26 September

09/02/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 529 kali

[Index Kalender Fransiskan]

26 SEPTEMBER
SANTO ELZEARIUS DARI SABRAN DAN BEATA DELPHINA
PASUTRI, ORDO III
(PFAK)

st-elzearius-dan-st-delfina

Elzearius, yang dilahirkan di Perancis, beristeri Delphina. Kedua-duanya menjadi anggota Ordo III. Mereka menjalankan hidup berdoa dan beramal. Harta yang diperolehnya, dibagi-bagikan kepada orang miskin. Dalam hidup keluarga, mereka mengikuti teladan S. Maria dan S. Yosef. Elzearius meninggal di Paris tanggal 27 September 1323; dan Beata Delphina, 26 November 1358.

Rumus Umum Pria Kudus, Ibadat Harian hlm 936, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari buku karya Santo Agustinus “Perihal perkawinan dan hawa nafsu.”
Kepada pasangan suami-isteri Kristiani tidak hanya diberikan kesuburan, yang hasilnya ialah keturunan dan tidak hanya rasa kesusilaan, – yang ikatannya ialah kesetiaan, – tetapi juga suatu sakramen yang khusus. Maka kata sang rasul: “Hai suami, kasihilah isterimu, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat” (Ef 5:25). Sudah barang tentu hakikat sakramen ialah, bahwasanya pria dan wanita yang terikat oleh perkawinan, selama hidup tak terpisahkan; dan juga tidak diizinkan berpisah, selain dalam hal zinah, yaitu bahwa pihak yang satu dapat dipisahkan dari pihak yang lain. Ini terpelihara baik-baik pada Kristus dan Gereja sehingga pihak yang satu, selagi hidup, tidak terpisahkan oleh perceraian selama-lamanya dari pihak yang lain, selagi hidup. “Di kota Allah kita, di gunung-Nya yang kudus”, yaitu di dalam Gereja Kristus, pelaksanaan sakramen itu bagi semua pasangan beriman, yang sudah jelas merupakan anggota-anggota Kristus, adalah kewajiban yang ketat sekali; sehingga tidak diizinkan melepaskan isteri yang mandul untuk mengawini wanita lain yang subur, walau wanita itu nikah atau dinikahi dengan tujuan untuk melahirkan anak. Apabila seseorang melakukan itu, betul ia tidak bersalah menurut hukum dunia, tetapi ia berdosa zinah menurut hukum Injil. Dalam hukum duniawi, memang dibolehkan bahwa suami dan istri, setelah perceraian resmi dilaksanakan, mengikat perkawinan baru dengan orang lain, dan bebas dari hukuman. Yesus pun menerangkan secara resmi, bahwa Musa yang saleh itu telah mengizinkan hal itu kepada orang-orang Israel, “karena ketegaran hati mereka.” Namun menurut hukum Injil, si suami bersalah karena berzinah; demikian pula si isteri, apabila ia nikah dengan pria lain.

Ikatan perkawinan yang pernah dilangsungkan itu begitu kokohnya selama mereka hidup, sehingga mereka yang cerai-hidup, tetap suami-isteri satu sama lain, lebih daripada orang yang sekarang menjadi teman hidup mereka. Mereka tidak berzinah, seandainya mereka tidak tetap berupa pasangan.

Tetapi apabila mereka, dengan persetujuan bersama, mau bertarak dari penggunaan nafsu daging untuk selamanya, maka ikatan perkawinan tentu saja tidak diputuskan; bahkan ikatan itu menjadi makin kokoh, manakala mereka makin teguh menepati persetujuan bersama itu. Sebab persetujuan itu harus ditepati lebih sadar dan lebih bersepakat, yakni bukan karena hubungan badan berdasarkan hawa nafsu melainkan oleh jiwa cinta kasih, yang sukarela. Maka tepat sekali malaikat berkata kepada Yosef: “Janganlah takut mengambil Maria menjadi isterimu”. Maria disebut isteri sejati sejak janji setia nikah, walaupun ia belum pernah mengadakan hubungan seksual dengannya, dan selanjutnya, juga tidak mengadakannya. Walau tak pernah ada hubungan seksual, dan juga tidak akan ada, namun sebutan isteri bagi Maria, tidak kehilangan maknanya, dan juga bukan tidak tepat.

LAGU BERGILIR
P: Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang berdiam di dalam kamu. * Muliakanlah Allah. U: Tubuhmu. P: Kamu adalah bait Allah dan Roh Kudus diam di dalam kamu. U: Muliakanlah.

DOA PENUTUP
Ya Allah, dengan perantaraan Elzearius dan Delphina yang berbahagia, Engkau telah memperlihatkan teladan keutamaan-keutamaan yang cemerlang dalam kekudusan ikatan perkawinan; perkenankanlah dengan rela, supaya kami, dengan menghormati pahala suci mereka di bumi, dapat memperoleh pesertaan yang berbahagia di surga. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Berbahagialah orang yang membawa damai, dan berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

KIDUNG MARIA
Antifon: Angkatan yang murni selama-lamanya akan dimahkotai dan berjaya, karena telah menang dalam gelanggang pertandingan, tanpa noda.

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM