16 Januari

30/01/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 582 kali

[Index Kalender Fransiskan]

16 JANUARI
SANTO BERARDUS DAN KAWAN-KAWANNYA
IMAM DAN MARTIR PERTAMA, ORDO I
(PW)

berardus-ofm-dkk-protomartir

Pengikut S. Fransiskus, Berardus dan kawan-kawannya berangkat ke Spanyol untuk mewartakan Injil kepada kaum Muslimin. Kemudian dalam tahun 1219 mereka pergi ke Maroko. Karena tekun dan tabah mewartakan Injil, mereka ditangkap dan dianiaya dan kemudian dipenggal kepalanya dalam tahun 1220. Mereka adalah martir-martir pertama Ordo Saudara Dina. Kemartiran mereka besar dampaknya bagi S. Antonius untuk menentukan pilihannya menjadi pengikut S. Fransiskus.

Rumus umum Beberapa Martir, Ibadat Harian hlm 878, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari Kronik para Minister Jendral.
Segala sesuatu kuremehkan demi Kristus.

Seturut kehendak Allah, S. Fransiskus mengutus enam saudara pilihan ke kerajaan Maroko, untuk dengan tabah mewartakan iman Katolik kepada kaum Muslimin. Ketika mereka tiba di kerajaan Aragon, saudara Vitalis jatuh sakit parah. Dilihatnya bahwa sakitnya itu berkepanjangan. Karena tidak mau merintangi utusan mereka oleh sakitnya itu, maka ia menyuruh kelima saudara lainnya untuk terus pergi ke Maroko, memenuhi perintah Allah dan bapa Fransiskus. Saudara-saudara yang suci itu setuju. Dan setelah meninggalkan saudara Vitalis yang sakit itu di sana, mereka menruskan perjalanannya ke Coimbria. Dari sana, dengan melepas jubah, mereka tiba di Sevilla, yang waktu itu merupakan kota kaum Sarasin. Pada suatu hari, dikobarkan oleh Roh, mereka datang ke masjid, tempat ibadah kaum Sarasin. Ketika mereka hendak masuk, kaum Sarasin marah hebat, menyerang dengan teriakan, dorong-mendorong dan pukulan dan sama sekali tidak mengizinkan mereka masuk ke dalam masjid. Akhirnya mereka sampai ke pintu gerbang istana. Mereka menghadap Sultan seakan-akan diutus sebagai duta Raja diraja Yesus Kristus. Ketika mereka mengemukakan banyak hal tentang iman Katolik kepada Sultan seraya mendesaknya untuk bertobat dan menerima baptis, maka Sultan menjadi sangat marah. Ia menyuruh supaya kepala mereka dipenggal. Tetapi kemudian, setelah Sultan mendapat nasehat para tua-tua, mereka lalu dikirim ke Maroko, sesuai dengan keinginan para saudara itu sendiri. Setelah tiba di sana, mereka segera mulai berkotbah di pasar, di depan kaum Sarasin. Ketika raja mendengar hal itu, ia menyuruh orang menjebloskan mereka ke dalam penjara, di mana mereka ditawan tanpa makan dan minum dua puluh hari, hanya disegarkan oleh hiburan Ilahi. Lalu si penguasa menyuruh supaya mereka dihadapkan kepadanya. Ketika didapatinya bahwa mereka itu mengakui iman Katolik dengan teguh, maka terbakar oleh amarahnya yang hebat, Sultan menyuruh menyiksa mereka dengan pelbagai cara dan menyesah mereka dengan hebatnya di tempat yang terpisah-pisah. Maka algojo-algojo yang bengis lalu mengikat tangan dan kaki serta mengalungi leher suci mereka dengan tali kemudian meyeret mereka kian kemari di tanah sambil memukuli mereka dengan kejam sampai usus mereka nyaris keluar. Di atas luka-lukanya dipecahkan botol-botol berisi minyak panas dan cuka; pecahan-pecahan botol itu disebarkan di atas tanah, lalu orang-orang suci itu dilemparkan dan digulingkan di atasnya. Demikianlah mereka sepanjang malam disiksa dan didera dengan hebatnya, sambil terus dijaga oleh lebih dari tiga puluh orang Sarasin. Adapun raja Maroko berkobar-kobar murkanya; ia menyuruh supaya para saudara itu dibawa ke hadapannya. Dengan tangan terikat dan dilucuti segala pakaiannya dan tanpa alas kaki, orang-orang suci yang berlumuran darah akibat deraan serta pukulan terus-menerus itu diseret ke hadapan raja. Ketika raja melihat mereka dan mendapati mereka amat teguh imannya, lalu ia pun mendatangkan beberapa wanita. Setelah orang-orang lainnya disuruh meninggalkan tempat itu, raja berkata: “Jika kamu bertobat kepada iman kami, kamu akan kuberi wanita-wanita itu dan uang banyak; dan kamu pun akan dihormati di dalam kerajaanku.” Tetapi, orang-orang suci itu menjawab: “Wanita-wanita dan uang baginda tidak kami inginkan! Semuanya itu kami remehkan, demi Kristus.” Maka raja pun marah, lalu mengambil pedangnya, dan satu per satu membelah kepala mereka. Waktu itu tiga bilah pedang patah. Demikianlah raja membunuh mereka dengan tangannya sendiri, dengan kekejaman binatang.

LAGU BERGILIR
P: Orang-orang kudus Allah tidak gentar akan pukulan algojo; mereka mati demi Kristus. U: Untuk menjadi ahli waris di dalam rumah Tuhan. P: Mereka menyerahkan tubuh mereka kepada siksaan demi Tuhan. U: Untuk menjadi ahli waris di dalam rumah Tuhan.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah menguduskan permulaan Ordo Saudara Dina dengan kemartiran mulia S. Berardus dan kawan-kawannya; perkenankanlah, supaya seperti mereka, yang tidak segan-segan mati untuk-Mu, kami pun mendapat kekuatan untuk hidup teguh dalam pengakuan iman-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Berkat rahmat dan belas kasih-Nya, kita telah dikuduskan oleh Surya pagi dari tempat yang tinggi; dan oleh martir-martir yang kudus. Ia telah menerangi orang-orang yang berdiam dalam kegelapan dan dalam naungan maut.

KIDUNG MARIA
Antifon: Orang-orang Kudus telah tertumpah darahnya untuk Kristus; mereka mengasihi Kristus di dalam hidup mereka dan telah mengikuti Kristus sampai kematiannya, dan oleh karena itu mereka patut menerima mahkota kejayaan.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM