14 Juli

08/03/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 538 kali

[Index Kalender Fransiskan]

14 JULI
SANTO FRANSISKUS SOLANUS
IMAM, ORDO I
(PFAK)

fransiskus-solano-1

Fransiskus Solanus dilahirkan di Andalusia, Spanyol, pada tahun 1549. Ia masuk Ordo Saudara Dina dan ditahbiskan menjadi imam. Setelah beberapa lama berkotbah dengan banyak hasil di negerinya, maka terdorong oleh semangat misionernya ia pergi ke Amerika Selatan. Ia berkarya di Tukuman dan Peru, terutama di kalangan suku Indian, yang dibelanya terhadap kaum penindas. Karena ulah tapa yang keras dan jerih payahnya yang tak kenal lelah, ia kehabisan tenaga dan meninggal pada tahun 1610.

Rumus umum Gembala Umat, Ibadat Harian hlm908, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari riwayat hidup Santo Fransiskus Solanus, yang ditulis oleh seorang yang sezaman.
Allah jiwaku, betapa manisnya Engkau: dimuliakanlah Engkau.

Seluruh kehidupan hamba Allah, Fransiskus Solanus, merupakan salib dan kemartiran. Namun, untuk memperoleh janji-janji Ilahi sebagai ganjaran untuk kesabaran Kristiani, selama dua bulan sebelum meninggal ia mesti merasakan sakit yang lebih hebat, ditambah demam keras yang memaksa dia berbaring sepenuhnya di tempat tidur.

Tiada kelemahan satu pun dapat mencegah dia dari berdoa. Tetapi selama hari-hari terakhir, kontemplasinya membubung begitu tinggi, sehingga seakan-akan ia selalu tinggal di antara para malaikat, sampai melupakan keperluan-keperluan tubuhnya. Maka orang mengira, – dan ini menurut pendapat para dokter berpengalaman – bahwa hidupnya diperpanjang begitu lama oleh sebuah mukjizat. Doa singkat yang amat disayanginya ialah: “Dimuliakanlah Allah!” atau doa singkat semacam itu, yang diselang-selinginya dengan amat mesra. Kadang-kadang ia minta didaraskan mazmur “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” dan “Luhurkanlah Tuhan, hai hatiku” (Mzm 146:1; 103). Dan dalam pada itu hatinya terasa luluh oleh keharuan yang tak terhingga. Ia pun ingin dibacakan petikan Injil Yohanes: “Sebelum hari raya Paskah mulai” (Yoh 13:1). Pada petikan itu, khususnya pada kisah penyaliban, ia tercekam secara luar biasa dan mulai berbicara dengan Kristus yang menderita. Ia pun bersyukur kepada-Nya dan memuliakan kebaikan hati serta kerahiman-Nya yang dicurahkan kepada dia, orang yang berdosa itu. Juga dalam madah-madah akan kehormatan Santa Perawan, ia amat terhibur, dan dengan merenungkan madah-madah itu hatinya dicurahi kegembiraan dan sukacita. Ia pernah berkata kepada bapa pengakuannya: “Pater, bantulah saya mewartakan pujian Allah”, dan segera menyambung: “Ya Allahku, Engkau Penciptaku, Rajaku, Bapaku, Kenikmatanku dan segala hartaku”. Dan setelah berkata demikian, ia pun dipenuhi nyala cinta kasih Ilahi, sehingga jiwanya berpaling ke dalam dan dirasuki kesukaan rohani, sementara indranya tak bergerak dan tubuhnya ditinggalkan laksana batu pualam.

Lima hari sebelum ajalnya tiba, ia berkata kepada saudara Yohanes Gomes, yang mengurus perawatan orang sakita: “Kau lihatkah kerahiman besar Allah kepadaku? Tuhan mendukung aku dengan kekuatan besar untuk mengalahkan dan memenangkan musuh!” Tiga hari sebelum ajalnya ia memandang biarawan yang melayaninya itu, dan seraya mencucurkan air mata, ia mengesah: “Mana bisa, Yesus Tuhanku, Engkau sendiri telah disalibkan, sedangkan aku sendiri dibantu dengan pelayan hamba-hamba-Mu! Engkau telanjang bulat, sedangkan aku diselimuti; Engkau ditampar dan dimahkotai duri, sedangkan aku ditimbuni kebaikan sebanyak ini dan dihibur dengan pemberian-pemberian!” Keesokan harinya, di depan banyak saudara yang hadir ia berseru: “Ya Allah jiwaku, dimuliakanlah kiranya Engkau. Betapa besar perkenanan-Mu terhadapku. Aku bersukacita bahwa Engkauitu Allah. Betapa manisnya Engkau!”

Malam menjelang berpulangnya ia tercekam ekstase yang mendalam sehingga menurut pendapat semua yang hadir, ia sudah meninggal; tetapi kemudian ia sadar kembali dan berseru: “Aku bersukacita, bahwa telah dikatakan kepadaku: kita akan pergi ke Rumah Tuhan!” Sejak saat itu sampai ajalnya tampaklah wajahnya berseri-seri karena sukacita, keriangan dan keindahan. Dan jiwanya yang bergembira atas kebahagiaan yang telah dijanjikan kepadanya, menunjukkan tanda-tanda sukacita. Ketika seorang saudara berkata kepadanya: “Karena tidak lama lagi Pater segera diangkat Allah ke surga, ingatlah akan daku, bila Pater sudah sampai ke kerajaan abadi”, ia pun menyahut dengan riang: “Memang demikianlah, aku akan pergi ke surga, tetapi hal ini terjadi berkat pahala sengsara dan wafat Kristus, sebab aku ini adalah pendosa yang amat besar. Apabila aku sudah berlabuh di rumah Bapa, maka aku akan menjadi sahabat yang baik bagimu.”

LAGU BERGILIR
P: Kepadaku yang paling hina di antara segala orang kudus ini telah dianugerahkan kasih-karunia untuk memberitakan kepada bangsa-bangsa, kekayaan Kristus yang tidak terduga itu. U: Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan berkat iman kita kepada-Nya. P: Bahwasanya para bangsa turut menjadi ahli-ahli waris serta anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji-janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. U: Di dalam Dia kita ….

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah menghantar banyak bangsa Amerika ke dalam pangkuan Gereja, dengan perantaraan Santo Fransiskus Solanus; satukanlah hati kami dalam cintakasih dengan Dikau karena pahala dan doanya, dan curahkanlah dengan murah hati ke dalam bangsa-bangsa yang belum mengenal Engkau, ketakutan akan Nama-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan dagingnya beserta segala hawa nafsu dan keinginannya. Jika kita hidup oleh roh, baiklah hidup kita pun dipimpin oleh Roh (Gal 5:24).

KIDUNG MARIA
Antifon: Ia melangkah dalam damai sejahtera dan kejujuran, dan banyak orang dibuatnya berbalik dari kejahatan.


Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM