6 Februari

30/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 565 kali

[Index Kalender Fransiskan]

6 FEBRUARI
SANTO PETRUS BAPTISTA DAN KAWAN-KAWANNYA
MARTIR, ORDO I DAN III
(PW)

petrus-baptista-1

Petrus Baptista dilahirkan dalam tahun 1542 di Spanyol. Setelah menyelesaikan studinya dan ditahbiskan menjadi imam ia bertolak ke Philipina dan berkarya di sana selama beberapa tahun. Dalam tahun 1543 ia diutus bersama lima Saudara Dina lain, ke Jepang. Di Jepang ia mewartakan kabar baik, membangun gereja dan rumah sakit. Karena pergolakan politik dan keagamaan, mereka ditangkap dan diangkut ke Nagasaki bersama lima belas anggota Ordo III dan tiga orang Yesuit, antara lain Paul Miki. Mereka diangkut ke Nagasaki, disalibkan di sana dan gugur sebagai martir pada tgl 5 Februari 1597.

Rumus umum Beberapa Martir, Ibadat Harian hlm 878, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari Surat St. Petrus Baptista.
Kami mati karena mewartakan Injil.

Dari antara saudara-saudara yang ada di sini, kami berenam ditangkap dan dipenjarakan beberapa hari lamanya, bersama tiga orang Jepang dari Serikat Yesus, seorang dari antaranya telah berprofesi, – yaitu Paul Miki, dan umat Kristiani lainnya. Kami semuanya berjumlah dua puluh empat orang. Sekarang kami sedang di dalam perjalanan dalam bulan musim dingin yang hebat. Kami diiringi dengan pasukan berkuda dengan pengawalan yang ketat. Selama hari-hari itu ada lebih dari dua ratus orang yang ditugaskan mengawal kami. Kendaati demikian, kami amat terhibur dalam Tuhan; dan dengan sukacita kami berjalan terus, karena dalam putusan hakim terhadap kami dinyatakan bahwa kami harus disalibkan karena, menentang perintah raja, kami mewartakan hukum Allah; dan yang lainnya karena mereka itu orang Kristiani. Yang ingin mati untuk Kristus, kini mendapat kesempatan. Maksud saya, umat Kristiani di wilayah ini diperkokoh imannya, seandainya saudara-saudara se-Ordo hadir di sini. Tetapi mereka harus ingat baik-baik, bahwa kami tidak dapat hidup lebih lama lagi di Jepang dalam jubah kami, selama raja ini berkuasa; sebab dia akan memindahkan mereka ke alam baka, ke mana ia akan menghantam kami juga.

Putusan yang dijatuhkan terhadap kami itu, tertulis di papan yang dibawa di depan kami. Di situ dikatakan, bahwa kami dijatuhi hukuman karena kami telah mewartakan hukum Nauan (yaitu hukum Kristiani) melawan perintah Taycosama (Sang Penguasa); dan sesampai di Nagasaki, kami akan disalibkan. Kami sangat bersuka cita dan merasa terhibur dalam Tuhan, sebab kami akan kehilangan nyawa demi mewartakan hukum-Nya.

Di sini kami ada enam Saudara Dina dan delapan orang Jepang; semuanya dijatuhi hukuman mati: sebagian sebagai pewarta kabar suka cita, dan sebagian lagi sebagai umat Kristiani biasa; dari Serikat Yesus, yang satu adalah frater dan yang lain adalah katekis dan yang lain lagi awam. Kami dikeluarkan dari penjara dan kami ditaruh di atas gerobak; semua dikerat sebagian telinganya dan demikianlah kami diangkut di jalan-jalan Kyoto diiringi banyak rakyat dan serdadu. Kemudian kami dijebloskan lagi ke dalam penjara. Keesokan harinya tangan kami diikat di belakang punggung, dan sambil berjalan kaki, kami diantar ke Osaka, dikawal orang berkuda. Pada hari berikutnya kami dikeluarkan dari penjara, dinaikkan ke atas kuda, diarak di jalan-jalan kota. Kemudian kami dibawa ke kota Sakai, dan di sana pun kami mendapat perlakuan yang sama. Di ketiga kota itu selalu ada bentara resmi. Kami sudah tahu bahwa kami akan dijatuhi hukuman mati. Tetapi setelah kami berada di Osaka, barulah diberitahukan kepada kami suatu keputusan bahwa untuk itulah kami harus berjalan terus ke Nagasaki.

Saudara-saudara terkasih, demi kasih Allah, hendaknya kamu sungguh-sungguh menganjungkan kami kepada Allah, agar persembahan hidup kami berkenan kepada-Nya. Sejauh yang saya dengar di sini, saya menduga kami akan disalibkan pada hari Jumat yang akan datang. Sebab pada hari Jumat kami juga telah dikerat sebagian telinga kami di Kyoto. Hal ini kami terima sebagai anugerah Allah. Oleh karena itu kami semua mohon dengan hangat kepada kalian demi kasih Allah, untuk mendoakan kami.

Saudara-saudara terkasih, bantulah kami dengan doa kalian, agar kematian kami berkenan kepada hadirat ilahi. Di surga, yang kami harapkan akan kami masuki, kami akan mengingat kalian. Tetapi di sini pun saya tidak akan lupa kalian semua yang terkasih; sebab dengan segenap hati saya telah dan masih mencintai kalian. Selamat berbahagia saudara-saudara yang terkasih, sebab tidak ada waktu lagi untuk berbicara. Sampai jumpa lagi di surga. Ingatlah akan saya!

LAGU BERGILIR
P: Kita harus bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus; di dalamnya ada keselamatan, kehidupan dan kebangkitan. U: Oleh-Nya kita telah diselamatkan dan dibebaskan. P: Sebab kepada kamu telah diberikan karunia, bukan hanya untuk percaya, melainkan juga untuk menderita bagi Dia. U: Oleh-Nya kita telah diselamatkan dan dibebaskan.

DOA PENUTUP
Ya Allah, kekuatan para kudus, Engkau telah berkenan memanggil martir-martir kudus Petrus Baptista dan kawan-kawannya, melalui salib kepada kehidupan kekal. Kami mohon, berilah supaya dengan pengantaraannya iman yang kami akui, kami pegang teguh sampai mati. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Apa gerangan yang dapat memisahkan kita dari Kasih Kristus? Kesesakan dan kegelisahan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan atau bahaya atau pedang? Tetapi semuanya dapat kita atasi oleh Dia yang mengasihi kita.

KIDUNG MARIA
Antifon: Kristus telah menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di salib, agar kita mati bagi dosa-dosa, dan hidup untuk kebenaran.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM