4 Februari

30/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 555 kali

[Index Kalender Fransiskan]

4 FEBRUARI
SANTO YOSEF DARI LEONESSA
IMAM, ORDO I
(PFAK)

yosef-dari-leonessa-1

Yosef dilahirkan di Leonessa, di daerah Abruzzi, Italia. Kendati mendapatkan tentangan dari pihak keluarganya ia masuk Ordo Kapusin dalam tahun 1572. Ia menonjol karena kekerasan cara hidupnya dan semangat kerasulannya. Dalam tahun 1587 ia diutus menjadi misionaris ke Konstantinopel. Setelah lama berkarya ia sendiri ditawan. Tangan kanan dan kaki kanannya ditembus dengan kait besi, dan dalam keadaan demikian ia digantung pada tiang gantungan. Tiga hari kemudian ia dibebaskan secara ajaib. Ia kembali ke Italia. Di situ ia tersohor sebagai pengkhotbah misi umat. Ia meninggal di Amatrice, 4 Februari 1612.

Rumus umum Gembala Umat, Ibadat Harian hlm 908, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari khotbah Santo Yosef dari Leonessa.
Setiap orang Kristen adalah Injil yang hidup.

Injil, yaitu kabar baik tentang kedatangan Tuhan di dunia dengan perantaraan Santa Perawan, hendaknya pertama-tama tertera bukannya di atas kertas, melainkan di dalam hati dan batin. Perbedaan antara hukum tertulis dan hukum rahmat adalah sebagai berikut: “tertulis” disebut tiap-tiap hukum yang ditatah pada loh batu, sedangkan hukum rahmat disebut hukum yang dicamkan di dalam hati manusia oleh karena ilham Roh Kudus. Demikianlah dijanjikan Tuhan dengan perantaraan nabi Yeremia, yang berkata: “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kamu, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang kamu.” Mengenai perjanjian baru itu ia menambahkan: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam batin mereka” (Yer 31:31 dst). Maka setiap orang kristiani harus menjadi hukum yang hidup, yang di dalamnya ajaran Injil dapat dibaca. Sehubungan dengan itu, Santo Paulus berkata kepada umat di Korintus: “Ternyatalah bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup; bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia (2 Kor 3:3). Loh itu ialah hati manusia. Roh Kudus adalah si penulis dengan perantaraanku, dan aku adalah alat-Nya, dan lidahku adalah bagaikan pena penulis cepat. Mudah-mudahan lidah si pengkhotbah tergerak oleh Roh Kudus dan dicelupkan di dalam darah Anak Domba yang tak bercela, juga menulis cepat di dalam hatimu. Tetapi dapatkah tulisan yang satu ditulis di atas tulisan yang lain? Jika tulisan yang terdahulu tidak dihapus, maka tulisan yang baru tidak dapat ditulis di atasnya. Di dalam hatimu ada tertulis kelobaan, kesombongan, pemborosan dan cacat-cacat lainnya. Bagaimana kita dapat menulis kerendahan hati, kesusilaan dan keutamaan-keutamaan lainnya, jika cacat-cacat yang terdahulu tidak dihapus? Apabila orang-orang mengandung tulisan demikian di dalam dirinya, maka seperti dikatakan, tiap-tiap orang dari antara mereka adalah sebuah buku, dan tiap-tiap orang lalu dengan tingkah lakunya mengajar orang-orang lain dengan teladannya. Dalam arti ini S. Paulus menambahkan: “Kamu adalah surat yang dapat dibaca dan dipahami oleh semua orang” (2 Kor 3:2). Demikianlah para pemimpin Gereja dan para Pengkhotbah mendahului dalam hal pertobatan jiwa-jiwa, agar mereka membimbing sekalian orang secara menarik ke jalan kebenaran. Memang tidak semua orang tidak diyakinkan dengan cara yang sama. Karena itu S. Paulus hamba Kristus yang setiawan dan gembala jiwa itu berkata: “Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, tetapi bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat”. Pendek kata, ia menyesuaikan diri dengan semua orang. Karena itu ia menambahkan: “Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, supaya aku dapat memenangkan semua orang bagi Kristus (1 Kor 9:20-22).

LAGU BERGILIR
P: Aku berlari, bukan seperti orang yang berlari tanpa tujuan; Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya. U: Untuk dapat memenangkan semua orang bagi Kristus. P: Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, untuk memenangkan orang-orang yang lemah. Bagi semua aku telah menjadi segala-galanya. U: Untuk dapat memenangkan semua orang bagi Kristus.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah membuat Santo Yosef dari Leonessa menjadi pewarta sabda-Mu yang perkasa; penuhilah kami dengan kegiatan yang serupa untuk keselamatan bangsa manusia, agar semua makhluk mengabdi kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Ia mewartakan dan memberitahukan Yesus Tuhan; dan tangan Tuhan menyertainya.

KIDUNG MARIA
Antifon: Bagi orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan orang-orang yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan semua orang. Semuanya ini kulakukan karena Injil.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM