13 November

10/10/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 464 kali

[Index Kalender Fransiskan]

13 November
Santo Didakus Dari Alkala
Biarawan, Ordo I
(PFak)

13-didakus-dari-alcala

Didakus dilahirkan di Alkala, Spanyol, dalam tahun 1410. Di masa mudanya ia menjadi pertapa, yang berdoa dan bekerja. Kemudian ia menjadi fransiskan, berkarya di kepulauan Kanari, malah menjadi pemimpin setempat di sana. Selama tinggal di Roma ia merawat korban wabah pes dan menyembuhkan sementara orang dengan doanya. Kembali ke Spanyol ia meninggal pada tahun 1463.

Rumus Umum Pria Kudus dan Biarawan, Ibadat Harian hlm 936 dan 853, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari bula peresmian Didakus menjadi Santo.
Orang yang bodoh di dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan orang bijak.

Kristus Tuhan, Raja sekalian raja sebelum segala abad, ketika sudah genap waktunya, telah mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp 2:7) demi keselamatan bangsa manausia yang binasa. Dengan darah-Nya yang mulia, ia memperoleh bagi diri-Nya, Gereja yang terkasih dan satu-satunya: Ia membangunnya di atas kepala para rasul, Santo Petrus, yang diberi-Nya kekuatan laksana batu wadas, sementara Ia sendiri adalah batu sendinya. Ia membangunkannya sejak awal iman Kristiani, dan selalu membangunkannya terus selama segala masa, sampai akhir zaman.

Kebijaksanaan dunia yang angkuh sama sekali tidak memahami karya seni Ilahi bangunan yang mengagumkan ini; demikian pula kearifan duniawi dan insani, tidak menangkapnya; tetapi setan dengan tipu muslihat dan keangkuhannya, gemetar. Namun justru dari orang-orang kebanyakan yang miskin dan hina dina, keturunan dari kalangan rendah dan tak terkemuka, yang tak terdidik dalam ilmu, tanpa kefasihan berbicara, tanpa perlindungan kekuasaan insani bagaikan batu-batu yang terbuang dan tak berharga itu, didirikanlah suatu bangunan besar, yang begitu indah, begitu kuat dan begitu kokoh, menjulang tinggi begitu perkasa, sehingga pintu gerbang neraka pun gentar terhadap kekuatan dan kekokohannya.

Tetapi jalan Allah bukanlah jalan manusia dan rancangan-Nya bukanlah rancangan mereka (bdk. Yes 55:8). Maka itu tidak banyak orang yang bijak menurut ukuran manusia, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang; tetapi apa yang bodoh bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah (1 Kor 1:26-29).

Demikianlah Allah yang Mahakuasa telah menyelamatkan mereka yang percaya, oleh batu sandungan salib dan oleh kebodohan pewartaan. Demikian pula sejak kelahiran Gereja, Ia telah membungkam kearifan kaum Yunani dan menghempas kekuasaan kaum kufur, oleh kekurang fasihan bicara para Rasul dan oleh ketak-berdayaan para martir. Demikianlah, dalam peredaran zaman, dengan kekuatan tangan-Nya, Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang kudus-Nya yang rendah (bdk. Luk 1:52). Maka dari itu, di abad yang lampau, yang masih cukup dekat dengan generasi yang sebelum kita, Allah memilih dari kalangan saudara-saudara Bapa kita Santo Fransiskus, seorang bruder, yaitu Santo Didakus, orang Spanyol yang bersahaja itu. Ia tidak menonjol karena pengetahuannya, seperti para guru dan para pemimpin kita yang semula. Ia tidak dilengkapi dengan ilmu yang diperoleh lewat usaha insani; ia tidak terpelajar; ia seorang anggota ordo yang bukan imam, tetapi di dalam dia Allah telah menunjukkan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah (Ef 2:7).

Teladan kesuciannya yang mengagumkan itu menghantar orang ke jalan keselamatan dan membuktikan kepada dunia yang makin lama makin lemah karena tua renta, bahwa “yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia, dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia” (1 Kor 1:25). Karena itu Bapa segala kerahiman, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri (Mzm 72:18), telah menghias hamba yang kecil dan bersahaja itu dengan anugerah-anugerah surgawi dengan begitu berlimpah-limpah, dan menyalakannya dengan api Roh Kudus. Allah telah mengulurkan tangan-Nya secara ajaib lewat penyembuhan-penyembuhan luar biasa berkat pengantaraan santo Didakus, yang terjadi sebelum dan sesudah ajalnya, sehingga orang kudus ini tidak hanya terkenal namanya di kalangannya sendiri, tetapi meluas jauh melampaui batas-batas negerinya.

LAGU BERGILIR
P: Oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah, bukan oleh hikmat duniawi, * tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah kita hidup di dunia ini. U: Oleh ketulusan. P: Inilah yang kami megahkan, yaitu kesaksian suara hati kami. U: Tetapi.

DOA PENUTUP
Allah yang mahakuasa dan kekal, dengan cara yang ajaib Engkau memilih yang lemah di dunia ini, untuk mempermalukannya semua yang kuat; perkenankanlah dengan rela, supaya dengan meneladan kesederhanaan Santo Didakus di bumi ini, kami dapat ditinggikan bersama dia dalam kemuliaan kekal di surga. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Terpujilah Allah yang telah memilih kita, supaya kita kudus dan tak bercela dalam kasih.

KIDUNG MARIA
Antifon: Oleh Allah, Kristus telah menjadi hikmat bagi kita; Ia membenarkan dan menguduskan serta menebus kita. Karena itu, seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM