27 Juli

08/03/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 649 kali

[Index Kalender Fransiskan]

27 JULI
BEATA MARIA MAGDALENA MARTINENGO
PERAWAN, ORDO II
(PFAK)
maria-magdalena-marinengo-1

Maria Magdalena dilahirkan di Brescia (Italia) pada tahun 1687 dari keluarga bangsawan. Tahun 1705 ia masuk biara Klaris Kapusines; beberapa waktu kemudian menjadi pemimpin novis, lalu Abdis. Tak kenal lelah dalam menjalankan tugas-tugasnya, ia terutama suka akan tugas-tugas yang paling hina. Ia amat sabar dalam menanggung penyakit, bahkan mendambakan menderita lebih banyak. Tulisan-tulisannya membuktikan keahliannya di bidang hidup rohani. Ia meninggal pada tahun 1737.

Rumus umum Para Perawan, Ibadat Harian hlm926, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari naskah Beata Maria Magdalena Martinengo “Perihal kerendahan hati”.
Jiwa rendah hati turut serta dalam kekudusan Allah.

Menurut hakikatnya, Allah adalah kudus. Ia adalah kekudusan itu sendiri. Rupa-rupanya oleh karena sifat inilah ia hendaknya lebih-lebih dihormati dan dipuji, dari pada karena alasan lainnya. Ini kita lihat pada roh-roh tertinggi, yang tak kunjung berhenti menyanyikan: “Kudus, kudus, kudus”. Mereka pun menyembah kekudusan Ilahi itu dengan keheningan yang mendalam, dan dengan mengepak-ngepakkan sayapnya makin bernyala-nyalalah kasih mereka kepada-Nya. Dengan muka berselubung mereka mengakui, bahwa mereka tak sanggup memahami, mengasihi atau memuji kekudusan-Nya lebih lanjut. Namun dengan tak kunjung berhenti mereka mengakui kekudusan-Nya itu.
Demikian pula yang berlaku pada jiwa rendah hati yang ambil bagian dalam kekudusan Ilahi. Pertama, jiwa rendah hati mengarahkan matanya kepada kemanusiaan terkudus Yesus Kristus. Allah Manusia: di dalam-Nya ia memandang puncak segala kekudusan termulia. Ia mencamkan gambar-Nya di dalam batin, lalu membayangkan yang dalam batin itu di depan matanya, untuk meneladan-Nya dan melaksanakan apa yang dibayangkannya itu dalam perbuatan; dan dengan meneladan Yesus Kristus, ia membaharui dirinya lahir batin. Dengan membayangkan teladan Ilahi di depan mata dan dengan mencamkannya di dalam hati, maka lambat laun jiwa menjadi suci, dan dari hari ke hari menembusi dengan pandangan yang makin sederhana, iamelihat kekudusan yang baru dan ia pun akan lebih bernyala-nyala untuk meneladan kekudusan itu. Tetapi karena tidak dihalangi oleh “ketiadaan” dirinya sendiri, ia lalu melepaskan dirinya sendiri serta segala bayangan dan gambaran. Lalu dengan dilepaskannya dari dirinya sendiri, ia masuk dalam Allah, yang menyerap dia seluruhnya dan menyicikannya dengan kekudusan-Nya sendiri.
Allah sendiri ingin, supaya kita mencapai kekudusan yang luhur. Keinginan itu dinyatakan-Nya dengan berkata: “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini Kudus” (Im 11:44). Dengan mata dan tangan terangkat, sebelum sengsara-Nya, Yesus telah mohon kepada Bapa: “Bapa yang Kudus, kuduskanlah mereka dalam kebennaran” (Yoh 17:17). Bangkitlah, hai jiwaku, dan benamkanlah dirimu di dalam danau kekudusan, untuk tidak lagi meninggalkannya, agar engkau sendiri menjadi kudus oleh kekudusan Ilahi itu.
Aku tidak suka akan pujian, yang diberikan kepada suatu ciptaan, entah ia bercahaya karena suatu kebajikan, misalnya pertarakan atau kelemah-lembutan, atau karena ia nampaknya berkelakuan rendah hati dalam segala-galanya. Sebab aku berpendapat, bahwa semakin jiwa itu suci, semakin ia dikosongkan dari dirinya; sebab dalam pengosongan itu, ia akan lebih ambil bagian dalam kekudusan Ilahi.
Namun, dengan sesungguhnya, ya Tuhanku, hanya Engkaulah yang Kudus! Engkau, ya Tuhan, buatlah kami kudus, dengan mulai meniadakan dalam diri kami, segala apa yang bertentangan dengan kekudusan-Mu.

LAGU BERGILIR
P: Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Yesus Kristus yang Kudus, yang telah memanggil kamu, * supaya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu. U: Hendaklah. P: Tetapi hendaklah saling bertemu dalam kerendahan hati. U: Supaya kasih.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah memberikan anugerah kepada Beata Maria Magdalena Martinengo, untuk mengikuti Kristus yang miskin dan rendah hati; perkenankanlah, agar karena pengantaraannya, kami berjalan setia dalam panggilan kami dan oleh karenanya, lewat jalan kebenaran dan keadilan, dapat sampai kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Sesungguhnya, perawan yang bijaksana beralih kepada Kristus dan bercahaya di kalangan para perawan bagaikan matahari di angkasa raya.

KIDUNG MARIA
Antifon: Ia telah meremehkan hidup di dunia, dan oleh karenanya sampai kepada ganjaran surgawi.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM