23 April

22/02/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 566 kali

[Index Kalender Fransiskan]

23 APRIL
BEATO AEGIDIUS DARI ASISI
BIARAWAN, ORDO I
(PFAK)

aegidius-dari-asisi-2

Aegidius, murid Fransiskus yang pertama, adalah orang yang sangat sederhana dan lembut hati. Semangat devosinya mendorongnya untuk mengadakan pejiarahan ke berbagai tempat pejiarahan. Dia memperoleh penghidupan dengan membantu para petani dalam mengolah tanah mereka, tanpa mengabaikan berbuat demi keselamatan jiwanya dengan hidup sebagai petapa. Dengan mempersembahkan dirinya pada praktek-praktek asketis dan kontemplasi, dia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Perugia. Dia meninggal pada tahun 1262.

Rumus umum Pria Kudus, Biarawan, Ibadat Harian hlm936 dan 953, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari“Ungkapan-ungkapan Beato Aegidius dari Asisi”.
Sungguh merupakan sesuatu yang agung untuk bertahan sampai mati dalam hidup religius dengan ketekunan dan keyakinan.

Berbicara perihal dirinya sendiri, Aegidius biasa berkata: “Saya ingin lebih memilih hidup religius dengan rahmat yang lebih kecil daripada hidup di dunia dengan rahmat yang berlimpah-limpah, karena di dunia terdapat lebih banyak bahaya dan kurang sarana bantuan daripada dalam hidup religius. Namun, seorang pendosa lebih menakuti apa yang baik baginya daripada apa yang merugikannya, karena dia lebih takut mengerjakan pertobatan dan masuk dalam hidup religius daripada dibebani dosa dan tinggal di dunia.”

Seseorang yang masih hidup di dunia minta nasehat kepada saudara Aegidius apakah akan menjadi lebih baik baginya bila dia masuk hidup religius. Saudara Aegidius memberikan jawaban: “Bila seorang yang miskin mengetahui adanya harta karun yang terkubur dalam sebidang tanah milik umum, akankah dia minta nasehat kepada orang lain apakah dia harus secepat mungkin pergi ke harta karun itu? Seberapa lebih cepat lagi orang harus menggali harta karun surgawi?”

Saudara Aegidius biasa berkata: “Banyak orang memasuki hidup religius, tetapi tidak hidup sebagai religius dengan semestinya. Orang-orang ini seperti orang-orang tolol yang ditempatkan dalam persenjataan Roland tanpa mengetahui bagaimana harus berperang dengan persenjataan itu. Saya tidak menganggap sebagai sesuatu yang hebat masuk ke dalam istana raja, juga bukanlah sesuatu yang agung menerima hadiah dari raja, tetapi saya sungguh menganggapnya sebagai sesuatu yang besar untuk mengetahui bagaimana saya harus bertingkah laku dalam istana raja. Hidup religius adalah istana Raja yang Agung. Bukanlah sesuatu yang agung untuk bisa masuk ke dalamnya dan menerima anugerah-anugerah dari Tuhan, tetapi saya pandang sungguh sesuatu yang agung hidup dalam istana Tuhan dan tetap bertahan di dalamnya dengan keyakinan dan kesadaran sampai mati. Akan tetapi, aku lebih suka memilih hidup di dunia dengan keyakinan dan kesadaran, dan menghindari masuk hidup religius, daripada hidup dalam kehidupan religius tetapi merasa kelelahan karenanya.”

Demikian juga dia biasa berkata: “Bagi saya, kelihatannya kehidupan religius Saudara-saudara Dina diberikan kepada dunia supaya menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Celakalah kita, bila kita menjadi orang yang tidak melakukan yang seharusnya. Bagi saya hidup Saudara-saudara Dina nampak sebagai suatu kehidupan yang paling miskin dan paling kaya di dunia ini. Tetapi saya rasa, yang menjadi kelemahan kita yang paling besar adalah: kita ingin menjalani kehidupan religius dengan patokan-patokan, ukuran-ukuran yang terlalu rendah. Orang menjadi kaya karena dia meniru seorang yang kaya; dia menjadi bijaksana karena meniru orang yang bijaksana; dia menjadi terhormat karena meniru orang yang terhormat; orang menjadi mulia, bangsawan, karena meniru seorang yang bangsawan dan mulia, yakni Tuhan kita Yesus Kristus.”

LAGU BERGILIR
P: Betapa menyenangkan kediaman-Mu, ya Tuhan semesta Alam. U: Jiwa ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup, Alleluya. P: Aku lebih suka berdiri di ambang pintu rumah Allah, dari pada diam di rumah orang berdosa. U: Jiwa ragaku.

DOA PENUTUP
Tuhan, Allah kami, Engkau berkenan mengangkat Aegidius sampai tingkat kontemplasi yang tinggi. Berkat pengantaraannya, anugerahkanlah supaya kami selalu dapat mengarahkan tingkah laku kami kepada-Mu dan memperoleh kedamaian yang mengatasi segala pengertian. Kami mohon ini dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus, yang hidup dan bertakhta bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah yang Esa, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Tuhanlah bagianku dan Dia baik terhadap jiwa yang mencari-Nya, Alleluya.

KIDUNG MARIA
Antifon: Tuhan bersabda: “Tak seorang pun dari kalian dapat menjadi murid-Ku, bila tidak melepaskan segala kekayaannya, Alleluya”.


(Diterjemahkan oleh Alfons S. Suhardi OFM, dari “Proper Offices of Franciscan Saints and Blesseds in the Liturgy of the Hours”, Puclished by the English-Speaking Conference of the Order of Friars Minor, 1977, hlm 69-71)