10 Oktober

06/09/2011
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 488 kali

[Index Kalender Fransiskan]

10 OKTOBER
SANTO DANIEL DAN KAWAN-KAWANNYA
MARTIR, ORDO I
(PFAK)

Dalam tahun 1227, tujuh saudara dina bertolak ke Marokko untuk mewartakan Injil. Mula-mula mereka mewartakan Injil di kalangan saudagar Italia; tetapi kemudia mereka turun ke jalan-jalan, ke tengah orang Muslim. Mereka ditangkap, dan karena setia kepada iman, mereka dianiaya hingga tewas sebagai martir.

Rumus Umum Para Martir, Ibadat Harian hlm 878, kecuali:

BACAAN I

Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari kisah kemartiran mereka dalam laporan dari zaman itu.
Tuhan menuntun jalan kita untuk kemuliaan-Nya dan untuk keselamatan kaum beriman.
Saudara Daniel, mantan provinsial Kalabaria, Italia Selatan, orang yang bijaksana dan arif, bersama dengan enam saudara yang penuh bakti kepada Allah, berkobar-kobar semangatnya dan dengan segenap kekuatan batinnya mendambakan keselamatan kaum Sarasin. Karena itu, mereka tidak gentar mempertaruhkan nyawa, asal dapat mempersembahkan buah karya yang mereka inginkan itu kepada Allah. Maka, pada suatu haru Jumat mereka berbincang-bincang tentang keselamatan jiwa mereka sendiri serta orang-orang lain. Pada hari Sabtu berikutnya, mereka mengaku dosa pada saudara Daniel dan menyambut Ekaristi kudus dengan sangat khidmatnya dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan senjata itulah, pada hari Minggunya, pagi-pagi, para satria Kristus itu memulai perjuangannya. Mereka menaburi kepalanya dengan abu, lalu masuk kota dengan diam-diam; setelah sampai ke tengah-tengah kota, dan dikuatkan oleh daya Roh Kudus, mereka mewartakan nama Tuhan tanpa takut sambil berlarian di tengah kota; dan dengan lantang mereka menyerukan di lapangan-lapangan kota bahwa tidak ada keselamatan yang benar di luar nama-Nya. Laksana api, sabda ilahi berkobar-kobar dalam hati mereka masing-masing; dan seakan-akan mau jatuh pingsan, mereka tak mampu menahan kemanisan kasih Ilahi yang begitu besar itu. Kaum Sarasin memukuli kepala mereka, mencerca dan mencambuki mereka. Akhirnya mereka ditangkap dan dihadapkan kepada raja. Mereka diperiksa dengan bantuan juru bahasa. Bagaikan kerasukan Roh Kudus, mereka menyatakan nama Tuhan. Raja dan seisi istana menertawakan mereka sebagai orang gila. Akhirnya raja menyuruh orang menjebloskan mereka ke dalam penjara dan membelenggu mereka.

Dari dalam penjara saudara-saudara suci itu menulis surat dengan cucuran air mata kepada tuan Hugo, imam kepala jemaat di Genoa, serta kepada dua saudara, yaitu yang satu dari Ordo Saudara Dina dan yang lain dari Ordo para Pengkhotbah, yang waktu itu datang dari pusat kerajaan Sarasin; juga kepada umat Kristiani lainnya di Ceuta, yang bunyinya: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belaskasihan dan Allah sumber segala penghiburan. Ia menghibur kami dalam segala penderitaan (2Kor 1:3). Tuhan menyediakan hewan untuk kurban bakaran bagi bapa bangsa Abraham. Karena perintah Tuhan ia pun pergi dari negerinya tanpa mengetahui ke mana mesti pergi. Maka hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran dan ia pun disebut sahabat Allah (bdk. Yak 2:23). Demikianlah, orang yang bijaksana hendaknya menjadi bodoh untuk sungguh menjadi orang bijaksana, karena kebijaksanaan dunia ini adalah kebodohan di hadapan Allah.” (1Kor 3:19).

