14 November

10/10/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 510 kali

[Index Kalender Fransiskan]

14 November
Santo Nikolau Tavelic dan kawan-kawannya
Imam, Ordo I
(PFak.)

14-nikolaus-tavelic1

Nikolaus dilahirkan di Sibenik, Kroasia, sekitar tahun 1340. Mula-mula, bersama bruder Deodatus, ia berkhotbah di Bosnia. Dalam tahun 1384, karena ingin menjadi Martir, keduanya pergi ke Palestina. Bersama sdr. Petrus dan Stefanus ia menyiapkan khotbah membela iman katolik yang kemudian mereka utarakan di depan kadi Yerusalem, dalam tahun 1391. Mereka disuruh mencabut kembali pengajarannya, tetapi mereka menolak. Maka mereka dibelenggu, tubuhya dipotong-potong. Jenasahnya dibakar pada tahun 1391.

Rumus Umum Beberapa Martir, Ibadat Harian hlm 878, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II

Pembacaan dari kisah kemartiran Santo Nikolaus dan kawan-kawannya, oleh orang yang sezaman.
Kami bersedia menanggung aniaya apa pun demi iman Katolik.

Nikolaus dan kawan-kawannya berembuk bersama-sama secara mendalam, bagaimana mereka dapat merebut bagi Allah, jiwa-jiwa yang terus-menerus coba direbut setan. Mereka juga berunding bagaimana mereka dapat mempersembahkan hasil yang melimpah kepada Allah yang mahatinggi di Yerusalem, tanah suci itu. Mereka dibantu oleh nasehat yang berguna dari beberapa ahli teologi dan saudara yang pandai setempat; mereka juga dilengkapi dengan argumen-argumen dari Kitab Suci dan tafsiran-tafsiran yang dapat dipercaya, yang telah mereka baca di pelbagai tempat. Demikianlah mereka melepaskan segala ketakutan; dan diperkuat dalam Tuhan, bagaimana setiap orang kristiani dapat melawan orang-orang bersemangat duniawi, dengan hasil yang besar. Akhirnya pada tanggal 11 November 1391, pada pesta Santo Martinus, sekitar jam sembilan pagi, dengan langkah teratur, mereka mulai melaksanakan apa yang telah mereka rencanakan. Masing-masing membawa satu naskah atau gulungan kitab dalam bahasa Italia atau bahasa Arab. Mereka pergi bersama-sama ke bait suci Salomon, tetapi ketika akan memasukinya, mereka dicegah. Setibanya di rumah kadi, mereka langsung membuka gulungan tadi, dan membacakannya di hadapannya. Kemudian hakim itu berkata kepada keempat saudara tersebut: “Apa yang baru saja kalian ucapkan, apakah kalian katakan sebagai orang bijak dan sadar sepenuhnya, ataukah sebagai orang dungu, kurang tahu dan kerasukan? Adakah kalian diutus oleh Paus atau oleh seorang raja kristiani?” Maka jawab saudara-saudara dengan arif dan hati-hati, dengan semangat iman yang teguh dan dengan penuh gairah serta keinginan yang bernyala-nyala akan keselamatannya: Kami tidak diutus oleh manusia mana pun, melainkan oleh Allah sendiri. Dialah yang telah mengilhami kami untuk mewartakan kebenaran dan keselamatan kepada anda, sebab Kristus berkata dalam Injil: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatakan, tetapi siapa yang tidak percaya, akan dihukum” (Mrk 16:16). Maka kadi bertanya kepada mereka: “Maukah kalian menarik kembali semuanya itu, dan menjadi Sarasin dan luput dari maut? Sebab, jika tidak, kalian harus mati!” Jawab mereka dengan tegas: “Kami sama sekali tidak akan menarik kembali kata-kata tersebut; bahkan kami rela dan lebih suka mati dan menanggung segala aniaya demi kebenaran dan iman katolik. Karena semua yang telah kami katakan adalah kudus, katolik dan benar.” Mendengar itu, kadi dan dewan penasihatnya menjatuhkan hukuman mati. Baru saja keputusan hukuman mati itu dijatuhkan, semua orang Sarasin yang hadir serentak menyerbu dengan teriakan keras, dan berkata: “Bunuh mereka! Bunuh mereka!” Lalu martir-martir itu dipukuli dengan benda apa saja, sehingga mereka pingsan dan rebah ke tanah. Semuanya itu terjadi pada jam tiga siang. Karena teriakan gerombolan itu, mereka lalu tinggal di situ hingga tengah malam. Sekitar tengah malam, kadi menyuruh supaya mereka ditelanjangi dan diikat pada tiang-tiang, lalu dicambuki dengan bengis, sehingga mereka samasekali tidak dapat mengaso atau beristirahat sedikit pun, tetapi terus merasakan siksaan yang amat kejam itu.

Pada hari ketiga mereka dibawa ke tempat yang biasa digunakan untuk menghukum para penjahat. Di hadapan panglima dan kadi serta sepasukan tentara Sarasin yang siap dengan pedang terhunus, sementara dapur api terus dipanaskan semakin hebat, sekali lagi mereka ditanyai, apakah mereka mau menarik kembali perkataan mereka dan sanggup menjadi Sarasin, agar luput dari maut. Tetapi mereka menjawab: “Inilah yang kami kehendaki, yaitu kami mau mewartakan kepada kalian, supaya kalian bertobat kepada iman kristiani dan mau dibaptis! Ketahuilah, bahwa demi Kristus dan iman kepada-Nya, kami tidak gentar menghadapi api dan maut sementara.” Mendengar hal itu, kaum Sarasin yang berdiri di situ, sangat marah dan serentak menyerbu mereka, memotong-motong tubuh mereka, sehingga tidak berupa manusia lagi. Lalu tubuh yang sudah terpotong-potong itu dilemparkan ke dalam api; kendati demikian, tubuh mereka tidak sampai terbakar. Dan sepanjang hari, orang banyak terus berdiri di situ untuk mengamat-amati dan melemparkan kayu bakar ke dalam api, hingga malam. Abunya ditaburkan dan sisa-sisa tulang belulang mereka disembunyikan agar jangan sampai ditemukan umat Kristiani.

LAGU BERGILIR
P:
Darah orang-orang kudus tertumpah demi Tuhan; mereka mengasihi Kristus dalam hidup mereka, dan mengikuti Dia dalam kematian-Nya, * karena itu mereka memperoleh mahkota kejayaan. U: Darah. P: Satu Roh dan satu iman ada pada mereka. U: Karena itu.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah membuat Santo Nikolaus dan kawan-kawannya mewartakan iman dengan giat, dan oleh karenanya memperoleh palma kemartiran yang mulia. Kami mohon, berilah supaya karena teladan dan pengantaraan mereka, dan dengan menempuh jalan perintah-perintah-Mu kami patut mendapat anugerah hidup kekal. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Karena imannya, orang-orang kudus telah mememangkan kerajaan Allah, melakukan kebenaran dan memperoleh janji-janji dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

KIDUNG MARIA
Antifon: Jiwa orang-orang jujur ada dalam tangan Allah, dan tiada siksaan maut dapat mengusik mereka.

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM