di situ; mereka juga menawan beberapa imam praja. Mula-mula mereka diarak berkeliling ke tempat-tempat di sekitarnya. Akhirnya mereka dianiaya dengan kejam dan digantung di kota Den Briel, karena mereka tidak mau mengingkari ajaran Katolik perihal Ekaristi Kudus dan keprimatan Paus.

Rumus umum Para Martir, Ibadat Harian hlm 878, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari riwayat kemartiran St. Nikolaus dkk, menurut laporan orang yang sezaman.
Mereka teguh dalam satu iman dan satu roh.

Para tawanan dibawa ke luar kota Den Briel. Lalu dicari tempat yang cocok untuk pelaksanaan hukuman mati. Akhirnya mereka sampai ke biara Santa Elisabet di Ten Rugge. Di halaman biara itu ada sebuah gudang tua, tempat menimbun lapukan gambut, yang banyak dipakai di situ. Di ruang itu ada dua buah balok; yang satu memalang dan panjang, yang lain lebih pendek. Balok-balok itu dianggap cocok oleh para serdadu untuk menggantung para tawanan dan mengikat mereka padanya. Karena itulah para tawanan itu dibawa ke sana. Ketika sedang menanti maut yang harus mereka tanggung demi iman Katolik, para tawanan itu saling meneguhkan satu sama lain dalam Tuhan. Di sana mereka menasihati satu sama lain, masing-masing sesuai dengan rahmat yang diberikan oleh Allah, agar dengan tabah menanggung kematian sebagai martir, memperkuat satu sama lain dalam harapan yang pasti akan memperoleh kerajaan surga serta ganjaran kekal.

Segera pakaian mereka dilucuti, sehingga semuanya telanjang.
Adapun yang pertama-tama menjalani hukuman mati adalah yang terhormat pater gardian. Ia merangkul dan memeluk semua saudara satu per satu, menyemangati mereka dengan kata-kata terakhir, dan meminta dengan sangat supaya demi cinta kasih persaudaraan yang telah terjalin sepanjang hidup, mereka dengan teguh dan tabah berjuang hingga nafas penghabisan demi iman Katolik, tetap teguh dalam iman dan satu dalam roh, sampai mati dan agar mereka yang telah saling terikat oleh cinta kasih di dalam satu tarekat, jangan sampai terpisahkan pada saat terakhir. Maka sudah amat dekatlah saatnya bagi mereka untuk menerima dari tangan Tuhan palma kemenangan, yang amat diinginkan dan amat didambakan itu, yaitu mahkota kabahagiaan kekal. Karangan bunga kemenangan yang sudah melayang-layang di atas kepala mereka itu, jangan sampai hilang karena kelemahan mereka; tetapi dengan menghinakan maut, hendaklah mereka menangkapnya dengan gagah berani. Akhirnya, dengan melihat dia yang mendahului mereka dengan semangat berkobar-kobar, hendaklah mereka mengikuti dia. Sambil mengucapkan kata-kata ini dan kata-kata lainnya, Pater Nikolaus Pieck dengan gesit menaiki tangga, sambil tak henti-hentinya membesarkan hati kawan-kawannya, sampai lehernya terikat kencang dan suaranya terbungkam. Ketika ia bergantung, maka vikarius Hieronimus dan pater Nikasius van Heeze serta pastor-pastor paroki yaitu imam praja Leonardus dan Nikolaus juga ikut membangkitkan semangat kawan-kawannya, menguatkan dan meneguhkan kesediaan mereka untuk mati.

Semuanya, kecuali empat orang, digantung pada balok yang panjang. Sedangkan pada balok yang lain digantungkan Godefridus van Duin, di antara gardian dan bruder Kornelius. Adapun yang keempat Yakobus, Nobertin, digantung pada sebuah tangga. Hukuman gantung itu nampaknya dilaksanakan secara sembrono, sehingga tidak diperhatikan apakah orang yang digantung itu mati tercekik atau tidak. Sebab pada korban yang satu misalnya, jeratnya dipasang seperti tali kekang di mulut sedangkan pada korban yang lain, jeratnya dipasang pada puncak dagu; dan yang lain lagi jeratnya betul dipasang pada leher tetapi kurang kencang. Karena itu terjadilah, bahwa saluran nafas tertutup perlahan-lahan sehingga mereka amat tersiksa karena bergantung begitu lama; bahkan beberapa saudara yang kedapatan masih bernafas pada pagi harinya, antar lain pater Nikasius, yang jeratnya dipasang pada mulutnya. Pelaksanaan hukuman itu berlangsung kurang lebih dua jam lamanya, dimulai jam dua dan berakhir kita-kira jam empat pagi.

LAGU BERGILIR
P: Para kudus berjaya oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian mereka. U: Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. P: Orang benar menerima kerajaan yang mulia dan mahkota yang indah dari tangan Tuhan. U: Karena mereka.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah menghias kemenangan martir-martir-Mu Santo Nikolaus dan kawan-kawannya dengan palma keabadian; perkenankanlah dengan rela agar dengan meneladani keteguhan iman mereka, kami memperleh kemuliaan kekal bersama mereka. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Tuhan Allah Israel mengunjungi hamba-hamba-Nya dan memberi pelepasan kepada mereka. Ia telah mempermuliakan nama mereka dan menumbuhkan tanduk keselamatan bagi kita.

KIDUNG MARIA
Antifon: Tuhan telah meninggikan hamba-hamba-Nya yang hina dina, dan menerima mereka dalam kemah abadi, karena Ia mengingat Rahmat-Nya.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM