1 September

09/02/2012
Oleh   |  Tampilan Cetak Tampilan Cetak
Dilihat: 1.164 kali

[Index Kalender Fransiskan]

1 SEPTEMBER
SANTA BEATRIX DE SILVA
PERAWAN, ORDO II
(PFAK)

beatrix-dari-silva

Beatrix dilahirkan di Ceuta (Silva Septae, Afrika Utara) sekitar tahun 1426 dari keluarga Portugal. Selama beberapa tahun ia menjadi dayang-dayang di istana ratu Isabella. Karena iri hati rekan-rekannya, ia terpaksa meninggalkan istana. Tiga puluh tahun lamanya ia tinggal dalam sebuah biara di Toledo, tetapi bukan sebagai biarawati. Pada tahun 1484 ia mendirikan kongregasi “S.P. Maria yang dikandung dengan tak bernoda” atau “Konsepsionis”. Ia meninggal dalam tahun 1490, dan menjelang ajalnya akhirnya ia juga menerima kerudung Kongregasi yang didirikannya itu.

Rumus umum Para Perawan, Ibadat Harian hlm 926, kecuali:

BACAAN I
Lihat petunjuk Penanggalan Liturgi.

BACAAN II
Pembacaan dari sambutan Paus Paulus VI pada peresmian Beatrix de Silva menjadi santa.
Karena kasih, secara rohani bersatu dengan Kristus.

Kami tertegun dalam batin di depan sosok yang nyaris tidak teraba ini, seorang wanita berkerudung, yang karena selubung rahasia itu malah lebih mengesankan. Mungkinkah wanita ini, yang dalam batin jauh dari dunia para satria, pangeran dan pendayang, meski ia sendiri berasal dari kalangan tersebut, menyampaikan pesan tertentu bagi dunia modern? Pesan Santa Beatrix tentu saja nampak di dalam wakaf (yayasan)nya, yaitu tarekat Konsepsionis, yang lahir di dalam hatinya yang penuh oleh kasih kepada Allah. Kehadiran tarekatnya membuktikan kehadirannya yang melimpah di dalam Gereja, – suatu kehadiran yang mencolok karena kewajiban berulah-tapa dan bermenung dalam kontemplasi. Berkaitan dengan ini tepatlah kiranya ungkapan yang jelas-jelas Fransiskan di dalam anggaran dasarnya, yaitu: “Para suster hendaklah dengan sungguh-sungguh memperhatikan, supaya mereka pertama-tama berusaha memperoleh Roh Tuhan serta pekerjaann-Nya yang kudus dengan hati yang murni dengan doa yang bersahaja, memurnikan suara hati mereka dari keinginan duniawi dan dari kesia-siaan dunia ini, dan oleh karena kasih, bersatu dengan Kristus, Pengantin mereka.” Manusia modern terserap oleh media massa ke dalam kisaran aneka ragam kesan-kesan inderawi. Bukankah kehadiran jiwa-jiwa yang berdiam dan berjaga ini, yang tertuju langsung kepada realita yang tak kelihatan, merupakan – bagi manusia modern – suatu tanda dari penyelenggaraan ilahi agar manusia tidak kehilangan matra sejati dari hakikatnya, yaitu panggilan untuk mengarahkan perhatiannya ke dalam luasnya Allah yang tak terbatas? Masih ada pesan kedua, yang mendekatkan Santa Beatrix dengan pengalaman kita, dan yang membuat kesaksiannya menjadi amat aktual bagi kita. Kita hidup dalam masyarakat yang permisif, yang rupanya membolehkan apa saja dan rupanya tidak lagi mengenal pembatasan-pembatasan. Akibat-akibatnya nampak jelas di depan mata kita, yaitu meluasnya kebiasaan-kebiasaan buruk atas nama kebebasan yang difahami secara salah, yang tidak lagi mengindahkan protes orang-orang yang lurus hati dan jujur yang merasa tersinggung, suatu kebebasan yang mengejek serta menginjak nilai-nilai, seperti: harga diri, rasa malu, martabat manusia, hak orang lain; pokoknya yang mendasari hidup bermasyarakat yang teratur. Nah, Masyarakat bangsawan dari masa Renesans, dunia istana-istana para pangeran, sebagaimana digambarkan dokumen-dokumen zaman itu, menampilkan, – selain kekecualian-kekecualian yang termasyhur, – juga banyak sekali gambaran umum yang rupa-rupanya memantulkan pengalaman-pengalaman tertentu zaman modern kita. Itulah lingkungan, dimana Santa Beatrix mematangkan keputusan hidupnya. Segera setelah menyadari bahwa kecantikannya yang istimewa menimbuilkan hawa nafsu kurang baik dalam lingkungannya, maka bangsawati muda yang bagaikan bunga yang tumbuh di tanah berlumpur dan yang menampilkan kuntumnya yang utuh untuk menerima sinar pertama matahari itu, segera meninggalkan hiruk pikuk kesibukan istana, – demikian dikisahkan oleh biografinya yang pertama – ia meninggalkan hiruk pikuk kesibukan istana bagaikan pengungsi dari Mesir, untuk menerima hukum keselamatan; dan setelah pengungsian itu dijalaninya, ia lalu menginjakkan kakinya di tanah terjanji pada orang kudus”. Untuk itu ia mengarahkan keputusannya akan tetap menjadi perawan. Di dalam riwayat hidupnya, dikatakan: “Menyadari bahwa kecantikan yang dimiliki itu berasal dari Tuhan, ia lalu memutuskan bahwa seumur hidupnya, pria dan wanita mana pun tidak akan melihat wajahnya.” Dapatkah sikap itu dianggap berlebih-lebihan? Orang-orang Kudus selalu menaruh tantangan terhadap konformisme atas kebiasaan-kebiasaan kita, – yang sering dianggap bijaksana hanya karena menyenangkan. Radikalisme kesaksian mereka bertujuan menggoncang kelambanan kita, dan menuntut kita untuk menemukan kembali nilai ini atau itu yang terlupakan; misalnya, nilai kemurnian sebagai pengekang diri secara berani atas kecenderungan-kecenderungan kita; begitu juga nilai pengalaman akan Allah yang membahagiakan, dalam transparansi (tembusan) cahaya roh. Bukankah hal ini, bagi kita mausia masa kini, memiliki aktualitas yang mahabesar?

LAGU BERGILIR
P: Aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku * dan setelah itu Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. U: Aku suka dekat. P: Allah adalah gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. U: Dan setelah itu.

DOA PENUTUP
Ya Allah, Engkau telah menghias Santa Beatrix dengan devosi khusus kepada Santa Perawan yang tak bernoda; berilah, supaya karena pengantaraan serta teladannya, kami hidup tak bercela sedemikian rupa, sehingga dengan tetap terarah kepada hal-hal surgawi, kami boleh mendapat bagian dalam kemuliaan surgawi. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

KIDUNG ZAKARIA
Antifon: Sesungguhnya perawan yang bijaksana beralih kepada Kristus dan bercahaya di kalangan para perawan bagaikan matahari di angkasa raya.

KIDUNG MARIA
Antifon:
Marilah mempelai Kristus, terimalah mahkota yang telah disediakan Tuhan bagimu selama-lamanya.

Proprium ini disalin seperti apa adanya dari seri Perantau yang diterbitkan SEKAFI tahun 1989 – 1994 oleh P. Alfons Suhardi OFM