26 November

17/10/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 501 kali

[Index Kalender Fransiskan]

26 November
Santo Leonardo dari Porto Maurizio
Imam, Ordo I
(PW)

26-leonardus-dari-portomauticio-1

Leonardus dilahirkan di Liguria dalam tahun 1676. Ia menempuh studi di Roma. Setelah ditahbiskan ia berkeliling di seluruh Italia sambil memberitakan misi pertobatan umat. Ditulisnya banyak karya untuk kegunaan para pengkhotbah. Disebar-luaskan pula doa jalan salib. Ia meninggal dalam tahun 1751.

Rumus Umum Gembala Umat, Ibadat Harian hlm 908, kecuali:

Pembukaan Ibadat Harian

Antifon: Marilah kita menyembah Alah ajaib dalam orang-orang kudus-Nya.

IBADAT BACAAN

MADAH

Puji bagimu kami junjung tinggi
Pada pestamu, Leonardus suci
Dampingi kami dari surga tinggi
Di masa kini.

Di masa muda hidupmu kaujaga
Bisikan Tuhan selalu kaudamba
Hatimu penuh semangat bernyala
Api kasih-Nya.

Setinggi bintang tujuan hidupmu
Suci dan tulus itu idamanmu
Hening semadi itu pilihanmu
Mencari Tuhan.

Semata Tuhan cita dan cintamu
Salib panjimu tobat saranamu
Doa temanmu, selama berjuang
Mencapai bintang.

Engkau renungkan jalan salib Kristus
Dan air mata dari hati tulus
Engkau peroleh pengampunan dosa
Bagi sesama.

Putera Bunda Perawan mulia
Lindungi kami jauhkan bahaya
Mohon kami berkat dan pahala
Pada Maria.

Surga dan bumi serentak bernyanyi
Allah Tritunggal kami sembah puji
Alam semesta Engkau pengemudi
Syukur dan puji.

Amin.

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari karya Santo Leonardus.
Renungan sengsara Kristus menumbuhkan keremuk-redaman hati yang tulus.

“Sunyi sepi sekarang segenap negeri itu dan tidak ada orang yang memperhatikannya.” (Yer 12:11). Inilah pokok segala kemalangan kita, yaitu bahwa tiada seorang pun merenungkan dengan sungguh apa yang seharusnya dipikirkan akal-budi. Oleh karena itu timbul macam-macam ketidak-aturan dalam tingkah laku kita. Pertama-tama mengenai empat perkara terakhir, yang tidak dipedulikan lagi. Segala anugerah Allah, bahkan segala yang ditanggung Putera Allah di dalam sengsara-Nya yang pahit untuk kita, dengan sengaja dilupakan. Kewajiban dan tugas masing-masing masyarakat dijalankan dengan acuh tak acuh. Terhadap bahaya-bahaya yang mengancam kita dari segala sudut, tidak ada tindakan pencegah. Sebab oleh karena semuanya itu dunia penuh dengan kelaliman, maka dengan tepatnya nabi Yeremia mengeluh: “Sunyi sepi sekarang segenap negeri itu!”

Adakah obat mujarab terhadap kelaliman Itu? Sambil bersujud di depan kaki mereka, kepada semua pejabat tinggi Gereja, semua pastor dan imam dan pelayan Allah lainnya, saya ingin menunjukkan bahwa obat yang diharapkan itu sebagian sudah tersedia, yaitu apa yang disebut kebaktian “jalan salib”. Jika kebaktian itu, oleh kerajinan dan kegiatan para imam merembes di paroki dan gereja masing-masing, niscaya akan mmerupakan tanggul yang amat kokoh terhadap cacat-cacat yang merambat itu. Dan jalan salib itu melimpahi semua orang yang dengan bakti merenungkan sengsara dan cinta kasih Kristus, dengan banyak keutamaan.

Betapa banyaknya penerangan yang berguna bagi budi, betapa tulusnya keremukan hati, betapa tak terkalahkan keteguhan jiwa akan dibangkitkan oleh renungan yug tekun tentang sengsara amat pahit sang Putera Allah itu. Praktek jalan salib sehari-hari mengajarkan kepada saya, bahwa oleh jenis doa ini budi pekerti manusia, lebih cepat berpaling ke arah yang baik.

Nah, doa jalan salib adalah obat penawar cacat-cacat, pembersih keinginan-keinginan tak terkendali, penggalak yang efektif kepada kebajikan dan kesucian hidup. Memang, jika penderitaan Putera Allah yang amat pahit itu sering kita hidupkan di depan mata kita selaku sumber hidup, maka di dalam sinar terang ini kita tidak mungkin tidak akan jijik akan segala kekejian hidup kita sendiri. Bahkan kita akan terdorong untuk membalas kasih sebesar itu dengan mencintai, atau setidak-tidaknya untuk menanggung dengan suka hati kemalangan-kemalangan yang kita alami dalam situasi hidup kita masing-masing.

LAGU BERGILIR
P: Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. * Bukannya bergantung pada hikmat manusia, melainkan pada kekuatan Allah. U: Aku. P: Perkataanku dan pewartaanku dengan keyakinan akan kekuatan Roh. U: Bukannya.

DOA PENUTUP
Allah yang mahakuasa dan maharahim, Engkau telah menjadikan Santo Leonardus bentara ulung misteri salib; perkenankanlah karena pengantaraannya, supaya kami dengan mengenal kekayaan salib di dunia, patut memperoleh hasil penebusan di surga. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

IBADAT PAGI

MADAH

Laksana api kasih sayang suci
Penuh semangat satria mencari
Yang lesu segar yang sesat kembali
Ke Sang Ilahi.

Pewartaannya mengena di hati
Dosa dan cacat diubahnya jadi
Hati yang bersih serta penuh cinta
Kepada Bapa.

Tak kenal gentar tak kenal bahaya
Slalu berjuang membebaskan jiwa
Yang nyaris mati ditolongnya dengan
Roh kehidupan.

Dengan setia benih ditaburnya
Tampil perkasa tawarkan kurnia
Kasih bernyala, tawarkan tuntutan
Ganti haluan.

Kini bertakhta di tempat yang tinggi
Penuh cahaya dalam alam asri
Ganjaran jerih payah dalam hidup
Di alam sini.

Surga dan bumi serempak bernyanyi
Allah Tritunggal, Tuhan mahasuci
Alam semesta Engkau mengemudi
Sykur dan puji.

Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Laksana matahari yang bercahaya Ia memandang segala sesuatu, dan ciptaan Tuhan penuh dengan kemuliaan-Nya.

IBADAT SORE

MADAH

Allah kuasa dengarkan
Doa yang kami panjatkan
Pada pesta sahaya-Mu
Yang kini kami rayakan.

Ajarannya mengagumkan
Memancarkan kebajikan
Teladan orang beriman
Yang menempuh jalan Tuhan.

Bagaikan roti penghidup
Penerang jalan yang redup
Ikhlas mengurbankan diri
Memanggul salib nan ngeri.

Kristuslah kemulyaannya
Dan pokok kejayaannya
Beri kami sukacita
Berkat jasa pahalanya.

Terpuji Kristus mulia
Kar’na aneka kurnia
Berikan kami pahala
Hidup abadi di surga.

Amin.

KIDUNG MARIA
Antifon: Tuhan memberi dia kekuatan, dan kekuatan tinggal padanya untuk naik ke tempat tinggi dan memperoleh bagian warisannya.
Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM