3. Merunut Ke Belakang: Sebelum Para Suster Claris Sampai Ke Indonesia

09/08/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 3.586 kali

[Index Clara]
[Unduh tulisan ini] | [Unduh brosur]

Biara Santa Clara di PacetAtas undangan keluarga bangsawan, maka datanglah para Claris dari Brussels, Belgia ke Belanda tepatnya di kota Hertogenbosch pada tahun 1359. Para Suster Claris itu menjalani kehidupan di sana dengan tenang. Namun ketenangan itu terusik sewaktu Frederik Hendrik berkuasa sekitar tahun 1629. Beliau mengeluarkan aturan: biara boleh tetap bertahan hanya sampai dengan suster yang paling akhir meninggal dunia. Menerima calon baru tidak lagi diijinkan. Hal ini sebagai akibat dari arus Protestantisme di Belanda waktu itu. Dua puluh tahun kemudian kurang lebih pada tahun 1649, demi masa depan biara, para suster dengan berani mengajukan permohonan untuk membuka biara baru di luar Belanda. Waktu itu masih ada 18 suster yang pasti sudah lanjut usia. Delapan belas tahun kemudian permohonan ini dikabulkan. Para suster diijinkan membuka biara baru di Mechelen – Belgia pada tahun 1667.

Sebelum biara di Mechelen dibuka, sudah ada biara Claris di Hoogstraten – Belgia yang didirikan pada tahun 1489 dimana dua suster dari Trier – Jerman dimohon bantuannya untuk memperkuat komunitas di sana. Pada tahun-tahun awal, komunitas Hoogstraten berkembang dengan baik dan subur, sehingga mereka kemudian membuka biara-biara baru antara lain di Boxtel-Belanda pada tahun 1513.

Kira-kira dua abad kemudian kurang lebih tahun 1717 karena pengejaran dan gangguan terus menerus dari para tentara, terlebih dalam pemerintahan Yosef II, komunitas Boxtel terpaksa meninggalkan biara mereka dan dengan susah payah mencari tempat. Pada akhirnya mereka mendapat satu rumah benteng yang boleh disewa di Megen milik Karel Filip pada tahun 1719. Karena kondisi rumah tidak layak pakai maka dibongkar dan dibangun menjadi sebuah biara. Sementara pembangunan dilaksanakan, para suster tinggal di rumah lain. Pada tanggal 30 April 1721 bangunan biara sudah selesai dan bisa didiami oleh para suster. Sebagai mata pencaharian, para suster mulai membuat Balsam de Malta dengan bantuan Pater Herman Dullens. Pada tahun 1766 para suster mulai membuat Hosti yang sampai hari ini masih mereka kerjakan. Komunitas di Megen inilah yang menjadi asal mula komunitas para suster Claris di Indonesia. Sejak Frederik Hendrik berkuasa dan juga para penggantinya, terutama saat pemerintahan Yosef II, biara kontemplatif terus-menerus mendapat gangguan. Tanggal 12 Januari 1782 Yosef – Kaisar Austria ini menutup semua biara kontemplatif karena dianggap tidak ada artinya dan tidak berbuat sesuatu yang nyata menghasilkan atau berguna bagi masyarakat. Pada tahun berikutnya keputusan tersebut berlaku bagi semua biara kontemplatif di negara-negara yang berada dibawah kekuasaannya, termasuk Belanda.

Menyusul revolusi Perancis, pada tanggal 12 Agustus 1792 semua biara di Perancis ditutup, kemudian juga di semua negara dimana tentara Napoleon berada. Tahun 1794 kekacauan menyerang Megen. Tahun 1812 biara Megen ditutup, para suster harus meninggalkan biara. Untuk beberapa bulan para suster menumpang di keluarga penderma yang baik di Megen, kemudian mereka pindah ke Oss. Tahun 1814 para suster diperbolehkan kembali ke biara tetapi dengan syarat tertentu: tidak boleh menerima calon baru. Sementara itu para suster dituntut untuk memilih pulang kembali ke rumah keluarga dengan jaminan hidup dari pemerintah atau tetap tinggal dalam biara dengan mencari penghidupan sendiri sampai suster terakhir meninggal dunia. Para suster mengambil pilihan yang ke dua meskipun dengan larangan untuk menerima calon baru. Akan tetapi sejak tahun 1813 secara sembunyi-sembunyi mereka menerima calon, seraya berdoa tiada jemu-jemunya memohon kepada Tuhan agar keadaan menjadi lebih baik. Tuhan mengabulkan doa mereka. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Willem II, beliau memberi kebebasan dalam beragama. Oleh karena itu kemudian pada 1840 larangan menerima calon baru dicabut.

Meskipun keadaan sudah lebih aman namun mereka masih was-was berada di Megen. Maka para suster mencari tempat lain sehingga dapat pindah ke tempat baru itu bila terjadi lagi kekacauan atau bahaya. Mereka menemukan tempat di Ammerzoden. Maka pada tahun 1876 sembilan orang suster koor dan tiga suster luar berangkat ke Ammerzoden untuk memulai suatu komunitas baru. Tahun 1896 biara di Megen bisa dibeli kembali dari kekuasaan pemerintah kota. Sejak saat itu para suster dari kedua biara tersebut dapat menjalani hidup doa dan dalam pingitan yang berpegang pada Anggaran Dasar Urbanus IV.

Pages: 1 2 3 4 5

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *