30 Januari

30/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 592 kali

[Index Kalender Fransiskan]

30 JANUARI
SANTA HIASINTA MARESCOTTI
PERAWAN, ORDO III
(PFAK; PW UNTUK ORDO III)

hiasinta-marescotti-1

S. Hiasinta dilahirkan di dekat Viterbo dalam tahun 1585 dari kalangan bangsawan Romawi. Dalam usia muda ia menjadi anggota Ordo III. Sesudah jatuh sakit parah ia meninggalkan kemewahan duniawi. Ia melakukan ulah tapa keras dan karya-karya amal kasih kepada sesama. Ia dikurniai kharisma surgawi. Meninggal pada tahun 1640.

Rumus umum Seorang Perawan, Ibadat Harian hlm 926, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari tafsir Mazmur S. Yohanes Krisostomus.
Tobat, obat mujarab dosa-dosa kita.

Inilah buah tobat, inilah keuntungan air mata: hati yang remuk redam tidak akan terpikat lagi oleh hawa nafsu. Demikian pula halnya dengan kita: boleh jadi seseorang itu dihiasi dengan mahkota; tetapi bila ia melukai hati kita, maka kita akan meremehkan persahabatannya. Sebab tiada sesuatu yang lebih hina daripada seseorang, kendati ia raja, yang diperbudak oleh perbuatan tercela; seperti juga tidak ada yang lebih luhur daripada seseorang yang mempunyai keutamaan, kendati ia tawanan.

“Tuhan telah mendengarkan tangisanku” si pengarang Mazmur tidak berkata begitu saja: “Tuhan telah mendengarkan suaraku”, melainkan “suara tangisku”. Lihatlah, betapa berlimpah-limpah dan kaya si pengarang Mazmur mengemukakan perkaranya: “Suara dan tangis”! Dengan “suara”, tidak ia maksudkan lantangnya teriak, melainkan perasaan jiwa; dan “tangis”, tidak ia maksudkan hanya apa yang dicucurkan mata, tetapi juga apa yang keluar dari dalam hati. Sebab siapa yang melakukan tobat dan didengarnya Allah, tentulah ia juga memperoleh anugerah ini, yakni bahwa ia menjauhkan pergaulan dengan orang-orang jahat.

“Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejapan mata”. Doa ini sangat bermanfaat; dan menurut pendapatku, doa itu mengandung rasa malu dan penyesalan batin. Sebab siapa yang berkelakuan jahat, meninggalkan kejahatannya jika ia merasa malu dan berubah batin. Sebagaimana kalau kita melihat seseorang mendekati tubir dan tempat yang curam, kita akan mencegah dia untuk terus melangkah, dengan berkata: “Hai manusia, mau ke mana? Di depanmu kan ada jurang menganga!” demikian pulalah si pengarang mazmur ingin supaya orang jahat berbalik. Demikian pula orang akan binasa, jika ia tidak segera mengekangi kudanya yang lari tegar. Oleh karena itu, saudara-saudara, hendaklah kita pun mengambil obat yang mengerjakan keselamatan, yakni melakukan pertobatan, yang melenyapkan dosa-dosa kita. Akan tetapi pertobatan itu bukan yang dinyatakan dengan kata-kata, melainkan yang dibuktikan dengan perbuatan; pertobatan inilah yang melenyapkan noda-noda kejahatan dari dalam hati. Sebab sang nabi berkata: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku” (Yes 1:1-16). Mengapa kelimpahan kata-kata ini? Tidak cukupkah mengatakan saja: “Jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari hatimu” untuk menerangkan seluruh maksud? Mengapa masih ditambahkan: “dari depan mata-Ku”? Sebab lainlah cara mata manusia memandang, lain pula Tuhan memandang, yakni: “manusia memandang muka, sedangkan Tuhan memandang ke hati”. Ia berkata: “janganlah menjalankan pertobatan secara lahiriah saja, tetapi tunjukkanlah hasil pertobatan itu di depan mata-Ku, yang mendugai apa yang tersembunyi.

LAGU BERGILIR
P: Wanita yang tidak bersuami dan anak-anak gadis U: memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya jiwa dan tubuh mereka kudus. P: Gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. U: Wanita yang tidak bersuami dan anak-anak gadis.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah membuat perawan Hiasinta, yang bernyalakan api cinta kasih kepada-Mu, menjadi teladan matiraga terus-menerus; perkenankanlah, karena pengantaraan orang suci itu, agar kami menangisi dosa-dosa kami, dan oleh karenanya bertekun dalam cinta kasih kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM