28 Mei

06/03/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 718 kali

[Index Kalender Fransiskan]

28 MEI
SANTA MARIA ANNA DE PAREDES
PERAWAN, ORDO III
(PFAK)

08-maria-anna-de-parades

Maria Anna dilahirkan di Quito, Equador, pada tahun 1614. Setelah orang tuanya meninggal, ia menguduskan keperawanannya kepada Tuhan. Karena tidak sanggup masuk biara, maka ia melakukan ulah tapa, pantang, puasa dan semadi di rumah. Ia menjadi anggota Ordo III. Ia menaruh cinta kasih besar kepada orang-orang Indian dan orang-orang Negro, yang dibantunya dengan perbuatan amal dan cinta kasih. Apalagi dalam bencana yang menimpa daerah itu, yaitu gempa bumi dan wabah pes, Ia mengurbankan hidupnya. Ia meninggal karena wabah pes dalam tahun 1645, tanggal 24 Mei.

Rumus umum Para Perawan, Ibadat Harian hlm 921, kecuali:

IBADAT BACAAN

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari khotbah Paus Pius XII pada peresmian Maria Anna de Paredes menjadi Santa.
Dengan mengikuti jejak Kristus, hendaklah kita menyalibkan daging kita.

Meskipun Maria Anna berkembang dalam kesucian yang utuh, namun ia hendak memulihkan dosa-dosa, bukan dosanya sendiri, melainkan dosa orang-orang lain. Ia memperlemah tubuh keperawanannya dengan ulah tapa sukarela, dan lebih-lebih dengan berpuasa, menyalibkan diri sendiri dengan memakai baju bulu domba yang kasar dan dengan mencambuki tubuhnya dengan keras hingga berdarah. Dengan beban salib berat ia melakukan jalan salib Kristus yang bersengsara itu dari perhentian ke perhentian, dan merenungkan dengan saleh sengsara Penebus Ilahi serta membalas cinta Kristus yang mengasihi itu sambil mencucurkan air mata berlimpah. Ia hanya tidur pendek, kadang-kadang di lantai, kadang-kadang di papan saja sedang bagian terpanjang dari malam hari dihabiskannya sambil berlutut mengangkat budi dan jiwanya kepada Allah, memanjatkan doa permohonan dan merenungkan hal-hal surgawi.
Dewasa ini khususnya, tidak semua orang dapat memahami hidup berulah tapa itu sebagaimana mestinya, dan tidak banyak orang menghargai itu sebagaimana mestinya. Bahkan, kini banyak orang meremehkannya atau menjijikkannya, dan melalaikan sama sekali. Namun, hendaklah diingat, bahwa sesudah dosa Adam yang celaka itu, kita sekalian ditulari noda asal, sehingga kita mudah cenderung kepada kenikmatan dosa, maka pertobatan itu bagi kita sungguh perlu, sesuai dengan sabda Injil: “Jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (Luk 13:3). Sebab tidak ada sesuatu pun yang lebih mampu mengekang nafsu bergolak dan menundukkan keinginan kodrat nafsu itu daripada akal budi.
Tetapi dari perjuangan itu, kita dapat keluar sebagai pemenang, dengan bergulat. Walaupun boleh dikatakan bahwa dengan mengikuti jejak Yesus Kristus kita harus menyalibkan daging kita terus menerus namun bagi kita manislah rasanya di dalam hidup yang fana ini sudah boleh mengenyam sukacita surgawi, yang jauh melebihi kesenangan dunia, sekadar roh mengatasi tubuh, dan surga melebihi bumi. Karena ulah tapa suci dan matiraga yang dilakukan dengan sukarela itu mengandung suatu kesedapan, yang tidak dapat diberikan oleh barang-barang rapuh yang cepat berlalu. Inilah yang sering dialami Anna Maria de Yesus de Paredes. Dan ketika ia terdorong khususnya oleh kasih kepada Allah dan cintanya kepada sesama manusia, menyiksa dirinya dengan siksaan hebat untuk memulihkan dosa-dosa orang-orang lain, kadang-kadang lepas dari ideranya mengalami ekstase, ia merasa dan mengenyam sedikit dari kebahagiaan abadi itu.
Maka diperkuat dan digembleng rahmat Ilahi, ia berusaha sedapat mungkin untuk memelihara bukan hanya keselamatannya sendiri, tetapi juga keselamatan orang-orang lain. Dengan murah hati diringankannya penderitaan orang-orang miskin, dientengkannya beban orang-orang sakit. Bilamana terjadi bencana hebat, seperti gempa bumi dan wabah yang menggoncang dan menyiksa sesama warga, maka ia berusaha dengan rendah hati, dengan berdoa, dengan mohon pendamaian, dan dengan mengurbankan hidupnya, untuk memperoleh dari Bapa yang maharahim apa yang tidak dapat dicapainya dengan pertolongan insani.

LAGU BERGILIR
P: Aku menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus. U: Untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja. P: Barangsiapa menjadi milik Kristus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. U: Untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah menghendaki Santa Maria Anna, di tengah-tengah bujukan dunia, terus berkembang laksana bunga bakung di tengah onak duri, dalam kemurnian dan ulah tapa suci; kami mohon, berilah, karena pahala dan pengantaraannya, supaya kami menarik diri dari cacat cela dan mengejar hal-hal surgawi. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Sesungguhnya perawan yang bijaksana beralih kepada Allah serta bercahaya di kalangan para perawan bagaikan matahari di angkasa raya (WP Alleluya).

KIDUNG MARIA
Antifon: Sesungguhnya perawan yang teguh itu mengikuti Anak Domba yang telah disalibkan bagi kita sebagai persembahan kesusilaan dan kurban keperawanan (WP Alleluya).


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM

Kirim komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *