30 Mei

06/03/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 682 kali

[Index Kalender Fransiskan]

30 MEI
BEATA BAPTISTA VARANI
PERAWAN, ORDO II
(PFAK)

10-baptista-varani

Baptista Varani, puteri pangeran walikota Camerino, Italia, dilahirkan pada tahun 1458. Setelah mengatasi keberatan ayahnya selama dua tahun, ia menjadi Klaris di Urbino; hal itu terjadi pada tahun 1481. Kemudian ia mendirikan biara di Camerino dan menjadi abdisnya. Ia membukukan pengalaman-pengalaman mistiknya dalam buku-buku, yang memasukkan para pembacanya ke dalam kesempurnaan. Ia meninggal tahun 1524.

Rumus umum Para Perawan, Ibadat Harian hlm 921, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari “Pengajaran”, tulisan Beata Baptista Varani.
Berjaga-jaga dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam percobaan (Hal. 26:41)

Saudara, hendaklah berusaha sungguh-sungguh, supaya mata budimu selalu ternyata berjaga, supaya jangan sampai tertidur dalam kemalasan dan kelelahan, sebab “Kerajaan surga diserong, dan orang yang menyerongnya mencoba untuk menguasainya.” (Mat 11:12).
Adapun yang hendak kukatakan ialah bahwa sebagai biarawan, jangan engkau dinina-bobokkan dalam tidur, yang menghinggapi tidak sedikit orang yang setelah masuk biara, cepat kehilangan semangat pertama, dan oleh karenanya melakukan segala pekerjaannya tanpa kegairahan budi. Betul mereka masih melaksanakan tata tertib biara, upacara dilakukan kawanan domba, yang mengikuti domba atau kambing, yang melompat-lompat di depan, tetapi tidak tahu mengapa mereka berbuat demikian. Demikian pun halnya dengan biarawan yang dihinggapi tidur rohani; ia terus masuk memegang kebiasaan yang sudah diterima, tetapi tidak memandang tujuan atau manfaatnya. Tetapi engkau harus berlaku arif dan bijaksana dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang bodoh; di dalam pekerjaanmu, – enteng atau berat, – arahkanlah mata budimu kepada Allah. Dengan itu engkau menguduskan intensi pekerjaanmu, dan menanggung segala kemalangan dengan sabar dan kasih kepada Allah. Berusaha menepati semuanya itu demi kasih kepada Allah, entah engkau berdoa, entah membaca, entah merayakan Ibadat Ilahi atau malahan melakukan pekerjaan rumah yang sederhana. Dan latihlah dirimu dalam segala pekerjaan cinta kasih kepada semua orang, baik yang sehat maupun yang sakit. Dan ketahuilah dengan pasti: jika, sambil melakukan itu, engkau mengangkat budimu kepada Allah, dan sering berkata: “Tuhan, semuanya ini demi kasih kepada-Mu”, maka engkau akan tetap mengatakannya, juga kalau engkau tidak memikirkannya. Nasihat ini hendak kuberikan kepadamu: peliharalah dalam dirimu keinginan yang bernyala-nyala untuk melakukan ulah tapa, dan dalam melakukan itu jangan menuruti kesenanganmu, tetapi tepatilah terutama perintah-perintah para pemuka. Sebab dengan berbuat demikian, engkau akan memperoleh banyak rahmat pada Tritunggal yang Mahakudus, yang mengenal isi hatimu. Hendaklah kaupelihara, agar hatimu selalu bernyalakan kasih Ilahi, sebab engkau melihat, bahwa lalat tidak mendekati air panas, melainkan air suam. Demikian pun iblis dengan pikiran-pikiran yang kotor, akan lari dan menjauh dari jiwa yang bernyalakan kasih Ilahi; sedangkan jiwa yang suam dalam hal cinta kasih sesama dan dalam hal kasih kepada Allah, akan dihinggapi kerumunan pikiran yang sia-sia dan tak berguna, seperti kawanan lalat yang tenggelam di dalamnya. Dari padanya timbul kelalaian jiwa yang mencelakakan, yang dipupuk oleh rasa kantuk. Maka itu terjadilah, bahwa banyak orang dalam hidup membiara itu tertidur, dan karena salah duga, mengira, bahwa mereka dengan tertidur pun dapat mencapai kesempurnaan. Tetapi ketika ajal mendekati, mereka hanya mengumpulkan lalat-lalat saja. Dari sebab itu bukalah matamu dan berjagalah, supaya engkau jangan berhambur-hamburkan hari-hari dari waktu singkat yang masih tersisa dari hidupmu di dunia ini.
Hendaklah berjaga-jaga, dan giat sekadar rahmat yang diberikan Tuhan kepadamu, seraya berkata bersama sang rasul: “Kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia” (1Kor 15:10), sebab aku mencari Engkau mulai fajar menyingsing.

LAGU BERGILIR
P: Bangunlah, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allahku. U: Ingatlah bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya: turutilah itu dan bertobatlah. P: Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya. U: Ingatlah bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya: turutilah itu dan bertobatlah.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah membuat beata Baptista, perawan, ajaib karena tetap merenungkan tentang sengsara Putera-Mu Yesus Kristus; perkenankanlah, karena pengantaraannya, agar kami menaruh kematian salib di dalam hati kami dan patut memperoleh kehidupan yang kekal. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Sesungguhnya perawan yang bijaksana beralih kepada Kristus serta bercahaya di kalangan para perawan bagaikan matahari di angkasa raya (WP Alleluya).

KIDUNG MARIA
Antifon: Marilah mempelai Kristus, terimalah mahkota yang telah disediakan Tuhan bagimu selama-lamanya (WP Alleluya).


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *