29 November

17/10/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.601 kali

[Index Kalender Fransiskan]

29 November
Semua Orang  Kudus Ordo Serafin
(Pesta)

pohon-fransiskan

Pada tanggal 29 November 1223, Paus Honorius III mengesahkan Anggaran Dasar Saudara-saudara Dina. Karena itu, hari ini dipilih untuk mengenang semua orang kudus keluarga besar Fransiskan.

Pembukaan Ibadat Harian
Antifon: Marilah kita menyembah Tuhan, Raja para raja, karena Dia adalah mahkota para kudus.

[Ibadat Bacaan] [Ibadat Pagi] [Ibadat Siang] [Ibadat Sore]

IBADAT BACAAN

MADAH

Kristus Penebus dunia
Dampingilah para hamba
Damaikanlah berkat doa
Santa Perawan mulia.

Laskar surgawi bahagya
Enyahkanlah dari dunia
Dosa serta cacat cela
Dulu kini serta nanti.

Para martir yang perkasa
Pengaku iman yang jaya
Hantar kami dengan doa
Bersama ke surga mulia.

Tunas Fransiskus dan Klara
Murid setia di dunia
Smoga serta para kudus
Kami mulia dengan Kristus.

Singkirkan benci sengketa
Dari umat yang percaya
Agar tentram dan damaimu
Kami nikmati selalu.

Mulyalah Allah Tritunggal
Bagi-Mu pujian kekal
Semoga kami selalu
Bersyukur dan memuji-Mu.

Amin.

PENDARASAN MAZMUR
Ant. 1. Tuhan mengenal jalan orang-orang jujur, yang merenungkan hukum-Nya siang dan malam.
Mazmur 1, Ibadat Harian hlm 387.
Ant. 2.
Menakjubkanlah nama-Mu yang Tuhan, karena Engkau telah memahkotai orang-orang kudus-Mu dengan kemuliaan dan kehormatan.
Mazmur 8, Ibadat Harian hlm 1083.
Ant. 3. Orang yang melakukan kebenaran beristirahat di gunung-Mu yang kudus, ya Tuhan.
Mazmur 14 (15), Ibadat Harian hlm 916.

BACAAN I
Pembacaan dari surat ke dua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (4:5-18; 5:14-15; 6:1.4-10)
Hidup kita nyata dalam tubuh kita.

Bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

LAGU BERGILIR
P: Orang-orang kudus Allah tekun dalam cinta kasih persaudaraan sekadar perjanjian Tuhan dan adat istiadat leluhur. * Karena mereka selalu satu dalam roh dan satu dalam iman. U: Orang-orang. P: Alangkah baik dan indah, apabila saudara-saudara diam bersama-sama dengan rukun. U: Karena mereka.

BACAAN II
Pembacaan dari karya Santo Bonaventura, “Pembelaan kaum miskin”.
Janganlah kita pikirkan hal-hal yang tinggi, melainkan arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.

Penyelamat kita mulai dengan berkata: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah”. Dengan kata-kata itu, Ia mengajak untuk melepaskan sepenuhnya segala milik jasmani. Selanjutnya Ia menyambung: “Berbahagialah orang yang lemah lembut.” Dengan kata-kata ini ia mendorong untuk menyangkal kehendak dan pendapat sendiri, yang membuat orang kasar dan kurang ajar. Kemudian, dengan menambahkan: “Berbahagialah orang yang berdukacita”, Ia menganjurkan untuk menjauhi sepenuhnya nafsu daging. Lalu, dengan menyambung: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran”, dan “Berbahagialah orang yang murah hatinya”, Ia menarik orang untuk menanggung sesama secara sabar, adil, baik dan rela hati. Sesudah itu, dengan kata-kata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya”, dan “Berbahagialah orang yang membawa damai”, Ia membangkitkan kita untuk mengangkat hati kepada Allah dengan akal jernih dan hati yang tenang dan suka damai, yang oleh karenanya jiwa yang sempurna mirip Yerusalem, yang berarti kota damai. Akhirnya dengan menutup: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang mempunyai kerajaan surga”, Ia kembali ke permulaan dan mengunci rangkaian itu, karena dalam ayat yang satu ini terpenuhi semuanya itu (Mat 5:3-10). Akan kesaksian hal itu maka bapa suci kaum miskin, Santo Fransiskus dalam awal anggaran dasarnya mengemukakan tiga butir pertama itu sebagai dasar yang harus dihayati: “Anggaran dasar dan cara hidup saudara-saudara dina ialah menepati Injil suci Tuhan kita Yesus Kristus, sambil hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.” Kemudian ketiga butir selanjutnya dianjurkannya sebagai pelengkap yang layak diinginkan: “Hendaknya mereka perhatikan keinginan untuk memiliki Roh Tuhan melampaui segala-galanya dan membiarkan Dia berkarya di dalam diri mereka; ingin selalu berdoa kepada-Nya dengan hati yang murni; ingin rendah hati, sabar dalam penganiayaan dan sakit; dan ingin mencintai mereka yang menganiaya mencela dan berperkara dengan kita”. Di sini Fransiskus menyentuh tiga butir yang lain itu. Sebab ia memulai dengan pengarahan hati kepada Allah, dan pada akhirnya, ia menyebut kerendahan hati terhadap sesama; dan di tengahnya ia menempatkan kesabaran dalam menanggung kemalangan.

Jadi, karena ketiga butir pertama manusia sempurna disalibkan bagi dunia; dan karena tiga butir berikutnya ia menyerupai Allah, sehingga seakan-akan melalui enam sayap Serafin, Kristus menerakan stigmata-Nya sebagai meterai pembenaran. Kepada si kecil miskin ini, yang menempati dan mengajarkan kesempurnaan injil secara sempurna. Dengan itu ia menaruh tanda yang jelas terhadap kegelapan penuh bahaya akhir zaman dan mengajar kita untuk memperoleh kesempurnaan, asal kita “jangan memikirkan hal-hal yang muluk, melainkan supaya kita menjadi bercahaya bersama dengan orang-orang yang bersahaja, mengarahkan diri kepada perkara-perkara sederhana”.

LAGU BERGILIR
P: Kamu yang telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Aku, * kamu akan menerima seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. U: Kamu yang. P: Berbahagialah kamu yang miskin, karena kepunyaanmulah kerajaan Allah. U: Kamu akan.

DOA PENUTUP
Allah yang mahakuasa dan kekal, Engkau telah berkenan menerangi Gereja-Mu dengan pelbagai cahaya orang-orang kudus Ordo Serafin; berilah kami, yang memeriahkan peringatan mereka dalam satu perayaan ini, supaya kami dengan mengikuti teladan keutamaan-keutamaan yang cemerlang di dunia, dapat memperoleh mahkota kebenaran di surga. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Pages: 1 2 3 4