Hendaklah kalian maklum, bahwa Tuhan Yesus Kristus yang telah menderita untuk kita, telah berkata: “Pergilah, wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15); dan lagi: “Seseorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya”; dan “Jikalau mereka telah menganiaya aku, mereka pun akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Ia telah memimpin langkah-langkah kita pada jalan-Nya, untuk pujian-Nya serta untuk keselamatan kaum beriman dan kehormatan umat Kristiani; juga bagi kematian serta hukuman orang tak beriman, sebagaimana dikatakan sang rasul: “Bagi Allah, kami adalah bau yang harum dari Kristus (2Kor 2:15); bagi yang satu bau kehidupan yang menghidupkan dan bagi yang lain, bau kematian yang mematikan (2Kor 2:16). Sebab Kristus berkata: “Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka” (Yoh 15:22). Karena itu, nama Kristus telah kami wartakan di hadapan raja dan dinyatakan bahwa dalam nama lain tidak ada keselamatan; dan hal itu telah dibuktikan dengan alasan-alasan yang hidup dengan bantuan seorang juru bahasa, di hadapan orang-orang bijaknya. Maka itu: “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa! (1Tim 1:17). Maka pada hari Minggu pagi tgl 10 Oktober, sementara kami yang lain-lain melakukan ibadat Ilahi, maka saudara-saudara itu dibawa dari penjara ke hadapan raja. Mereka ditanyai, apakah mereka menyesal karena telah mengatakan hal-hal semacam itu yang melawan hukum dan melawan Mohamad. Mereka menjawab tidak, dan sebaliknya malah mengukuhinya sambil menambahkan, bahwa tidak ada keselamatan bagi mereka dalam hukum yang dipegangnya itu dan bahwa mereka tidak dapat diselamatkan selain dibaptis dan percaya kepada iman akan Yesus Kristus. Dan demi Kristus itu, mereka bersedia mati. Lalu dengan bercucuran air mata, para satria Kristus yang tak terkalahkan itu ditelanjangi oleh kaki tangan setan; dan dengan tangan diikat pada punggung, mereka dibawa keluar dari istana raja, ke luar kota seraya menanggung kehinaan Kristus (bdk. Ibr 13:13) seperti anak domba digiring ke pembantaian. Mereka sendiri bergegas-gegas ke tempat pelaksanaan hukuman mati itu dengan hati riang dan gembira, seakan-akan diundang ke jamuan makan. Kemudian, setelah sampai di tempat pembunuhan, kepala mereka dipenggal oleh tangan orang-orang fasik, dan dengan kepala terpenggal serta berlumuran darah, mereka menyerahkan nyawanya kepada Tuhan.

LAGU BERGILIR
P: Orang-orang kudus menumpahkan darahnya bagi Tuhan; mereka mengasihi Kristus dalam hidupnya, dan mengikuti Dia juga dalam kematiannya. * Dan oleh karena itu patut mendapat mahkota kemenangan. U: Orang-orang kudus. P: Satu roh dan satu iman ada pada mereka. U: Dan oleh karena itu.

DOA PENUTUP
Allah yang mahakuasa, Engkau telah memperkenankan Santo Daniel dan kawan-kawannya menderita demi Kristus; berilah juga pertolongan ialhi-Mu kepada kami yang rapuh ini supaya sebagaimana mereka itu tidak segan-segan untuk mati bagi-Mu, kami pun dapat hidup teguh dalam pengakuan kepada-Mu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Saudara-saudara kita ini telah menderita sejenak namun mereka mendapat jaminan kehidupan kekal.

KIDUNG MARIA
Antifon: Mereka menang berkat darah Anak Domba, sebab sampai mati, mereka tidak mencintai nyawanya sendiri; karena itu, bersuka-citalah hai surga dan kamu semua yang berdiam di dalamnya.

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM