27 November

17/10/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 486 kali

[Index Kalender Fransiskan]

27 November
Santo Fransiskus Antonius Fasani
Imam, Ordo I
(PFak)

fransiskus-antonius-fasani

Fransiskus Fasani dilahirkan di Lucera pada tahun 1681. Ia masuk Ordo Konventual dan ditahbiuskan menjadi imam; lalu ia menjadi dosen filsafat dan pengkhotbah yang giat. Selaku minister provinsial ia memelihara ketertiban dan kemiskinan. Ia menyegarkan ordonya, dibarengi hidup pribadinya yang patut diteladani. Meninggal di Lucerna tanggal 29 November 1742.

Rumus Umum Pria Kudus dan Biarawan, Ibadat Harian hlm 936 dan 953, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari karya Santo Bonaventura, Uskup, “Perihal Jalan Rangkap Tiga”
Kemajuan dalam cintakasih membawa kepada kesempurnaan dalam segala kebaikan.

Untuk maju dalam kasih kepada Allah, orang harus tahu bahwa ada enam anak tangga yang harus dilalui satu per satu dan secara berturut-turut, hingga sampai pada kesempurnaan:
Anak tangga yang pertama ialah kemanisan. Di sini orang belajar “mengecap betapa baiknya Tuhan” (bdk. Mzm 34:9); dan ini terjadi apabila renungan tentang kasih Allah menghasilkan kenikmatan dalam hati.
Anak tangga yang ke dua ialah keinginan. Apabila jiwa mulai biasa pada kemanisan, maka akan timbul semacam kelaparan besar yang tak dapat dipuaskan, kalau tidak memiliki sang kekasih itu sepenuhnya; karena sekarang ia tidak dapat mencapai hal itu, sebab masih tinggal jauh, maka ia selalu akan melampaui batas, seakan-akan masuk ke dalam keadaan cintakasih ekstatis.

Anak tangga yang ke tiga ialah kekenyangan, yang timbul dari keinginan itu. Karena jiwa mendambakan Allah dan diangkat ke atas, maka segala keduniawian berubah baginya menjadi kemuakan. Maka seperti wanita yang mencinta, yang hanya dapat menemukan sukacita pada kekasihnya, dan seperti orang kekenyangan, yang kalau terus makan akan lebih mengalami mual dari pada rasa nikmat, demikian pula halnya pada dengan jiwa anak tangga kasih ini, terhadap segala keduniawian.

Anak tangga yang ke empat ialah kemabukan, yang timbul dari kekenyangan. Adapun kemabukan ialah, bahwasanya seseorang mengasihi Allah sedemikian rupa, sehingga ia tidak hanya enggan akan penghiburan, tetapi malah menyukai dan mencari kesusahan sebagai ganti penghiburan; demi kasihnya akan sang kekasih, ia bersukacita atas hukuman, penghinaan dan deraan seperti rasul Paulus (bdk. 2 Kor 12:10).

Anak tangga ke lima ialah kepastian, yang timbul dari kemabukan. Karena jiwa merasa, bahwa ia mengasihi Allah sedemikian sehingga demi Dia ia rela menanggung rugi dan penghinaan, maka ia tinggalkan ketakutan; lalu timbul dalam jiwa harapan yang kuat akan bantuan Allah, sehingga ia percaya, bahwa tiada sesuatu pun yang dapat memisahkan dia dari Allah. Pada anak tangga ini, berdirilah sang rasul, yang berkata: “Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rom 8:35).

Anak tangga ke enam ialah ketentraman hati yang sejati dan sempurna; dalam dia bersemayam ketentraman dan kepuasan yang begitu rupa, sehingga jiwa agaknya bertekun dalam keheningan dan damai, seakan-akan tinggal dalam bahtera Nuh, di mana ia tidak dicemaskan oleh hal apa pun juga. Sebab, siapa gerangan dapat mencemaskan jiwa yang tidak lagi digelisahkan oleh rangsangan hawa nafsu, tidak dikejar-kejar oleh sengat ketakutan. Di dalam jiwa serupa itu bersemayamlah kedamaian, keseimbangan tertinggi dan ketenangan. Di situ bersemayamlah Salomo sejati, karena kediamannya adalah damai sejati. Keheningan hanya mungkin dicapai melalui cinta kasih. Tetapi bila orang telah mencapainya, maka baginya adalah ringan sekali untuk berbuat segala-galanya yang termasuk kesempurnaan, entah bertindak, entah menderita, entah hidup, entah mati. Jadi kita harus berusaha untuk tetap maju dalam kasih, karena kemajuan itu mengantar kita ke dalam kesempurnaan segala kebaikan, Semoga ini dianugerahkan oleh Dia, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin.

LAGU BERGILIR
P: Kuberitahukan kepadamu apa yang baik dan apa yang dituntut Tuhan dari padamu: * berlaku adil, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu. U: Kuberitahukan. P: Mengunjungi para yatim piatu dan para janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga dirinya agar tak dicemarkan oleh dunia. U: Berlaku adil.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah membuat Santo Fransiskus Antonius Fasani menjadi saudara dina yang patut diteladani dan menjadi pengkhotbah yang menonjol; berilah kami, karena pengantarannya, kerajinan dalam kasih, untuk menyatakannya dalam perbuatan dan membawa kami kepada hidup yang kekal. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

KIDUNG MARIA
Antifon: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukanya untuk Aku. Marilah kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak duni dijadikan.

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM